Literasi Jadi Benteng Lembata Melawan Hoaks dan Informasi Menyesatkan LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pondasi untuk membentuk masyarakat yang mampu memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta memilah kebenaran di tengah derasnya arus informasi digital. Karena itu, literasi informasi harus menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat Lembata yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terjebak hoaks. Pesan tersebut disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Lembata, Ny. Ursula Bayo Tuaq. Ursula mengatakan, literasi informasi tidak boleh dipandang sebatas kegiatan seremonial. Lebih jauh, literasi merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia karena membekali masyarakat dengan kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. “Literasi bukan hanya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta memecahkan masalah,” ujarnya. Menurut Ursula, budaya literasi harus ditumbuhkan mulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga. Rumah menjadi ruang pertama bagi anak-anak untuk mengenal buku, membaca, berdiskusi, sekaligus belajar memahami informasi. Karena itu, ia mengajak para guru, orang tua, pegiat literasi, dan seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu menjadikan literasi sebagai gerakan bersama di Kabupaten Lembata. “Literasi dimulai dari rumah,” katanya. Ia juga berharap kegiatan literasi informasi tidak berhenti pada pelaksanaan Bimtek, tetapi dilanjutkan secara berkelanjutan sehingga menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkembang, menemukan inspirasi, serta memberikan kontribusi positif bagi keluarga dan masyarakat. “Dengan literasi kita bisa membangun generasi yang mandiri, cerdas, dan berakhlak mulia,” ujarnya. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Anselmus Asan Ola, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya memberikan “pohon pengetahuan” kepada masyarakat, terutama di tengah meningkatnya arus informasi yang belum tentu benar. Ia menilai masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan informasi palsu, termasuk ketika menerima maupun menyebarkan informasi melalui media sosial. “Bagaimana caranya agar kita tidak termasuk masyarakat yang ikut menyebarkan berita hoaks? Kita harus mampu menilai apakah sebuah berita benar atau tidak, apakah sumbernya akurat atau tidak,” kata Anselmus. Menurut dia, perang melawan hoaks tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Tanggung jawab tersebut merupakan pekerjaan bersama karena informasi digital telah masuk ke hampir seluruh sisi kehidupan masyarakat. “Melawan hoaks adalah kerja sama kita semua, bukan hanya pemerintah,” ujarnya. Bimtek Literasi Informasi tersebut dilaksanakan selama tiga hari dengan sasaran peserta yang berbeda. Hari pertama ditujukan bagi para guru, hari kedua bagi pengelola perpustakaan sekolah, sedangkan hari ketiga melibatkan para pegiat literasi. Anselmus menjelaskan, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan komitmen bersama untuk melawan penyebaran informasi palsu. Sementara itu, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Aula Goris Keraf, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Selasa, 15 September 2026 menempatkan literasi dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai instrumen untuk memahami kehidupan dan potensi daerah. Menurutnya, literasi harus mampu membawa masyarakat memahami sektor riil yang menjadi kekuatan Kabupaten Lembata, mulai dari perikanan, pertanian, peternakan hingga UMKM. Ia mencontohkan pentingnya literasi dalam memahami fenomena alam yang berkaitan dengan kehidupan nelayan. Pengetahuan sederhana mengenai arah angin laut dan angin darat, misalnya, merupakan bagian dari literasi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. “Literasi harus mengajarkan kepada generasi bagaimana membaca gelombang laut,” kata Kanisius. Menurut Bupati, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan masyarakat. Literasi harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan literasi dapat diterjemahkan menjadi kemampuan untuk membaca peluang, memahami persoalan, serta mendorong masyarakat terlibat dalam pembangunan daerah. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan Penandatanganan Deklarasi Menolak Hoaks oleh Bupati Lembata, pimpinan DPRD Lembata atau yang mewakili, perwakilan tokoh agama, perwakilan kepala sekolah, serta perwakilan peserta Bimtek. Deklarasi tersebut memuat komitmen bersama untuk menolak penyebaran hoaks, menolak fitnah dan ujaran kebencian, serta menolak informasi yang menyesatkan. Deklarasi itu menjadi penegasan bahwa literasi informasi bukan sekadar kemampuan mengakses informasi, tetapi juga tanggung jawab moral untuk memastikan informasi yang diterima, dipahami, dan disebarluaskan tidak merugikan orang lain maupun masyarakat. Dari Aula Goris Keraf, pesan yang dibangun menjadi jelas: di tengah derasnya arus informasi, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna informasi. Masyarakat harus menjadi pembaca yang kritis, penilai yang cermat, sekaligus penyebar informasi yang bertanggung jawab. Literasi akhirnya bukan hanya tentang membaca kata, tetapi tentang membaca keadaan, membaca kebenaran, dan membaca masa depan Lembata. ***(Sabatani/WN-01) Post Views: 28 Navigasi pos Tepis Rumor Pasca Gempa, Satbinmas Polres Ende Polda NTT Turun ke Warga Edukasi Tangkal Hoaks