Krisis Air di Pulau Palue, Kabupaten Sikka

Krisis Air Pasca Gempa Flores: Warga Palue Terpaksa Konsumsi Air Asin, Ketua Forum PRB Desak Gubernur NTT Turun Tangan

FLORES TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM—  Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Flores Timur mendesak Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Flores untuk segera mendistribusikan air bersih ke wilayah Palue, Kabupaten Sikka. Desakan ini menyusul laporan krisis air bersih parah yang mengepung warga di kawasan terdampak gempa bumi tersebut.

Ketua Forum PRB Flores Timur, Bung Sila, menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah konkret dan cepat di masa tanggap darurat ini. Menurutnya, keterlambatan penanganan hanya akan memperburuk penderitaan warga di lapangan.

“Cuaca panas ekstrem ditambah minimnya air bersih berisiko menimbulkan penyakit akibat dehidrasi. Pemerintah harus segera bertindak,” ujar Bung Sila pada Senin (7/9/2026).

 

 

 

Infrastruktur Rusak, Warga Beli Air Asin Rp10 Ribu Per Jerigen

Kondisi memprihatinkan ini dipicu oleh hancurnya infrastruktur vital warga. Kepala Dusun Tomu, Vinsensius Ngaji, melaporkan bahwa warga Desa Tuanggeo kini kehilangan akses air bersih utama setelah bak penampung tadah hujan di wilayah mereka retak dan rusak akibat guncangan gempa.

Akibatnya, selama dua minggu terakhir, warga terpaksa membeli air sumur dari Pantai Uwa seharga Rp10.000 per jerigen ukuran 20 liter. Ironisnya, air tersebut memiliki kadar garam tinggi (asin) dan sangat tidak layak untuk konsumsi jangka panjang.

Keluhan serupa disampaikan oleh Theresia Nona Eci, salah satu warga yang terdampak langsung. Ia menekankan bahwa air bersih merupakan kebutuhan paling krusial yang tidak bisa ditunda-tunda.

“Kalau pasokan air bersih tidak ada, bagaimana kami bisa bertahan hidup? Kami terpaksa membeli air asin dari pantai, padahal harus keluar biaya tambahan,” keluh Theresia.

Tuntut Kompensasi Biaya Mandiri Warga

Melihat beban ekonomi dan kesehatan yang harus ditanggung masyarakat, Bung Sila dengan tegas meminta Gubernur NTT untuk mengganti seluruh biaya yang telah dikeluarkan warga secara mandiri untuk membeli air selama masa tanggap darurat.

Ia menjelaskan bahwa tuntutan kompensasi tersebut merupakan hak warga yang dilindungi payung hukum, sebagaimana yang telah diatur dalam surat edaran Gubernur NTT terkait penanganan darurat bencana.

Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera mengirimkan armada bantuan air bersih ke Palue guna mencegah meluasnya wabah penyakit dan dehidrasi di kalangan warga terdampak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.  (***(PelitaDesa/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *