Kemenag Lembata Gelar Apel Peringatan, Serukan “Hak Anak Harga Mati!” Lewoleba, Kamis, 23/7/2026 LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Di plataran halaman Kementerian Agama Kabupaten Lembata melaksanakan Apel Peringatan Hari Anak Nasional. Suasana khidmat namun penuh semangat menyelimuti upacara yang digelar serentak di seluruh Indonesia itu. Dalam amanatnya, Kepala Kantor Kemenag Lembata, Jamaludin Malik, tidak sekadar membacakan sambutan resmi Menteri Agama RI. Ia justru melemparkan peringatan keras yang mengguncang para peserta apel: “Hak anak adalah harga mati. Tidak ada tawar-menawar!” Lebih lanjut, Jamaludin mengingatkan bahwa sejak 2009 lalu, Menteri Agama telah menerbitkan KMA tentang Madrasah/Sekolah Ramah Anak. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. “Tidak boleh ada lagi anak-anak Lembata yang tidak bisa sekolah karena masalah biaya! Apalagi mereka sudah terdaftar. Ini kebijakan negara, bukan sekadar saran,” tegasnya di hadapan peserta apel. Ia menyoroti fenomena ironis di mana orang tua maupun guru kadang lengah, membiarkan anak tanpa pendampingan yang memadai. “Anak-anak tidak diikuti, dibiarkan begitu saja. Itu pelanggaran hak anak. Kenyamanan anak dimulai dari keluarga, masyarakat, lalu sekolah. Kita semua bertanggung jawab!” Di tengah gempuran digitalisasi, Jamaludin mengingatkan Surat Edaran Kemendikdasmen No. 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai. Ia membantah anggapan bahwa SE ini anti-teknologi. “Salah besar! SE ini adalah protokol penyelamatan dari kecanduan layar. Anak-anak kita sedang mengalami krisis fokus dan degradasi sosial,” ujarnya. Ia memaparkan tiga dampak fatal jika diabaikan: siswa kehilangan empati (kematian sosial), mudah terpapar konten toksik, dan gagal mencapai pembelajaran mendalam (deep learning). “Gawai harus menjadi alat, bukan tuan. Jika guru sibuk HP saat mengajar dan siswa main game di kelas, itu bukan ramah anak, tapi pembiaran!” Jamaludin juga menyindir ironi besar. Kemenag RI baru saja meraih penghargaan tertinggi transformasi digital nasional. Namun, ia membandingkan dengan pemberitaan media. “Paradoksnya, sektor yang paling banyak menerima penghargaan digital justru Kemenag. Tapi berita online paling ramai malah kementerian lain! Mengapa? Karena kita kalah promosi. Padahal layanan kita bersentuhan langsung dengan jutaan umat,” serunya. Ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. “Ukuran keberhasilan pendidikan bukan dari seberapa canggih aplikasi, tapi dari seberapa bahagia, fokus, dan terlindungi anak-anak kita di dalam kelas.” Menutup apel, Jamaludin menyampaikan agenda penting. Pada 28-29 Juli 2026, tim khusus dari Kanwil Kemenag NTT akan tiba di Lembata untuk melakukan audit dan pendampingan. “Kita akan dibedah habis-habisan. Bukan cuma administrasi, tapi bagaimana kita melindungi anak dari dampak negatif teknologi. Jika ditemukan pelanggaran serius, sanksi tegas akan diberikan,” ancamnya. Peringatan Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni ganti baju atau pasang spanduk. Ini momentum memastikan setiap anak Lembata merasa aman, nyaman, dan mendapat hak pendidikannya secara penuh. “Selamatkan jiwa anak-anak kita dari jeratan algoritma. Kembalikan martabat pendidikan pada tempatnya: membangun manusia, bukan sekadar pengguna teknologi!” #RAM Post Views: 37 Navigasi pos Siapa itu Sudaryono ?, Kepala BGN Baru Resmi Gantikan Nanik S Deyang