JADILAH PENGELOLA, (BUKAN PEMILIK) Homili Inspiratif dari Injil Matius 21: 33-43, Minggu Biasa ke-27, 04 Oktober 2026. Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Sebuah pemandangan yang kerap kita saksikan sendiri di tempat parkiran. Petugas parkiran begitu setia menjaga kendaraan yang dititipkan padanya. Ia sekadar menjadi penjaga. Tanpa ada kebanggaan berlebihan seaakan kendaraan yang ada adalah miliknya. Tidak terbersit sekalipun perasaan itu. Bagi yang tinggal di daerah perkotaan terutama di areal perumahan, kata ‘pengelola’ kawasan menjadi istilah kunci. Developer yang tadinya menjadi pemilik, kemudian menjual rumah-rumah itu kepada konsumen. Mereka berubah jadi pengelola dan bukan pemilik. Mereka hanya membantu agar kawasan itu tetap aman dan nyaman bagi para penghuninya. Ini hal yang semestinya biasa. Tetapi ketika kita terapkan dalam kehidupan kita, kita justru berlaku berbeda seakan-akan menjadi pemilik. Apa yang Tuhan berikan kepada kita tidak menjadi milik kita. Ibarat penjaga parkiran, kita hanya menjaga dan tiba waktunya harus mengembalikan semuanya. Kita tidak lebih dari pengelola dan bukan pemilik. Tetapi yang terjadi seperti dikisahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak lebih dari penggarap-penggarap yang hanya diserahkan wewenang untuk sementara. Namun apa yang kita lakukan? “Ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.” (Matius 21:38) Ini menggambarkan salah kaprah yang kerap kita lakukan. Apa yang diserahkan kepada kita sementara,—entah itu rumah, jabatan, pencapaian, atau bahkan keluarga—hingga tanpa sadar kita merasa semuanya itu adalah milik mutlak kita. Hari ini, melalui perumpamaan tentang penggarap kebun anggur, Yesus menyapa kita dengan sebuah warta yang lembut namun sangat menggugah nurani. Kisah Injil hari ini menggambarkan kebaikan hati Sang Pemilik kebun yang luar biasa. Ia membangun kebun itu dengan penuh cinta: memagarnya, menggali tempat pemerasan anggur, dan mendirikan menara jaga. Segala fasilitas diberikan agar para penggarap bisa bekerja dengan tenteram. Pemilik itu tidak menuntut hal yang berlebihan; ia hanya meminta bagian hasil sesuai kesepakatan pada waktunya. Namun, di sinilah tragedi manusia dimulai. Berada terlalu lama di dalam kebun membuat para penggarap lupa diri. Kebaikan dan keleluasaan dari Sang Pemilik justru melahirkan ilusi bahwa kebun itu milik mereka sendiri. Rasa memiliki yang berlebihan perlahan mengikis rasa syukur dan berubah menjadi keserakahan. Utusan demi utusan ditolak, disiksa, bahkan dibunuh. Puncaknya, ketika Putra Sang Pemilik datang membawa kasih dan pengharapan, mereka tega membunuhnya hanya demi satu ambisi: menguasai warisan tersebut secara penuh. Dari kisa ini kita dapat menemukan akar dosa. Dosa paling mendalam dari para penggarap ini bukanlah sekadar kegagalan mereka menyerahkan hasil panen, melainkan krisis identitas. Mereka lupa siapa diri mereka sebenarnya. Mereka bertindak seolah-olah mereka adalah pemilik, bukan lagi seorang pengelola atau penataguna (steward). Bukankah kisah ini begitu dekat dengan denyut kehidupan kita sehari-hari? Tanpa kita sadari, kita sering kali jatuh pada jebakan yang sama. Kita memandang hidup, napas, kesehatan, pasangan, anak-anak, bakat, serta harta yang kita miliki sebagai hak milik pribadi yang sah. Ketika kesuksesan diraih, kita dengan bangga menepuk dada dan berkata, “Ini semua adalah hasil kerja keras dan kepintaranku.” Kita menobatkan diri kita sendiri sebagai ‘raja’ atas hidup kita, dan perlahan-lahan menggeser posisi Allah dalam pengambilan keputusan. “Keserakahan dan kecemasan selalu lahir ketika kita merasa memiliki segalanya. Namun, kedamaian sejati justru bersemi saat kita menyadari bahwa kita hanyalah penataguna rahmat Allah.” Saat rasa memiliki itu menguasai hati, kita menjadi mudah cemas, enggan berbagi, keras hati terhadap teguran, dan enggan mempersembahkan buah-buah kebaikan bagi sesama. Kita bertindak persis seperti para penggarap itu: menyingkirkan ‘Sang Putra’ dari ruang-ruang kehidupan kita. Di akhir Sabda-Nya hari ini, Yesus menyampaikan sebuah peringatan yang patut kita renungkan bersama: “Kerajaan Allah akan diambil darimu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buahnya.” Teguran ini mengingatkan kita bahwa status Kristiani atau keterlibatan kita dalam pelayanan gerejani bukanlah sekadar jaminan, melainkan panggilan untuk berbuah. Allah rindu melihat kebun anggur hidup kita menghasilkan buah-buah nyata: kasih, keadilan, pengampunan, dan kedamaian bagi orang-orang di sekitar kita. Mari kita hening sejenak dan bertanyalah di dalam hati: Jika hari ini Sang Pemilik kehidupan datang menyapa kita, buah kebaikan apa yang siap kita persembahkan kepada-Nya? Semoga Tuhan menganugerahkan kita hati yang rendah hati dan jujur, agar kita senantiasa ingat bahwa hidup ini adalah titipan indah. Semoga kita dibimbing-Nya untuk menjadi pengelola yang setia, yang kelak layak mendengar sapaan kasih-Nya: “Mari, masuklah dan nikmatilah kebahagiaan Tuanmu.” Amin. Robert Bala. Penulis buku MENGIRINGI KEMATIAN (Best Seller). Penerbit Ledalero 2025. Cetakan ke-3. Post Views: 25 Navigasi pos Ribuan Umat Katolik Ikuti Perarakan Santo Gerardus Mayela di Waingapu, Peringati HUT ke-75 Paroki Sang Penebus