LUPA INGATAN

LUPA INGATAN
Ide Inspiratif Homili Minggu Biasa ke-25. 13 September 2026

Oleh : Robert Bala

Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Ada penyakit ingatan yang aneh dalam diri manusia. Kita bisa lupa di mana kita meletakkan kunci, lupa nama seseorang, lupa janji yang pernah kita buat, bahkan lupa kebaikan yang pernah kita terima. Tetapi ada hal-hal tertentu yang justru sangat sulit kita lupakan: kesalahan orang lain kepada kita.

Kita mungkin lupa seribu kebaikannya, tetapi ingat satu kesalahannya. Kita lupa berkali-kali ia menolong kita, tetapi ingat satu kali ia mengecewakan kita. Kita lupa permintaan maafnya, tetapi terus mengingat kesalahannya. Inilah yang bisa kita sebut sebagai “LUPA INGATAN.”Lupa ingatan ini terjadi bukan karena kita kehilangan kemampuan mengingat, tetapi karena kita salah memilih apa yang kita ingat dan apa yang kita lupakan.

Injil hari ini berbicara sangat kuat tentang hal itu. Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Petrus merasa sudah sangat murah hati. Tujuh kali! Tetapi Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus kemudian bercerita tentang seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada tuannya. Utang itu begitu besar sehingga ia tidak mungkin melunasinya.

Tetapi sesuatu yang luar biasa terjadi. Sang tuan tidak hanya memberi kelonggaran. Ia menghapus seluruh utangnya.

Bayangkan! Seseorang yang tidak mampu membayar apa-apa, tiba-tiba dibebaskan dari seluruh utangnya. Namun, tidak lama kemudian, hamba itu bertemu dengan seorang kawannya yang berutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Ia menuntutnya dengan keras dan tidak mau mengampuni.

Di sinilah letak ironi yang ingin ditunjukkan Yesus. Ia sudah menerima pengampunan yang besar, tetapi tidak mampu memberikan pengampunan yang kecil. Ia mengalami belas kasih, tetapi tidak memiliki belas kasih. Ia menerima penghapusan utang, tetapi tidak mau menghapus utang orang lain.

Mengapa? Karena ia lupa ingatan. Ia lupa bahwa dirinya juga pernah menjadi orang yang membutuhkan pengampunan.

Bukankah kita sering seperti hamba itu? Kita sangat pandai mengingat kesalahan orang lain.
“Dia sudah menyakiti saya.”
“Dia pernah mempermalukan saya.”
“Dia pernah mengecewakan saya.”
“Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia lakukan.”

Tetapi Tuhan mungkin bertanya kepada kita: “Dan berapa banyak luka yang telah Aku ampuni dalam hidupmu?” Kita ingat dosa orang lain, tetapi lupa dosa kita sendiri. Kita ingat kesalahan orang lain, tetapi lupa kesabaran Tuhan terhadap kita. Kita ingat berapa kali orang lain menyakiti kita, tetapi lupa berapa kali Tuhan memberi kita kesempatan kedua, ketiga, bahkan kesekian kalinya. Itulah LUPA INGATAN yang paling berbahaya: bukan lupa terhadap masa lalu, tetapi lupa bahwa kita hidup dari pengampunan Tuhan.

Memang, mengampuni memang tidak mudah. Ada luka yang dalam. Ada pengkhianatan yang berat. Ada kata-kata yang tidak mudah dilupakan. Ada hubungan yang rusak karena bertahun-tahun.

Karena itu, mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa luka itu tidak penting. Mengampuni juga bukan berarti membenarkan kesalahan. Mengampuni berarti menolak untuk membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hidup kita. Kita tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi. Tetapi kita dapat memilih apakah masa lalu akan terus menjadi penjara bagi hati kita.

Dan mungkin, untuk mulai mengampuni, kita tidak perlu memaksa diri berkata:
“Saya sudah melupakan semuanya.” Mungkin cukup mulai dengan doa:
“Tuhan, saya belum mampu mengampuni. Tetapi saya mau belajar. Ingatkan saya bahwa saya pun hidup karena Engkau mengampuni saya.”

Robert Bala. Penulis buku: CREATIVE TEACHING. Mengajar Mengikuti Kemauan Otak. Penerbit Gramedia, Cetakan ke-5 (Best Seller).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *