Ketika Pesisir Loang Menjadi Ruang Kelas Di hari ulang tahunnya yang ke-32, PT Cendana IndoPearls mengajak 153 siswa SMAN 1 Nagawutung memungut sampah, belajar mencintai laut, dan berlatih menyelamatkan diri dari gempa. LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Pagi Senin, 12 Oktober 2026, angin laut berembus pelan di pesisir Loang. Di tepi pantai milik PT Cendana IndoPearls, ratusan pelajar berbaris rapi dengan seragam sekolah. Di tangan mereka ada karung dan sarung tangan. Hari itu bukan hari sekolah biasa. Ruang kelasnya pasir putih, papan tulisnya cakrawala, dan pelajarannya tentang bumi yang perlu dijaga dan dihadapi dengan siap. Sejak pukul 08.00 WITA, SMAN 1 Nagawutung dan PT Cendana IndoPearls menggelar kegiatan kokurikuler Aksi Bersih Pantai dan Simulasi Tanggap Bencana Gempa Bumi. Kegiatan ini bertepatan dengan dua peringatan penting: HUT Otonomi Daerah ke-27 Kabupaten Lembata dan HUT ke-32 PT Cendana IndoPearls. Satu Pantai, Seratus Delapan Puluh Tiga Orang Hadir langsung pimpinan PT Cendana IndoPearls, Dimitri Cahuzac, bersama jajaran manajemen. Dari sekolah hadir Plh. Kepala SMAN 1 Nagawutung, Daniel Dengi, S.Pd, yang mewakili Kepala Sekolah yang sedang menjalankan tugas dinas keluar daerah, bersama bapak dan ibu guru dan tenaga kependidikan. Mereka berbaur dengan 153 peserta didik kelas X dan XI. Totalnya 183 orang, termasuk 20 guru dan tenaga kependidikan serta 10 perwakilan manajemen dan karyawan perusahaan. Yohanes Baha, S.I.Pust dan Donatus Dua Uak, S.Pd mendampingi para siswa sepanjang kegiatan. Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan doa bersama. Daniel Dengi lalu mengajak para siswa mengikuti semua rangkaian dengan sungguh-sungguh, disiplin, dan sopan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada perusahaan yang telah membuka pintunya sebagai ruang belajar. Ia menyebut sebagian peserta didik berasal dari daerah pegunungan dan belum pernah melihat laut dari dekat. Bagi mereka, hari itu menjadi perjumpaan pertama dengan lautan. Abd. Azis Nur, Koordinator Humas dan CSR, menyampaikan sambutan mewakili pimpinan perusahaan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan di bidang sosial, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Perusahaan, katanya, juga peduli pada ekosistem laut, wilayah pesisir, hutan mangrove, dan penyu di Loang, dan bekerja sama dengan Sahabat Loang. Dengan santai ia bertanya kepada para siswa apakah ada yang pernah ikut kegiatan serupa bersama SMP Negeri 1 Nagawutung tahun lalu. Banyak tangan terangkat, dan suasana pun mencair. Tiga Puluh Kelompok, Satu Gerakan Setelah snack, briefing, dan pembagian peralatan, peserta dibagi menjadi 30 kelompok. Mereka menyebar ke sepanjang garis pantai untuk memungut, mengumpulkan, dan memilah sampah. Dalam waktu sekitar 45 menit, karung demi karung terisi. Saat ditimbang, hasilnya 180,9 kilogram sampah anorganik, terdiri dari plastik, kaca, logam, dan lainnya, dengan sampah plastik sebagai yang paling dominan. Seluruhnya disimpan dan akan didaur ulang oleh PT Cendana IndoPearls. Angka itu menunjukkan bahwa kerja kecil yang dilakukan bersama-sama dapat membawa perubahan nyata bagi pesisir. Ketika “Gempa” Mengguncang Pagi Setelah pantai bersih, peserta beralih ke pelajaran yang tak kalah penting. Muhamad Azril Hibatulah dan Hermawan Retno Timur (Tim HSE perusahaan) bersama pihak sekolah memandu simulasi tanggap darurat gempa bumi. Para siswa belajar melindungi diri saat guncangan terjadi, menunggu hingga guncangan berhenti, lalu bergerak tertib menuju titik kumpul. Di sana mereka didata satu per satu dan diperkenalkan pada pertolongan pertama sederhana. Seluruh 183 peserta berhasil berkumpul dan terdata dalam waktu 30 menit. Simulasi berlangsung lancar, aman, dan tertib, dengan partisipasi aktif dari para peserta. Bagi Lembata, yang berada di wilayah rawan gempa, latihan seperti ini punya makna yang dalam. Daniel Dengi mengingatkan bahwa gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi waktunya. Karena itu, anak-anak perlu dibekali pengetahuan dan latihan sejak dini agar tahu cara melindungi diri dan menyelamatkan orang lain. Suara dari Para Peserta Di sela evaluasi dan refleksi, dua perwakilan siswa menyampaikan kesan mereka. Lidwina Pulo Lajar dari kelas XI.3 mengaku inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di area PT Cendana IndoPearls. “Materi yang dibawakan oleh narasumber memberikan pelajaran kepada kami tentang kebersihan, persaudaraan, dan pentingnya menjaga lingkungan,” tuturnya. Ia menutup kesannya dengan ucapan selamat ulang tahun ke-32 untuk perusahaan. Irwansyah dari kelas XI.2 berterima kasih atas sambutan hangat dan fasilitas yang diberikan. Menurutnya, para pemateri menyampaikan pelajaran dengan mudah dipahami dan melengkapi penjelasan para guru di sekolah. Harapan yang Tumbuh dari Pesisir Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan doorprize bagi peserta didik aktif, foto bersama, dan ramah tamah. Di balik tawa dan keriuhan itu, tersimpan harapan. Sekolah berharap kerja sama dengan perusahaan terus berlanjut, termasuk terbukanya peluang kerja bagi lulusan yang memenuhi syarat serta dukungan pendidikan bagi siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ke depan, SMAN 1 Nagawutung berencana memperkuat edukasi mitigasi bencana di kelas dan kegiatan kokurikuler, menggelar latihan kesiapsiagaan secara berkala, serta membiasakan budaya peduli lingkungan dan gotong royong. Hari itu, para siswa pulang membawa dua bekal sekaligus: kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapan menghadapi bencana. Dari pesisir Loang mereka belajar bahwa menjaga alam dan menjaga diri sama-sama dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. (Teks: Tim Humas SMAN 1 Nagawutung) Post Views: 6 Navigasi pos Perkuat Kapasitas Hukum, Komisi Informasi NTT Hadirkan Dr. Mikhael Feka