Lakukan Hal Kecil dengan Kasih yang Besar Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD Mat 16:13-20 WARTA-NUSANTARA.COM— Ada 2 fakta yang menjadi latar pengakuan Petrus dalam narasi Injil hari ini. Pertama, Yesus membawa para murid ke Kaisarea Filipi karena di sana ada kuil penyembahan berdinding marmer putih khusus Kaisar Roma. Inilah konteks kekuasaan duniawi yang bergelimang kemewahan. Kekuasaan politik Romawi dilambangkan oleh kuil megah dan indah meski dibangun dengan tetesan darah dan keringat rakyat jelata. Kedua, peristiwa pengakuan Petrus terjadi pada momen yang krusial ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di Provinsi Yudea untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi. Di tengah situasi ini Yesus hendak memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar tahu siapa Dia dan sejauh mana mereka harus berkomitmen ketika saat tragedi diri-Nya tiba. Pertanyaan Yesus kepada para Rasul merupakan ujian kualitas iman mereka. Yesus hendak mendengar pengakuan dari para rasul yang setiap hari mengikuti Dia dan terpesona dengan ajaran-Nya. Yesus hendak memastikan: apakah para Rasul bertahan dan setia mengikuti Dia ketika derita dan salib menjadi kehinaan bagi-Nya di Yerusalem. Yesus hendak memastikan bahwa iman para rasul-Nya tidak goyah menghadapi godaan kekuasaan duniawi yang nikmat yang disimbolkan oleh kuil penyembahan berdinding marmer putih khusus Kaisar Roma dan Kota Kaisarea Filipi yang megah. Kata-kata Petrus, “Engkau adalah Mesias Putera Allah yang Hidup” adalah tidak sekadar pengakuan Petrus tapi juga ungkapan komitmen Petrus dan para rasul untuk setia pada Kristus hingga akhir. Komitmen ini tidak lahir dari ruang kosong. Iman Petrus teruji dalam seluruh ziarah kerasulannya. Sebelum bergabung dengan Yesus, Petrus sudah tercatat di antara para murid Yohanes Pembabtis. Di situlah ia pertama kali bertemu Yesus. Yesus memuji Petrus sebagai nelayan yang rajin menebarkan jala untuk menangkap ikan. Yesus membawa Petrus ke Gunung Tabor untuk menyaksikan kemuliaan-Nya. Yesus membawa Petrus ke Taman Getzemani dan akhirnya Yesus menempatkan Petrus sebagai pemimpin Gereja-Nya. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Catatan Injil ini membantu kita memahami keberanian Petrus mengungkapkan pengakuan imannya yang mendalam kepada Yesus. Tanpa basis religiositas, iman yang mendalam, Petrus yang berprofesi sebagai nelayan kecil danau Galilea ini tidak mungkin memiliki sedikit keberanian pun untuk mengungkapkan imannya yang sangat personal. Tuhan menyebut Petrus sebagai “batu Karang” yang di atasnya jemaat tumbuh dan bertahan hingga saat ini. Alam maut tidak menghancurkan karena Tuhan telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Kematian dan penganiayaan terhadap Gereja sepanajng sejarah tidak akan pernah memusnahkan gereja di muka bumi ini. Ketika gereja ditolak, jemaat semakin banyak. Ketika gereja dipersulit, gereja semakin tumbuh dan mekar. Tertulianus pernah berkata, “Darah para martir adalah benih gereja.” Rasul Paulus kepada jemaat di Roma mengajak kita merenungkan betapa dalam dan luasnya kebijaksanaan Tuhan. Iman bukanlah soal mengerti semuanya melainkan bagaimana memercayakan diri kepada Tuhan, sumber kekuatan sejati agar kita dimampukan dan diteguhkan untuk hidup dalam kasih-Nya. Santo Pius X yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati pernah berkata, “Kekudusan bukanlah soal melakukan hal luar biasa melainkan melakukan hal biasa dengan kasih luar biasa.” Perubahan nama dari Simon menjadi Petrus mengungkapkan cara berpikir, perubahan dan pembaruan oleh rahmat Tuhan. Petrus ditempa melalui kejatuhan, melalui pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan, hingga tiba pada kesadaran bahwa Yesuslah yang menyelamatkannya. Meski rapuh, ia menjadi dasar Gereja berkati bantuan rahmat Tuhan. Tuhan menganugerahkan potensi sebagai kekuatan yang menggerakkan kita bukan sekadar berubah dalam level personal tapi lebih dalam yaitu mengimpikan sebuah dunia yang lebih baik dan lebih layak dihuni. Iman tidak hanya soal identitas tetapi relasi yang hidup secara konkret. Gereja bukan sekadar bangunan melainkan persekutuan kasih yang hidup, tangguh dan penuh harapan. Kita semua yang rapuh telah disatukan oleh Tuhan untuk menjadi Gereja tang hidup dalam persekutuan kasih persaudaraan kasih, damai, penuh pengampunan dan saling memaafkan dengan tulus. Desmon Tutu, teolog dan aktivis penentang apartheid Afrika Selatan memberi judul karyanya, “No Future Without Forgiveness.” Tanpa keberanian memaafkan, tidak ada kedamaian dan kebahagiaan di masa depan. Guru Spiritual India, Mahatma Gandhi bercerita saat akhir hidupnya bahwa ia merasa bahagia setelah hatinya tidak lagi menyimpan nama-nama orang yang layak dimusuhi. *** Post Views: 19 Navigasi pos Bukan Katanya, Tetapi Katamu