Guru Keren vs Guru Hebat! Pengawas Lembata Ini Bikin Geger Rakerdik: AI Gemini Bisa Salah, Tapi Logika Garuda Pancasila Tak Pernah Bohong! LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Suasana Rapat Kerja Pendidikan (Rakerdik) Tingkat Kecamatan Buyasuri di SD Katolik Biarwala mendadak berubah jadi arena adu logika! Bukan karena debat panas, melainkan karena satu teka-teki cerdas yang dilontarkan oleh Pengawas Sekolah Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Rifai Mukin, M.Pd. Di hadapan ratusan guru SD Buyasuri putra Lamakera kelahiran Ende ini tak hanya bicara soal kurikulum terkini, tapi juga menampar keras ketergantungan buta pada teknologi. “Kurikulum Nasional adalah paksaan pemerintah untuk membebaskan potensi murid dari belenggu hafalan kaku!” serunya membuka sesi. Namun, pesan utamanya lebih tajam: Jangan jadikan AI Gemini sebagai otak pengganti! Jebakan AI: Ketika Algoritma Gagal Membaca Lambang Negara Rifai mengingatkan bahwa meski akun belajar.id menyediakan akses ke AI Gemini gratis, ketergantungan berlebihan justru mematikan kreativitas guru. “Gemini itu alat hanyalah bantu, bukan nabi! Hasil algoritmanya punya tingkat error tinggi jika prompt-nya salah atau keliru. Tetaplah edit dan gunakan logika manusia,” tegasnya. Untuk membuktikan poin tersebut, Mukin melemparkan quiz clue yang membuat ruangan hening seketika: “Saya adalah anak Kedang-Lembata. Saya ingin berkeliling Indonesia. Kota pertama saya kunjungi adalah Bandung. Bantu saya menunjukkan dua kota terakhir yang akan saya kunjungi. Perhatikan baik-baik lambang negara pada burung Garuda Pancasila!” Para guru pun berpikir keras. Bisik-bisik terdengar di seluruh ruangan. “Dua kota apa ya?” tanya seorang guru pada temannya. Namun, tak ada satu pun yang berhasil menjawab. Rifai pun mengungkapkan rasa “sedih” bercanda karena para guru gagal menolongnya. Jawaban Tersembunyi di Dada Garuda: Padi dan Kapas! Di saat ketegangan memuncak, anak mantan purnawirawan TNI AD ini tersenyum tipis dan membongkar jawabannya: “Kota Padang (huruf P) dan Kota Kupang (huruf K)!” Mengapa? Karena inisial P dan K merujuk pada Padi dan Kapas, dua lambang kemakmuran yang mencengkeram erat di kaki kanan Burung Garuda Pancasila. “Anak Kedang-Lembata pulang ke Kupang, lewat Padang. Simbolisnya ada di dada Garuda!” jelasnya sambil tertawa puas. Ruangan pun pecah dalam tepuk tangan meriah. Namun, Rifai Mukin segera menghentikan aplaus tersebut dengan pesan yang menohok: “Tepuk tangan ini bukan untuk saya, tapi untuk diri Anda sendiri! Kita harus berani merayakan kemenangan kecil karena berhasil menggunakan logika sehat, bukan sekadar mengandalkan mesin.” Lupakan “Guru Hebat”, Jadilah “Guru KEREN”! Mukin kemudian melontarkan konsep baru yang langsung menjadi viral di kalangan peserta. Ia meminta guru-guru Madrasah saja yang bangga dengan sebutan “Guru dan Madrasah Hebat”. Sementara guru sekolah umum di Lembata harus bertransformasi menjadi “Guru KEREN”. Apa itu Guru KEREN? Rifai membedahnya dengan akronim yang powerful: * Kreatif: Mampu menciptakan solusi pembelajaran yang unik. * Edukatif: Fokus pada pembentukan karakter, bukan hanya nilai. * Regulasi: Taat pada aturan namun tetap fleksibel dalam eksekusi. * Elegan: Berpenampilan dan bersikap santun serta berwibawa. * Nilai: Menjunjung tinggi integritas dan moralitas. “Di sinilah klidor kita! Semoga semua yang hadir di sini adalah guru KEREN,” pungkasnya dengan semangat. Coloteh Mukin ngaku asli Lamahora ini menjadi momen paling diingat dalam Rakerdik Buyasuri 21 Juli 2026. Ia berhasil menggabungkan kritik terhadap teknologi, penguatan literasi simbolik negara, dan motivasi profesi dalam satu paket yang menghibur sekaligus mendidik. Para guru pulang bukan hanya membawa dokumen administrasi, tapi juga semangat baru untuk menjadi pendidik yang Kreatif, Edukatif, Regulatif, Elegan, dan Bernilai. Semangat selalu Guru KEREN #RAM Post Views: 33 Navigasi pos Pesan Kadis Pendidikan Lembata di Rakerdik Buyasuri : “Guru Tak Bisa Tergantikan Oleh Teknologi!, Jaga Kesehatan & Hindari Blok-Blok