Guru Tetap Jantung Pendidikan! Ahli Psikologi: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Emosional dalam Pembelajaran Mendalam Oleh: Gabriel Manek WARTA-NUSANTARA.COM— Di tengah derasnya arus revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI), para pendidik di Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, diberi suntikan semangat sekaligus penegasan peran. Dalam Rapat Kerja Pendidikan (Rakerdik) yang mengusung tema Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial, para kepala sekolah SD se-kecamatan menyampaikan pesan tegas: teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan guru. Dalam sambutannya, perwakilan kepala sekolah menegaskan bahwa dunia telah berubah dengan kecepatan luar biasa. Anak-anak yang dididik hari ini akan hidup di masa depan yang penuh teknologi, informasi melimpah, dan AI yang semakin canggih. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh lagi hanya fokus pada hafalan, melainkan harus membentuk siswa yang kritis, kreatif, kolaboratif, dan berkarakter kuat. Pembelajaran Mendalam: Jawaban atas Tantangan Zaman Kunci utama untuk menjawab tantangan zaman ini, menurut para kepala sekolah, adalah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Konsep ini bukan tentang mengejar target kurikulum, melainkan mengajak siswa memahami konsep secara utuh, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, dan mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Prof. Michael Fullan, seorang pakar pendidikan global, yang menyatakan bahwa pembelajaran mendalam berfokus pada penguasaan enam kompetensi dasar: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis. “Ketika siswa memahami ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’, bukan hanya ‘apa’, maka proses belajar akan menjadi lebih bermakna dan membekas sepanjang hayat,” demikian inti pidato tersebut. Senada dengan itu, John Hattie, peneliti pendidikan terkemuka dari Universitas Melbourne, dalam meta-analisisnya menekankan bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi keberhasilan siswa bukanlah fasilitas mewah atau teknologi terbaru, melainkan kollektif teacher efficacy (efikasi kolektif guru) dan hubungan positif antara guru dan siswa. Teknologi hanyalah alat bantu; guru adalah arsitek utamanya. AI dan Koding: Mitra Strategis, Bukan Pengganti Pengenalan Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) dalam kurikulum disambut sebagai langkah strategis. Koding dipandang sebagai sarana untuk melatih cara berpikir logis, sistematis, dan kreatif. Sementara AI membuka peluang baru dalam pembelajaran, seperti membantu guru merancang materi yang lebih menarik, melakukan asesmen efektif, dan memberikan layanan belajar personal. Namun, di sinilah letak kebijaksanaan. Dr. Sugata Mitra, pemenang TED Prize dan pencipta konsep “Hole in the Wall”, pernah menyatakan bahwa teknologi dapat menjadi guru yang hebat untuk hal-hal yang bersifat faktual, tetapi tidak bisa menjadi mentor atau inspirator. Peran itu hanya bisa diemban oleh manusia. Para kepala sekolah Buyasuri sepenuhnya menyadari hal ini. Mereka menegaskan bahwa teknologi hadir bukan untuk menggantikan, melainkan untuk memperkuat peran guru agar semakin profesional, kreatif, dan inovatif. Keteladanan, kasih sayang, sentuhan kemanusiaan, dan inspirasi yang diberikan guru adalah hal-hal yang mustahil direplikasi oleh algoritma. Dari sisi psikologi perkembangan, Lev Vygotsky, psikolog Rusia terkenal dengan teori Zone of Proximal Development (ZPD), menekankan pentingnya interaksi sosial dan bimbingan orang dewasa (guru) dalam proses belajar anak. Anak usia sekolah dasar berada dalam fase konkret operasional (menurut Jean Piaget), di mana mereka membutuhkan bimbingan langsung, umpan balik emosional, dan scaffolding (dukungan bertahap) yang hanya dapat diberikan oleh guru yang peka terhadap kebutuhan individual siswa. Mesin AI mungkin bisa memberikan jawaban, tetapi ia tidak bisa merasakan frustrasi siswa atau merayakan keberhasilan kecil mereka dengan empati. Rakerdik: Momentum untuk Bertumbuh Bersama Para kepala sekolah menutup sambutannya dengan seruan untuk menjadikan Rakerdik ini sebagai momentum untuk bertumbuh. Mereka mengajak seluruh guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena hanya guru yang terus berkembang yang mampu melahirkan generasi unggul. “Jangan takut terhadap perubahan, karena sesungguhnya perubahan adalah kesempatan untuk bertumbuh,” pesan mereka. Setiap guru didorong untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena hanya guru yang terus berkembang yang mampu melahirkan generasi unggul. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, para pengawas sekolah dinas pendidikan dan pengawas sekolah Kementerian Agama Kabupaten Lembata serta narasumber memberikan bersepakat bahwa Sekolah pun seyogiyanya memberikan ruang pemanfaatan AI bagi peserta didik, namun tetap dalam pengawas orang tua, satuan pendidikan dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan SE Permendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. Para kepala sekolah berharap, melalui forum ini, lahir komitmen kolektif untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Tujuannya satu: mencetak generasi Lembata yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan siap menjadi pencipta inovasi, bukan sekadar pengguna teknologi. Dengan fondasi psikologis yang kuat dan pendekatan pedagogis yang tepat, guru-guru di Buyasuri siap menghadapi era digital tanpa kehilangan esensi kemanusiaan dalam pendidikan. Biodata Penulis: Gabriel Manek, S.Pd.SD Pendidikan terakir S1-PGSD Lahir di Hobamatan pada tgl 31-12-1969 Jabatan kepala sekolah Dasar Inpres Leuburi dan tinggal di Desa Mahal I kecamatan Omesuri Post Views: 28 Navigasi pos Dari Trofi ke Rafah: Menyusun Narasi Kemanusiaan yang Utuh di Antara Puisi Politik dan Realitas Geopolitik