Ilustrasi : Guru Hebat

(JANGAN) BAWA KE WHATSAPP

(Ide Inspiratif Homili Mingguu Biasa ke-23, 6 September 2026

Oleh : Robert Bala

Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Kita hidup di zaman ketika hampir semua persoalan dapat dengan cepat dibawa ke WhatsApp. Ada masalah sedikit, langsung mengetik. Ada yang membuat kita tersinggung, segera curhat di grup. Ada konflik dengan seseorang, screenshot percakapan dikirim kepada orang lain. Akibatnya, masalah yang sebenarnya kecil dan pribadi tiba-tiba menjadi besar dan diketahui banyak orang.

Kalau demikian, mungkin Injil hari ini bisa kita beri judul yang sedikit provokatif: “MEMBAWA KE WHATSAPP.” Menarik sekali bahwa dalam Matius 18:15-20, Yesus seakan-akan memberikan sebuah “protokol komunikasi” ketika terjadi masalah dengan saudara.

Pertama, Yesus berkata: “Pergilah dan tegorlah dia di bawah empat mata.” Perhatikan: empat mata! Bukan empat puluh mata. Bukan grup WhatsApp. Bukan media sosial. Bukan menyebarkan screenshot kepada teman-teman.Kalau saudaramu bersalah kepadamu, datangilah dia dan bicaralah dengannya.

Kedua, kalau tidak berhasil, barulah libatkan satu atau dua orang.
Ketiga, jika masih belum berhasil, barulah persoalan itu dibawa kepada komunitas.

Betapa berbeda dengan kebiasaan kita! Sering kali urutannya justru terbalik:
masalah pribadi → WhatsApp → grup → screenshot → gosip → konflik menjadi publik.

Padahal Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana: Semakin pribadi masalahnya, semakin pribadi pula tahap pertama penyelesaiannya. Ada masalah yang sebenarnya bisa selesai dalam lima menit percakapan empat mata, tetapi menjadi konflik besar karena dibicarakan kepada dua puluh orang.

Mengapa kita lebih mudah berbicara tentang seseorang daripada berbicara dengan seseorang? Karena berbicara tentang orang lain sering membuat kita merasa aman. Kita tidak perlu berhadapan dengan reaksinya. Kita bisa mendapatkan simpati. Kita bisa mencari pembenaran. Kita bahkan bisa membentuk opini orang lain agar mereka berpihak kepada kita.

Tetapi Yesus meminta sesuatu yang lebih berani: datanglah kepada saudaramu. Berbicara empat mata membutuhkan kerendahan hati. Kita harus mendengarkan. Kita mungkin menemukan bahwa apa yang kita pahami ternyata tidak seluruhnya benar. Kita mungkin harus meminta maaf. Dan mungkin juga kita harus mengampuni. Karena tujuan Yesus bukanlah membuktikan siapa yang benar, melainkan “mendapatkan kembali saudaramu.”
Ini penting. Dalam konflik, kita sering ingin menang. “Saya benar. Dia salah.” Tetapi bagi Yesus, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membuktikan bahwa orang lain salah. Kemenangan terbesar adalah ketika hubungan yang rusak dapat dipulihkan.

Maka sebelum kita menekan tombol “send”, mungkin ada baiknya kita bertanya: Apakah pesan ini harus dikirim? Apakah masalah ini harus diketahui orang lain?
Mengapa saya tidak berbicara langsung kepadanya?

WhatsApp sebenarnya bukan masalah. Teknologi adalah alat. Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi dipakai untuk menghindari perjumpaan, memperbesar luka, atau menyebarkan persoalan yang seharusnya diselesaikan secara pribadi.

Dan kemudian Yesus berkata: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ayat ini sering kita gunakan ketika berbicara tentang doa bersama. Tetapi konteksnya sangat menarik: Yesus mengatakannya setelah berbicara tentang menyelesaikan konflik dan memulihkan relasi.

Hari ini kita menjadi sadar, betapa dalam hidup kerap kali ketika kita terluka, kita melakukan kebalikan dari Injil:
• kita tidak berbicara kepada orangnya, tetapi berbicara tentang orangnya;
• tidak mencari penyelesaian, tetapi mencari pembenaran;
• tidak membangun jembatan, tetapi membangun kelompok yang membenci orang yang sama.

Lantas apa yang dapat kita lakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab melalui sebuah cerita inspiratif berikut ini.

Seorang anak muda bertemu gurunya masa SD dulu di satu resepsi pernikahan.
Murid itu menyalami gurunya sangat hormat, dan berkata: “bapak masih ingat saya kan pak ?” Gurunya menjawab: “tidak nak kamu siapa?,”

Murid itu heran “masa bapak tidak ingat ?,” Saya kan murid yang curi jam teman di kelas dulu ? Teman itu menangis, bapak menyuruh kami semua berdiri hadap dinding sambil menutup mata untuk digeledah .

Jam itu bapak ambil dari saku saya, dan saya berpikir bapak serta semua kelas akan mempermalukan saya. Saya akan jadi tumpahan ejekan dan hinaan. Tetapi terus menyelesaikan menggeledah saku semua anak anak sampai ke ujung. Setelah selesai bapak menyuruh semua kami kembali ke bangku masing masing

Saat itu .saya takut gemetaran. Bapak lalu mengenbalikan jam itu kepada teman saya yang kehilangan, tanpa menyebut siapa yang mencuri.

Selama saya di sekolah itu, bapak tidak pernah bicara tentang kasus jam itu, dan tidak ada seorangpun bicara tentang pencurian jam.

Bapak masih ingat saya pak? Kok bapak bisa tidak ingat kepadaku ?
Kasus itu adalah kenangan pedih yang tak pernah kulupakan. Saya sangat kagum ke bapak, dab sejak itu saya berjanji akan jadi orang benar, Saya mencontoh semua perbuatan bapak.

Guru itu menjawab : “Sungguh saya benar benar tidak meingatmu, karena saat menggeledah itu saya sengaja menutup mata juga agar tidak mengenal siapa pun yang mengambil jam itu. Saya tidak mau mengetahuinya dan secara khusus jadi merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, Saya sangat mencintai kalian semua”.

Pesan moralnya sangat jelas dan dapat kita ambil untuk diri kita.

Robert Bala. Penulis buku MENJADI GURU HEBAT ZAMAN NOW. Penerbit Gramedia (Best Seller)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *