Gebyar Aman Calistung, Picu Patungan Orang Tua- Pacu Anak Giat Belajar LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Dua puluh ribu rupiah dari setiap peserta ternyata cukup untuk menghadirkan pengalaman belajar yang berarti bagi anak-anak. Melalui semangat patungan orang tua dan sekolah, sebanyak 24 siswa kelas I SD dari sejumlah sekolah di Lewoleba dan sekitarnya mengikuti Gebyar Aman Calistung di pelataran SDK Santo Don Bosco Lewoleba, Kabupaten Lembata, Minggu (9/8/2026). Kegiatan gebyar tersebut bukan sekadar perlombaan membaca, menulis, dan berhitung yang diikuti oleh anak-anak peserta, namun gagasan Penerbit Lembata G-Tukan Media Kupang itu dirancang untuk melatih keberanian, kemandirian, konsentrasi, daya juang dan kecintaan anak terhadap buku sejak dini. Gebyar Aman Calistung atau Anakku Mantap Baca, Tulis, Hitung yang dilakukan, mengusung tema “Bersama Perkuat Fondasi Dasar Pendidikan Anak Menuju Anak Lembata Cerdas Gemilang”. Kegiatan tersebut digelar dalam menyambut tahun ajaran baru 2026/2027 sekaligus memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan yang diprakarsai Gerardus Diri Tukan (Gerady Tukan) sejak 2014, yang berangkat dari gagasan sederhana yaitu membiasakan anak-anak dekat dengan buku dan mendorong mereka tekun belajar membaca, menulis, dan berhitung sejak dini. Kegiatan safari kelilin NTT itu sempat terhenti beberapa tahun sejak COVID-19, dan baru mulai dilakukan lagi dalam tahun 2025. Untuk tahun 2026, di kabupaten Lembata, Gebyar Aman Calistung dimulai dari Kota Lewoleba. Peserta yang menghadiri gebyar yang dilakukan ini berasal dari SDN Udak, SDK Santo Tarsisius atau SDK 1 Lewoleba, SD Inpres 1 Lewoleba, SDN Pada, SDK Santo Don Bosco, SD Inpres Merdeka, SDN Wangatoa, SDN Lamahora, dan SDK II Lewoleba. Buku Menjadi Pintu Masuk Sebelum mengikuti gebyar, setiap peserta memperoleh buku Ayo Kita Belajar. Buku tersebut disusun sebagai panduan belajar dasar bagi anak TK/PAUD dan kelas I SD, dengan materi mengenal dan menulis huruf, angka dan kata, melengkapi tabel angka, berhitung sederhana, hingga mewarnai. Materi yang diujikan dalam gebyar diambil dari buku tersebut. Dengan demikian, anak-anak memiliki kesempatan berlatih terlebih dahulu dari buku tersebut di rumah dengan pendampingan orang tua, kakak, maupun guru. Bagi penyelenggara, pemberian buku sebelum kegiatan bukan sekadar kelengkapan administrasi. Buku menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan belajar sekaligus mendekatkan anak dengan bahan bacaan. “Itu satu tindakan sengaja yang dilakukan untuk mengakrabkan anak dengan buku sejak dini, dan anak pun dilatih untuk siap diri sebelum mengikuti suatu kegiatan,” ujar Gerady saat membuka kegiatan, dan menjelaskan bahwa setiap peserta membayar biaya pendaftaran Rp 20.000. Biaya tersebut sudah termasuk buku Ayo Kita Belajar dan keikutsertaan dalam seluruh rangkaian kegiatan. Theresia Bunga Werang, guru kelas 1 SDK Santo Don Bosco Lewoleba, di sela-sela kegiatan Gebyar memberikan tanggapan terhadap buku Ayo Kita Belajar, bahwa buku tersebut sangat baik dan sesuai untuk membantu para guru kelas satu dalam mendampingi anak-anak pada tahap awal pembelajaran. Menurutnya, materi di dalam buku tersebut dapat membantu anak mengenal huruf, angka, kata, membaca, dan berhitung secara bertahap dari tingkat paling dasar. “Saya secara pribadi dan sebagai guru kelas 1 SD berpendapat bahwa buku Ayo Kita Belajar sangat bagus, cocok dan sangat membantu saya untuk mendampingi dan membimbing anak-anak kelas dasar agar dapat mahir huruf, angka, kata, membaca dan berhitung sejak dasar,” ungkap Theresia. Tak Menunggu Sponsor Sebelum mengumumkan hasil gebyar dan membagikan hadiah hiburan kepada semua anak peserta gebyar, Gerady mengatakan bahwa terselenggaranya kegiatan tersebut memperlihatkan satu kekuatan besar yakni masyarakat sebenarnya dapat menghadirkan kegiatan pendidikan melalui kekuatan bersama. Tidak harus selalu menunggu bantuan pemerintah, sponsor, atau dana proyek. Ia menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan sekolah yang telah bersedia bergotong royong mendukung kegiatan tersebut. “Kegiatan ini dapat kita laksanakan, dapat kita himpun anak-anak di sini untuk bersama mengalami satu pengalaman belajar yang lain, karena berkat dukungan dan patungan dari orang tua atau sekolah,” katanya. Menurut Gerady, kekuatan kegiatan justru terletak pada kebersamaan. Biaya yang relatif kecil dari masing-masing peserta dapat dikumpulkan menjadi sebuah kegiatan yang memberikan pengalaman belajar kepada banyak anak. “Tidak mungkin satu orang tua punya uang dua puluh ribu, lalu sendiri membuat acara begini dan mengundang serta menghadirkan kami semua untuk menonton anaknya memperlihatkan diri dan kebolehannya. Itu tidak mungkin,” ujarnya. Karena itu, ia mengajak masyarakat menumbuhkan budaya berswadaya dalam mendukung pendidikan anak. “Kita semua patungan dua puluh ribu rupiah, dan dengan dana patungan itu maka anak-anak bisa dapat buku untuk belajar siap di rumah, lalu mereka dibawa datang bersama di sini dan kita fasilitasi mereka untuk memancarkan cahayanya, dan kita saksikan bersama,” kata Gerady. Ia berharap masyarakat tidak terlalu bergantung pada kegiatan yang sepenuhnya dibiayai pihak lain. Ketika dana proyek tidak tersedia, menurut dia, masyarakat tetap dapat menciptakan kegiatan pendidikan sederhana dengan mengandalkan kekuatan bersama. Anak Dilatih Berani Tampil Gebyar berlangsung dalam beberapa tahapan. Pada awal kegiatan, seluruh peserta diajak bernyanyi sambil bergerak bersama. Aktivitas ini menjadi cara untuk mencairkan suasana sekaligus membangun keberanian anak sebelum memasuki kegiatan inti. Satu per satu peserta kemudian dipanggil maju ke depan tanpa didampingi orang tua atau guru. Mereka diminta menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, dan asal sekolah. Sesi tersebut menjadi latihan sederhana untuk berbicara di depan umum. Anak tidak hanya belajar memperkenalkan diri, tetapi juga dilatih mandiri dan mampu menyampaikan informasi secara teratur. Setelah itu, anak-anak mengambil sendiri perlengkapan yang mereka perlukan, seperti pensil, penghapus, serta papan alas tulis atau meja lipat. Mereka kemudian kembali ke arena dan berdiri berbaris. Bagi penyelenggara, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran. Anak dibiasakan mengetahui apa yang dibutuhkan dan mempersiapkan perlengkapannya sendiri sebelum mengikuti suatu kegiatan. 30 Menit Menaklukkan Soal Pada tahap inti, 24 peserta duduk berbaris di lantai. Panitia kemudian membagikan lembar soal yang berisi cuplikan materi dari buku Ayo Kita Belajar. Setiap anak peserta mengerjakan soal secara serempak dengan waktu maksimal 30 menit. Anak yang telah menyelesaikan pekerjaan diminta mengacungkan tangan, kemudian panitia mencatat waktu penyelesaian masing-masing peserta. Dalam kegiatan itu, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukan satu-satunya hal yang diuji. Anak juga ditantang berkonsentrasi, bekerja mandiri, bersikap serius, diasah jiwa juang menghadapi dan menyelesaikan tantangan, serta menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan. Sementara anak mengerjakan soal, orang tua dan guru menyaksikan dari sekitar arena. Anak-anak diberi ruang untuk menyelesaikan tugas tanpa bantuan langsung dari orang dewasa. Usai mengerjakan soal dalam waktu tempuh 30 menit, semua anak peserta berbaur dalam suasana gembira, bernyanyi bersama dalam dampingan guru-guru yang hadir. Anak-anak yang berasal dari sekolah berbeda, pun berbaur makan snack bersama, saling kejar dan menampakkan kegirangan setelah menempuh satu pekerjaan. Prisilia Jadi yang Tercepat Di antara 24 peserta, Prisilia Ene Gelalang, murid kelas I SD Inpres 1 Lewoleba, menjadi anak pertama yang menyelesaikan seluruh pekerjaan. Prisilia menuntaskan tugas dalam waktu 14 menit. Catatan waktu tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam pelaksanaan Gebyar Aman Calistung 2026. Namun, bagi penyelenggara, capaian terpenting kegiatan bukan semata-mata siapa yang paling cepat menyelesaikan soal. Gebyar dirancang sebagai ruang belajar agar anak berani tampil, terbiasa mandiri, mampu berkonsentrasi, mengenal buku, dan mempunyai pengalaman menyelesaikan tantangan tanpa selalu bergantung pada orang dewasa. Dari Lewoleba untuk Anak Lembata Bagi Penerbit Lembata G-Tukan Media Kupang, Gebyar Aman Calistung 2026 merupakan langkah awal untuk menghadirkan kegiatan serupa di Kabupaten Lembata. Gerady dan tim berharap pengalaman yang diperoleh anak-anak selama kegiatan tidak berhenti di arena gebyar. Anak-anak diharapkan membawa kembali kebiasaan membaca, menulis, berhitung, dan belajar menggunakan buku ke rumah dan sekolah. Para peserta juga diharapkan menjadi pembawa kabar kepada teman-temannya sehingga semakin banyak anak tertarik membaca dan belajar. Penyelenggara membuka kemungkinan menggelar kegiatan serupa dengan melibatkan lebih banyak peserta dari sekolah-sekolah lain di Lembata. Pada akhirnya, Gebyar Aman Calistung bukan sekadar tentang siapa yang tercepat membaca, menulis, berhitung, atau menyelesaikan soal. Lebih dari itu, kegiatan tersebut ingin menanamkan fondasi karakter belajar sejak kelas awal sekolah dasar. Dari pelataran SDK Santo Don Bosco Lewoleba, sebuah pesan sederhana disampaikan yaitu bahwa anak-anak dapat memancarkan cahaya mereka ketika orang dewasa bersedia menyediakan ruang bagi mereka untuk belajar, berlatih, dan tampil. Dan ruang itu tidak selalu membutuhkan biaya besar. Patungan kecil dari banyak orang tua dapat berubah menjadi pengalaman besar bagi anak-anak ***(GDT/WN-01) Post Views: 31 Navigasi pos Gubernur Melki : Penguatan Literasi & Inklusi Keuangan Fondasi Penting Bagi Generasi Muda Hadapi Tantangan Ekonomi Masa Depan