Jamaludin Malik Mengungkapkan Rahasia Kesaktian Pancasila – Pak Soeharto ke Mandela LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Sebuah pernyataan kontroversial sekaligus mencerahkan kembali mencuat ke permukaan. Di tengah gempuran isu SARA dan polarisasi politik yang kian panas, Kakanmenag Lembata, pada Apel Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di pelataran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata. Kakan Menag Lembata mengungkit kembali dialog bersejarah antara Presiden RI ke-2 Soeharto dan Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan. Menurutnya Dialog ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Di sinilah rahasia itu terungkap nyata. Mengapa Indonesia, dengan 17.000 pulau lebih dan ratusan suku, tidak hancur berkeping-keping seperti negara-negara lain yang dilanda perang saudara yang tak berkesudahan. Dalam sebuah manuskrip mengungkapkan perjalanan panjang bangsa indonesia yang sulit diterima dan sekaligus digagumi bangsa-bangsa dunia. Dalam dokumenter yang menjelaskan momen Nelson Mandela, usai bebas dari penjara dan menjadi Presiden kulit hitam pertama Afrika, berkunjung ke Indonesia. Mandela sangat tersanjung dan terpukau tentang pernak-pernik indonesia, dalam kunjungan itu Mandela bertanya pada Pak Soeharto. “Pak Harto, bagaimana bangsa Anda yang terdiri dari ribuan pulau, berbeda suku, berbeda bahasa, bisa tetap damai? Tidak pecah? saya melihat indonesia ini memiliki begitu banyak pulau” Pak Harto, hanya tersenyum dan memberikan jawaban yang singkat, padat, dan menohok bagi logika Barat. “Karena kami punya ‘Pancasila” Bagi banyak bangsa Asia, Afrika, Timur Tengah dan Eropa “Pancasila” mungkin terdengar aneh. Tapi bagi bangsa Indonesia, “Pancasila” adalah spektrum moralitas bangsa yang final. Pak Harto menjelaskan bahwa bangsa Indonesia tidak dibangun di atas paksaan ideologi ala Eropa yang kaku. Bangsa Indonesia lahir dari nilai-nilai luhur budaya yang sudah ada sejak nenek moyang bahkan jauh sebelum bangsa ini terbentuk. Pancasila: Bukan Impor, Tapi Kristalisasi! Percakapan tersebut kemudian membongkar mitos bahwa Pancasila adalah ideologi impor. Justru sebaliknya! Pancasila adalah kristalisasi dari ribuan budaya lokal. Kita akan temui gotong royong tanpa sekat, musyawarah yang di dalamnya ada Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian, Bali dan Nusa Tenggara. Mereka menaggalkan semua identitas suku, agama, ras dan antargolongan. Jelas Jamaludin. Semua itu intinya satu: Kepedulian Sosial. Lebih lanjut Kakan Menag Kabupaten Lembata menjelaskan, bahwa yang menakjubkan “Pancasila” itu di dalamnya memuat nilai-nilai lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun. Justru, agama-agama besar di Indonesia memperkuat nilai-nilai tersebut. Bukti Nyata: Agama dan Pancasila Satu Nafas. Manuskrip kesaktian Pancasila yang diungkapkan Soeharto ke Mandela memberikan catatan tersendiri perjalanan bangsa indonesia. Yaitu menantang siapa saja yang mengatakan agama dan kebangsaan berseberangan serta menimbulkan berbagai konnflik. Silahkan Anda dapat membuka kitab suci masing-masing umat beragama untuk membuktikan bahwa Pancasila adalah wujud nyata dari ajaran Tuhan. Tegas Jamaludin. Lebih dalam Jamaludin mengungkapkan bahwa dalam Islam Surat An-Nahl ayat 90, Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat. Hal ini adalah inti dari Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Mari kita buka buka Injil Matius Pasal 22 ayat 37-39. Yesus berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini adalah fondasi Ketuhanan dan Kemanusiaan! Kakan Menag Kabupaten Lembata, Jamaludin Malik tidak berhenti di situ. Dia mengajak segenap ASN lingkup Kementerian Agama Kabupaten Lembata dalam Apel Hari Lahir Pancasila menyimak lebih dalam bagaimana Hindu dengan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan): Harmoni dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Sangat Pancasilais, bukan? Tanya Jamaludin. Demikian Buddha dalam ajaran Metta Karuna (cinta kasih dan welas asih) terhadap semua makhluk hidup. Bukankah inu adalah wujud nyata Keadilan Sosial? Dan konsep Ren dalam Khonghucu yang merupakan (perikemanusiaan) dan Li (tata krama). Intinya sama: menghormati sesama dan menjaga harmoni sosial. Makhlumat Keras, Jamaludin “Jangan Main-Main dengan Moral!” Jamaludin Malik juga menyinggung pernyataan tokoh nasional Jufrizal (Jukur) yang sering dikutip: “Agama adalah sumber moralitas. Pancasila adalah sistem kebangsaan.” Artinya? Tanpa agama, moral bangsa akan kering. Tanpa Pancasila, bangsa akan kehilangan arah kenegaraan. Keduanya seperti dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan! Bangsa Indonesia itu unik. Kita bukan bangsa yang dipersatukan oleh pedang atau paksaan, tapi oleh kesepakatan moral dan spiritual. Tegasnya Sebelum mengakhiri apel Hari Lahir Pancasila, Jamaludin mengajukan pertanyaan refleksi Apakah Kita Sudah Melupakan Pancasila? Di era digital ini, di mana hujatan lebih mudah daripada doa, apakah kita masih memegang teguh Pancasila itu? Jika Nelson Mandela saja kagum pada kedamaian Indonesia, mengapa kita sendiri yang sering ribut soal perbedaan? Pentingnya Apel Hari Lahir Pancasila adalah pesan, agar Bangsa ini kuat karena akarnya dalam (budaya) dan cabangnya tinggi (agama). Jika salah satu ditebang, pohon raksasa bernama indonesia akan tumbang. Mari cermati kembali. Jangan sampai kita kehilangan “nyawa” kebangsaan kita hanya karena ego sektarian yang sempit. Ngajak Kakan Menag Lembata mengakakhiri Apel Hari Lahir Pancasila. #RAM Post Views: 21 Navigasi pos Jadilah lilin dan bekicot: Pesan Haru Kepala Sekolah SD Negeri Normal Kecamatan Buyasuri Kabupaten Lembata di Detik-Detik Pelepasan Jabatan