Kenangan Terakhir Bersama Ina Monika Kire Burin Catatan Paul Kopong Burin WARTA-NUSANTARA.COM— Saat ia tengah menghadapi sakratul maut di RS Leona, Kupang, kemarin, saya, bersama Mama Ega dan Anak Megi menjenguknya. Tapi, ia sudah tak sadar lagi. Saya, anak Megi, anak Efrin Ruing, dan anak Udis — salah satu dari “anak” Ina Moni Burin yang setia merawatnya — membantu mengangkatnya dari tempat tidur UGD/IGD untuk dipindahkan ke tempat tidur ICU bersama dua orang perawat laki-laki. Ketika keluarga di Kupang mengantar Jenazah Ina Monika Kire Burin di Pelabuhan Tenau Kupang Saya tidak sanggup melihat penderitaannya yang begitu panjang, hanya menunggu saja detik-detik terakhir kepergiannya. Dokter mengatakan jika semua alat bantu dicabut, Ina Moni akan berpulang. Kami hanya bisa berdoa. Semoga ia boleh sembuh agar masih bisa melihat anak-anaknya. Tapi fisiknya sudah “habis.” Sangat lemah dan tak berdaya. Napasnya satu-satu. Hanya ada gerakan kepala perlahan dari atas ke bawah, atau dari kiri ke kanan, hampir tiap waktu. Saya pegang kepalanya sambil berbisik untuk menguatkannya. Ia sepertinya mendengar. Dan, saya lihat ada butir air mata yang jatuh dari kelopak matanya. Dia mungkin menunggu kerabatnya. Saya kerabat terdekat di Kupang. Beberapa saat kemudian, kami keluar dari ruang ICU, karena dokter tidak membolehkan kami berada di ruang itu terlampau lama. Tidak ada tindakan medis lagi. Dokter bilang masih menunggu perkembangan akibat pendarahan di otak. Beliau hanya minta kami terus berdoa. Kami pulang meski sebelumnya masih dengar kisah-kisah terakhir tentang Ina Moni. Yang masih duduk di lorong persis di luar kamar ICU hanya anak Efrin bersama istrinya, cucu, anak Udis, dan Nona Rensiana. Saya lihat Nona Rensiana yang kelas satu SMP itu duduk sendirian. Saya peluk dia dan minta untuk gabung dengan kakak-kakaknya. Ia menggelengkan kepala. Saya tahu ia dapat marah dari kakaknya Efrin Ruing atas sesuatu hal. Mereka menunggu sang mama yang sangat mereka cintai. Menunggu dengan sungguh harap. Menunggu mungkin ada niscaya yang terjadi dari Tuhan langit dan bumi sambil menikmati nasi bungkus. Saya lihat mereka juga sangat letih. Lelah menunggu sejak kemarin sang mama jalani cuci darah terakhir dan kolapz. Saya pamit dan bilang akan segera kembali ke RS Leona. Saya tak kuat melihat kondisi ini. Anak-anak yang terus berurai airmata. Tak lama setelah pulang, telepon berdering berulang kali. Anak-anak minta om datang dulu. Dokter panggil. Dan, ketika langkah saya dan anak Megi kembali menginjak RS itu, Ina Moni telah pergi untuk selama-lamanya. Saat itu memori saya kembali pada perjuangannya untuk hidup. Kukuh dan kokoh. Sejak Januari 2026 ia berjuang dengan setia menjalani cuci darah. Sebelumnya ia beberapa kali keluar-masuk RS SK Lerik dan saya selalu datan melihatnya. Sejauh yang saya lihat, Ina Moni tidak pernah mengeluh. Ia tetap tersenyum. Tawanya terus hadir. Mungkin semua penderitaannya ia “tumpahkan” pada anak-anaknya. Ina Moni itu sabar, meski derita selalu mewarnai perjalanannya. Anak-anak bercerita bahwa ia keras pada mereka bahkan memarahi mereka karena kasihnya yang sungguh tebal. Saat memberi sepotong kata-kata tadi malam usai ibadat sabda di rumah Tarus, saya bilang, Ina Moni tak jauh dari kita. Ia cuma selangkah dari kita. Saya juga berkisah tentang kasih sayang dia pada anak-anak atau entah siapa pun dia. Ia menampung dan memelihara mereka dengan penuh cinta kasih. Sesuatu yang sulit bagi saya dan mungkin kita yang lain. Saya bilang, Ina Moni ini seperti Ibu Theresia dari Calcuta. Ia melakukan hal-hal kecil, tapi dengan cinta yang besar. Ia membangun cinta kasih untuk tiap orang yang datang padanya. Ia menegaskan dan seakan “memukul” kita yang lain bahwa membantu orang bukan karena kita punya apa-apa. Dan, ia sudah lakukan puluhan tahun lamanya. Kita tak bisa mengejar langkah karitatif yang sudah ia lakukan selama ini. Selamat jalan Ina Moni Kire Burin. Perjuanganmu sudah di titik batas. Di titik akhir perjalanan hidupmu. “Kam mengaj beg, fe lalanem nan tmoenga. Fe mom labi pana mai serum alapes je surga. Je kofa lolo.” Catatan sepotong ini jelang jasadnya tiba di Kota Lewoleba, sore ini. Monika Kire Burin, putri kedua dari lima bersaudara dari orangtua Yohanes Laba Burin dan Ambrosia Lipat Alior, Ia lahir di Desa Puor, 13 April 1968 menikah dengan Gaspar Laga Ruing, seorang guru PNS asal Desa Baopana (Tanahtereket) dan dikarunia seorang anak, Efrin Ruing dan seorang cucu, serta sejumlah “anak angkat’. Ina Moni Meninggal dunia di RS Leona Kupang akibat gagal ginjal , Minggu, 26 Juki 2026 dalam usia 58 tahun. ***(Paul Kopong Burin) Post Views: 28 Navigasi pos Membuka Jalan, Meninggalkan Jejak Pengabdian Ekstrem Joakim Deke Kokomaking di Tanah Lembata