MELEWATKAN KESEMPATAN

Homili Inspiratif, Minggu Biasa ke-28, Bacaan Injil Matius 22:1–10. Minggu 11 Oktober 2026

Oleh : Robert Bala

Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM—   Tentu lebih dari sekali kita pernah merenungi keputusan di masa lalu dan berbisik dalam hati: “Andaikata dulu saya lebih sabar… andaikata dulu saya mau mendengarkan… tentu ceritanya akan jauh berbeda hari ini.”

Kerap kali dalam hidup, kita menyesali kesempatan emas yang terlewatkan begitu saja. Kesempatan yang mungkin dapat membawa kita pada kedamaian, keberhasilan, atau pemulihan relasi.

Namun, mengapa kita melewatkannya? Sering kali bukan karena kita tidak tahu bahwa hal itu baik, melainkan karena egoisme, kesombongan, atau keinginan untuk terlihat hebat dan benar di mata orang lain. Kita enggan menurunkan gengsi, enggan meluangkan waktu, lalu dengan mudah berkata: “Tidak, saya sibuk.”

Pada momen lain, kesempatan itu tidak begitu jelas terlihat. Ia hadir samar-samar. Bagi yang memiliki waktu untuk berhenti sejenak, pilihan itu dapat dirasakan. Namun bagi yang terburu-buru, kesempatan itu nyaris tak terkuak dan lewat begitu saja.

Hari ini, melalui Injil Matius 22:1–10, Yesus menggambarkan Kerajaan Allah bagaikan sebuah pesta perjamuan kawin yang megah. Sebuah kesempatan ketika setiap orang bisa bertemu langsung dengan Sang Raja, pemilik pesta.

Raja telah menyiapkan segalanya. Lembu-lembu tambun telah disembelih dan hidangan terbaik telah ditata. Undangan pun telah disebarkan. Namun, apa tanggapan orang-orang yang diundang? Mereka tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang mengurus bisnisnya, bahkan ada yang marah.

Undangan Tuhan sering kali hadir dengan sangat halus. Ia tidak menyapa kita dengan teriakan yang memaksa, melainkan dengan bisikan lembut di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan mingguan—tuntutan pekerjaan, urusan rumah tangga, dan ambisi pribadi—Tuhan menyapa dan mengundang kita: “Datanglah ke perjamuan-Ku. Luangkan waktu sejenak. Hadirlah secara utuh bersama-Ku.”

Tidak hanya di gereja, Tuhan juga hadir dalam diri orang-orang sederhana yang menyapa kita dalam rupa yang berbeda. Namun karena kita memandangnya dengan tatapan seadanya, kita gagal menangkap makna yang jauh lebih dalam. Kita pun akhirnya menolak undangan halus itu dengan bermacam alasan yang terkesan masuk akal. Kita melewatkan kesempatan untuk mengalami kasih dan kedamaian-Nya hanya karena enggan berhenti sejenak untuk mendengarkan dan mempertimbangkan dengan matang.

Ada hal yang jauh lebih dalam. Terhadap model panggilan di atas, bisa saja kita merasa sudah biasa mendengarkan suara Tuhan. Kita bahkan berbangga karena partisipasi kita masih jauh lebih baik daripada orang lain yang tidak pernah kenal gereja.

Namun di sinilah muncul tantangan yang lebih besar. Kerap kali kita sudah merasa aman hanya dengan menjadi seorang Kristiani. Padahal Yesus justru menyingkapkan kepincangan ini. Jika kita sudah menyatakan “ya”, kita tidak sekadar hadir atau sekadar menampakkan diri, melainkan harus ‘berpakaian pesta’. Berpakaian pesta adalah komitmen untuk mengikuti-Nya secara jujur dan konsekuen. Dengan demikian, kita tidak sekadar meluangkan waktu dan bertemu dengan Tuhan, tetapi juga mengalami transformasi atau pembaharuan diri.

Sebagai penutup perenungan hari ini, izinkan saya membagikan sebuah cerita inspiratif. Suatu hari, di sebuah stasiun kereta bawah tanah yang padat pada jam sibuk pagi hari, seorang pria berdiri memegang biola. Selama 45 menit, ia memainkan enam karya musik klasik terbaik buatan Bach. Ribuan orang melewatinya. Kebanyakan berjalan terburu-buru, berpikiran tentang pekerjaan, rapat, dan target hari itu. Hanya sedikit yang berhenti beberapa detik, lalu melanjutkan langkahnya. Tidak ada kerumunan yang berdiri mendengarkan.

Orang-orang di stasiun itu tidak tahu bahwa biolis tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terhebat di dunia, yang memainkan biola langka senilai puluhan miliar rupiah. Dua hari sebelumnya, orang-orang rela membayar jutaan rupiah hanya untuk duduk dan mendengarkan permainan biolanya di gedung pertunjukan yang megah. Namun di stasiun itu, ketika keindahan dan keagungan hadir secara cuma-cuma di tengah kesibukan mereka, hampir semua orang menolaknya dan melewatkannya begitu saja karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Bacaan hari ini menyadarkan kita bahwa setiap saat Tuhan memanggil melalui berbagai cara. Ia tahu apa yang terbaik dari apa yang kita minta dalam doa-doa kita. Namun kerap kali kesempatan itu terlewatkan hanya karena kita salah memandang. Kita terkecoh oleh hal-hal lahiriah. Peristiwa ini membawa kita pada cara pandang baru untuk menjadi lebih bijaksana, reflektif, dan semakin akrab dengan keheningan—sebab di sanalah Tuhan berbicara dalam suara yang halus.

Tuhan jauh lebih agung daripada alunan biola Joshua Bell. Setiap hari, terlebih pada hari Minggu ini, Ia mengundang kita ke dalam perjamuan kasih-Nya. Jangan biarkan kesombongan, rasa sok sibuk, dan keegoisan membuat kita menolak undangan itu. Hari ini, mari kita buka hati. Luangkan waktu nyata, dengarkan suara-Nya dengan sabar, dan hadirlah secara utuh dalam relasi dengan-Nya. Jangan sampai kelak kita menyesal karena telah melewatkan kasih Tuhan yang begitu indah, hanya karena terlalu sibuk mengejar hal-hal yang fana.

Robert Bala. Penulis buku: JALAN SAMBIL BERJALAN: Narasi Hidup dan Karya P. Amans Laka, SVD. Penerbit Kanisius Yogyakarta, 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *