Agama  

LUKA, SUMBER IMAN

LUKA, SUMBER IMAN
Ide Inspiratif Homili Minggu 12 April 2026, Injil Yohanes 20:19-31

Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM–  Kita hidup di dunia yang sering mengajarkan untuk menutupi luka. Kita diajarkan untuk terlihat kuat, terlihat baik-baik saja, terlihat “rapi.” Padahal di dalam, mungkin ada banyak hal yang belum selesai:
• luka karena penolakan
• luka karena kegagalan
• luka karena kehilangan
• luka karena kata-kata yang menyakitkan

Mengapa kita sembunyikan luka itu? Jawabannya, karena kita berpikir: “Kalau orang tahu lukaku, aku akan dianggap lemah.” Luka adalah tanda kegagalan. Cara terbaik adalan menyembunyikannya hingga tidak ada yang mengetahuinya.

Tetapi kebangkitan Yesus memberi perspektif yang berbeda:
luka tidak selalu melemahkan—luka bisa menjadi sumber iman.Ada satu hal yang menarik dari kisah kebangkitan: ketika Yesus datang kepada murid-murid-Nya, Ia tidak datang dengan tubuh yang “sempurna tanpa bekas.” Justru sebaliknya—Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya yang terluka.

Oplus_16908288

Luka itu masih ada.

Seandainya kita yang menjadi Yesus, mungkin kita akan berpikir: “Kalau sudah bangkit, kenapa tidak sekalian hilangkan semua bekas luka?” Bukankah itu lebih “sempurna”? Lebih “mulia”? Namun Yesus memilih untuk tetap membawa luka itu. Dan bukan hanya disimpan—Ia menunjukkannya.

Mengapa? Karena bagi Yesus, luka bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Luka adalah bukti kasih. Luka adalah tanda pengorbanan. Luka adalah cerita tentang bagaimana Ia mengasihi sampai tuntas.

Ketika murid-murid melihat luka Yesus, mereka tidak menjadi takut. Justru mereka bersukacita. Mengapa? Karena luka itu membuktikan bahwa:
• Ia benar-benar disalibkan
• Ia benar-benar menderita
• dan sekarang Ia benar-benar hidup

Karena itu dengan memeprlihatkannya, luka telah berubah menjadi jembatan antara penderitaan dan kemenangan. Tanpa luka, kebangkitan terasa seperti cerita.
Dengan luka, kebangkitan menjadi nyata.

Hal yang sama bisa terjadi dalam hidup kita. Luka yang kita alami tidak harus menjadi akhir cerita. Luka bisa menjadi bagian dari kesaksian.
Bayangkan seseorang yang pernah gagal, lalu bangkit kembali.
Atau seseorang yang pernah disakiti, tetapi memilih mengampuni. Atau seseorang yang pernah jatuh, tetapi belajar berdiri lagi.

Apa yang membuat cerita mereka kuat?
Bukan karena hidup mereka tanpa luka. Justru karena mereka punya luka—dan tidak menyerah di dalamnya.

Ada satu momen yang sangat menyentuh: ketika Tomas ingin melihat bukti. Ia berkata bahwa ia tidak akan percaya sebelum melihat dan menyentuh luka Yesus. Dan ketika Yesus datang, Ia tidak menegur Tomas dengan keras. Ia justru berkata, “Taruhlah jarimu di sini.” Yesus mengundang Tomas masuk ke dalam luka-Nya.

Bayangkan itu. Luka yang biasanya kita sembunyikan, justru menjadi tempat perjumpaan iman. Dan dari situ keluar pengakuan yang luar biasa: “Ya Tuhanku dan Allahku. Iman lahir dari perjumpaan—bahkan melalui luka.

Mungkin hari ini Anda sedang membawa luka. Luka yang belum sembuh. Luka yang masih terasa setiap kali diingat. Luka yang membuat Anda bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?”Kisah ini memberi harapan: Tuhan tidak jauh dari luka kita. Bahkan, Ia sendiri pernah terluka.
Dan bukan hanya itu—Ia bisa memakai luka kita untuk sesuatu yang lebih besar.
• Luka bisa membuat kita lebih peka terhadap orang lain
• Luka bisa membuat kita lebih rendah hati
• Luka bisa membuat kita lebih bergantung pada Tuhan
Dan pada waktunya, luka bisa menjadi cerita yang menguatkan orang lain.

Kita juga diajarkan bahwa luka tidak selalu hilang. Tetapi luka bisa berubah makna.
Di tangan Tuhan, luka tidak lagi sekadar rasa sakit— melainkan menjadi sumber iman. Iman bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam penderitaan. Iman bahwa tidak ada air mata yang sia-sia.Iman bahwa selalu ada kebangkitan setelah salib.

Jadi, jangan buru-buru menyembunyikan luka kita tapi bawalah kepada Tuhan.
Biarkan Dia menyentuhnya. Biarkan Dia memberi arti baru.Karena siapa tahu—
justru dari luka itulah, iman kita bertumbuh paling dalam. Dan suatu hari nanti, kita bisa berkata kepada orang lain:“Aku pernah terluka… tetapi di situlah aku bertemu Tuhan.”

Robert Bala. Penulis buku HOMILI YANG MEMBUMI. Cetakan ke-4 Penerbit Kanisius Jogyakarta.

Exit mobile version