Keterjebakan dalam Kebebasan: Dekonstruksi Karakter Sidin dalam Cerpen “Belantara” Karya Anil Hukma Oleh : Alisia Tesalonika Mahasiswi Prodi Satra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta Pendahuluan WARTA-NUSANTARA.COM— Ketika membaca cerpen “Belantara” karya Anil Hukma, pasti kita memiliki perasaan kagum terhadap tokoh utama yang bernama Sidin. Di dalam cerita, ia digambarkan sebagai manusia yang bebas. Sidin benci aturan kaku, berani keluar dari pelatihan, menolak hidup monoton, keluar dari zona nyaman, hingga berganti-ganti pekerjaan yang bisa dibilang ia mengambil resiko dalam hidupnya. Di sisi lain, temannya yang bernama Rudi, ditempatkan sebagai sosok “kalah” yang hanya pegawai kantoran biasa. Rudi digambarkan pasrah dan terjebak dalam lingkaran rutinitas sehari-hari yang sama. Secara konvensional, cerita ini seolah memuji Sidin sebagai pahlawan kebebasan. Namun, jika kita membedahnya menggunakan teori “Dekonstruksi Jacques Derrida”, pandangan itu bisa kita bongkar total. Teori milik Jacques Derrida ini mengajarkan kita untuk mencari celah kontradiksi dalam teks dan membongkar binernya. Lewat sudut pandang ini, kita akan melihat fakta sebaliknya: Sidin sebenarnya sama sekali tidak bebas dan ia justru terjebak dalam ketakutan dalam sistem pelarian yang diciptakannya sendiri. Membongkar Oposisi: Mitos Kebebasan dan Ketakutan yang Disembunyikan Cerpen dituliskan secara tersurat, yang membangun narasi bahwa Sidin adalah sosok yang berani menembus batas dan memiliki kebebasan pada hidupnya. Setiap kali Sidin masuk ke dalam suatu ranah, baik itu program pengembangan diri, seni lukis, dan apapun itu, ia selalu memutuskan untuk pergi dengan alasan sudah merasa telah memahami atau menembus ‘belantara’ tersebut. Namun, apabila kita mencermati cerpen tersebut lebih teliti dengan kewaspadaan dekonstruktif, kita akan menemukan celah kontradiksi yang sangat mendasar dalam diri sosok Sidin. Di awal cerita, ketika berhadapan dengan belantara sesungguhnya di tepi jalan, Sidin sendiri memutus secara internal: “karena belantara sesungguhnya bisa menjadi jebakan kematian, maka aku tidak ingin memasukinya. Aku tak siap!”. Di titik inilah teori dekonstruksi bekerja membalikan narasi. Sidin yang selama ini kita kira sebagai sosok yang pemberani, ternyata seorang penakut. Sidin tidak pernah benar-benar menuntaskan sebuah “belantara” hingga ke akarnya. Ia selalu melarikan diri tepat ketika suatu hal mulai menuntut komitmen, konsistensi, dan tanggung jawab jangka panjang. Aturan dalam Ketidakaturan: Perulangan yang Sistematis Sidin membenci kata “sistematis”. Ia pernah berkata kepada Rudi: “Sistematis itu nonsen!”. Namun, mari kita melihat dekonstruksi pola hidup Sidin. Apakah ia benar-benar bebas dari sistem? Jawabannya adalah tidak. Gaya hidup Sidin justru mengikuti pola yang sangat kaku dan berulang. Ia terikat pada siklus ini tanpa bisa mengendalikannya. Tidak benar-benar bebas memilih untuk bertahan dan selalu diikat oleh rasa cemasnya sendiri. Kebebasan yang kita lihat dari hidup Sidin sebenarnya hanyalah sistem yang mengurungnya. Kesimpulan Melalui teori milik Jacques Derrida, citra Sidin sebagai pahlawan kebebasan runtuh dengan sendirinya. Cerpen “Belantara” karya Anil Hukma menyimpan kontradiksi batin, yaitu kebebasan ekstrem yang dicari Sidin bukan dari penjara rutinitas, melainkan wujud ketakutan dan bentuk penjara baru. Sidin tidak pernah merdeka, melainkan hanya berpindah dari satu ranah ke ranah lain, hingga akhirnya menyerah total di dasar belantara air (kematian) karena lelah berlari dari dirinya sendiri. Post Views: 14 Navigasi pos Analisis Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann dalam Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis