Wayan Dehabrita Devi

Kuasa, Tubuh, dan Alienasi: Pembacaan Marxis terhadap Novel Rara Mendut Karya Y.B. Mangunwijaya

Oleh : Wayan Dehabrita Devi

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Jogjakarta

NIM                         : 244114016

MATA KULIAH       : Sosiologi Sastra

WARTA-NUSANTARA.COM—   Novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya bukan sekadar kisah percintaan tragis atau wiracarita sejarah Jawa yang berlatar kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung. Di balik romantisme pemberontakan tokoh utamanya, novel ini menyajikan cerminan struktur sosial feodal yang sarat akan ketimpangan kelas. Melalui kacamata Teori Sosiologi Marxis, karya ini dapat dibaca sebagai bentuk kritik mendalam terhadap bagaimana kaum penguasa feodal—para raja, panglima perang, dan priyayi tinggi—menguasai alat-alat produksi, menindas rakyat jelata (kawula alit), serta mereduksi manusia dan tubuh perempuan menjadi komoditas ekonomi dan objek kekuasaan belaka. Karl Marx berargumen bahwa struktur masyarakat ditentukan oleh basis ekonomi atau hubungan produksi, yang kemudian melahirkan bangunan atas (superstructure) berupa politik, hukum, dan kebudayaan yang menguntungkan kelas penguasa.

Dalam perspektif pertentangan kelas, jurang pemisah antara kaum penguasa feodal (ruling class) dan kawula alit (proletariat) tergambar sangat kontras sepanjang novel. Tumenggung Wiraguna, sebagai panglima perang utama dan representasi tangan kanan penguasa absolut Mataram, memegang kendali penuh atas nasib rakyat kecil, termasuk para nelayan pesisir dan perempuan boyongan perang. Rara Mendut dan Genduk Duku, yang berasal dari daerah taklukan Pati, diposisikan sebagai rampasan perang (booby)—suatu bentuk barang atau komoditas tak berdaya yang harus tunduk pada sistem hegemoni pusat di Karta. Hubungan antara kekuasaan Mataram dan daerah pesisir ini mencerminkan eksploitasi ekonomi dan politik ala feodalisme, di mana rakyat jelata kehilangan kedaulatan atas tanah, wilayah, dan hakikat kemanusiaan mereka sendiri.

Analisis Marxis menjadi semakin relevan ketika melihat fenomena komodifikasi tubuh perempuan dan instrumen perpajakan dalam novel. Ketika Rara Mendut menolak tunduk secara ekonomi dan emosional kepada Tumenggung Wiraguna yang menuntut tubuhnya sebagai hadiah kemenangan perang, Mendut memilih jalur kemandirian ekonomi dengan berdagang rokok kelobot. Namun, respons dari sistem kuasa feodal sangat khas: keberadaan dan kemandirian Rara Mendut dikomodifikasi secara fiskal. Tumenggung Wiraguna dan otoritas istana mengenakan pajak yang luar biasa tinggi atas barang dagangan Mendut. Pajak tersebut bukan sekadar instrumen keuangan negara, melainkan alat penindasan kelas untuk mematikan ruang gerak ekonomi Mendut, sehingga ia dipaksa bergantung kembali pada modal dan kekuasaan kaum feodal.

Selain penindasan kelas dan komodifikasi, novel ini juga memperlihatkan kondisi alienasi atau keterasingan yang dialami oleh Rara Mendut. Marx menyatakan bahwa penindasan sistemik menyebabkan manusia terasing dari hasil kerjanya, dari masyarakatnya, dan dari dirinya sendiri. Rara Mendut mengalami alienasi ketika ia dicabut secara paksa dari tatanan pesisir yang bebas serta bernuansa egalitarian, lalu dimasukkan ke dalam kurungan keraton yang kaku, sarat hierarki, dan penuh intrik kekuasaan. Meski demikian, perlawanan Rara Mendut—bersama kekasihnya, Pranacitra—merupakan bentuk perlawanan kelas yang gigih melawan alienasi total. Pilihan mereka untuk menolak ketundukan, meskipun harus berakhir dengan kematian tragis, menjadi simbol perlawanan kaum tertindas yang menolak untuk sepenuhnya dikontrol dan dijadikan komoditas oleh penguasa.

Secara keseluruhan, novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya berhasil memotret sisi kelam di balik megahnya imperium feodal Mataram. Melalui analisis berbasis teori Karl Marx, terungkap bahwa konflik utama dalam cerita ini bukanlah sekadar cinta segitiga biasa antara Mendut, Wiraguna, dan Pranacitra, melainkan benturan struktural yang mendalam antara kekuasaan feodal yang mengeksploitasi dan kesadaran kelas bawah yang menuntut kebebasan serta hak atas dirinya sendiri. Rara Mendut menjelma sebagai representasi perjuangan kaum tertindas yang berani menantang komodifikasi tubuh dan ketidakadilan sistemik hingga titik darah penghabisan.  ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *