MERANCANG KEMATIAN Dari Wafatnya P. Nicholas Strawn, SVD Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Kematian seorang misionaris bukan sekadar peristiwa biologis atau duka cita lokal. Ia adalah babak teologis tentang peninggalan jejak iman. Wafatnya P. Nicholas Strawn, SVD (4 Agustus 2026)—pastor kelahiran Amerika Serikat yang mendedikasikan hampir seperempat abad hidupnya di Lembata—membuka ruang permenungan kritis tentang bagaimana Gereja lokal (Dekenat Lembata) memperlakukan jasad para pelayannya. Keputusan memakamkan P. Nicholas di Pemakaman St. Damian Lewoleba, ketimbang membaringkannya di samping P. Conrad Beeker, SVD di Lerek yang telah gugur 70 tahun silam (1956), menghadirkan pergulatan tersendiri. Di satu sisi, Lewoleba menjadi tempat sentral yang memudahkan siapa saja, terutama Paroki Lerek dan Boto, untuk berdoa. Di sini benar apa yang dikatakan oleh Tertullianus, seorang apologet. Ungkapan “Sanguis martyrum semen christianorum” (Darah/pengorbanan para martir dan misionaris adalah benih umat Kristiani) mengingatkan bahwa darah martir adalah akar bertumbuhnya iman lokal. Nisan para misionaris atau imam yang bersahaja merupakan simbol yang begitu bermakna. Sampai di sini, ide ini dapat diterima. Namun bila kita mengintip pemikiran Ratzinger (Paus Benediktus XVI), ada sesuatu yang mengganjal. Baginya, makam bukan simbol akhir atau kekosongan, melainkan tempat kenangan liturgis (memoria) dan pengharapan. Oleh karena itu, estetika dan ketertataan makam mencerminkan sejauh mana umat menghargai doktrin kebangkitan tersebut. Hal ini tentu jauh lebih mendalam ketika dikaitkan dengan makam misionaris seperti yang terjadi pada P. Nicholas Strawn, SVD. Makam misionaris bukan sekadar tempat menimbun tanah di atas jasad, melainkan monumentum—ruang pengingat akan pengorbanan, iman, dan ziarah sejarah. Membiarkan makam misionaris berada di area yang minim tata ruang berarti mengabaikan dimensi pedagogis dan spiritual dari keberadaan mereka. Sampai pada titik ini, St. Damian—tempat jasad P. Nicholas Strawn, SVD dibaringkan bersama beberapa imam lainnya—lebih menyerupai tempat pemakaman biasa. Posisi kubur belum tertata. Padahal keberadaan makam P. Nicholas kini dan makam imam lainnya adalah simbol inkulturasi dan kesetiaan hingga akhir hayat. Karenanya, kalau mereka menetap di tanah tempat mereka melayani, tempat itu wajib dirancang secara pantas: rapi, adem, kontemplatif, dan terbuka sebagai tempat doa (locus orationis) bagi siapa saja. Ruang Sakral “Niko” dan “Beeker” Sadar akan nilai-nilai di atas, timbul pertanyaan penting: apakah Pemakaman St. Damian telah didesain sebagai pemakaman khusus? Pertanyaan ini penting karena terkesan pada awalnya tempat ini hanya tempat membaringkan jasad imam dan biarawan yang pada akhirnya ‘diakui’ sebagai pemakaman khusus. Sayangnya, desain tempat dengan estetika dan kenyamanan yang membuat orang betah melupakan waktu tentu masih jauh dari harapan. Artinya, St. Damian memang tempat pemakaman khusus, tetapi perlu dirancang sebagai tempat kematian yang inspiratif. Terkait hal ini, ada tiga pemikiran yang perlu menjadi agenda. Pertama, tempat peristirahatan akhir perlu dirancang sebagai tempat doa. Bila seorang imam wafat dan kehidupannya benar-benar mengakar pada umat seperti P. Nicholas Strawn, SVD, maka pertimbangan utamanya adalah sejauh mana potensi tempat tersebut sebagai ruang ziarah, ketimbang sekadar memilih letak geografis. Dalam arti ini, Watuwawer di Paroki Lerek mestinya bukan lagi hal yang sebatas dibicarakan, melainkan sudah terbukti. Karena itu, harapan bahwa setelah beberapa tahun ‘Tuan Niko’ bisa berbaring di Watuwawer sebagai pusat ziarah mestinya dijadikan target ke depannya. Kedua, dalam rancangan tempat pemakaman merupakan kekhususan umat yang perlu didengarkan. Umat, dengan keterbatasan pemahaman teologisnya, justru merupakan pihak yang paling menjiwai Katekismus Gereja Katolik No. 2300 yang menyatakan: “Jenazah orang beriman harus diperlakukan dengan rasa hormat dan kasih dalam iman akan kebangkitan.” Sikap hormat inilah yang mendorong umat begitu telaten melaksanakan doa 4 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, bahkan 1000 hari. Praktik seperti ini menjadi sebuah kekuatan yang darinya para klerus perlu belajar. Desain Tempat Pemakaman Khusus (berbeda dari Tempat Pemakaman Umum), perlu mempertimbangkan estetika, kenyamanan, dan desain tata letak yang baik. Untuk hal ini, suara umat mestinya didengarkan karena tidak sekadar membangun tempat tetapi justru umat dnegan kesederhanannya, merekalah yang merawatnya. Aneka jenis doa yang diungkap dengan rasa mendalam itulah kelebihan umat yang sedikit berteologi teoretis tetapi sungguh berteologi dalam arti yang paling praktis. Ketiga, kematian P. Nicholas Strawn, SVD yang menghadirkan ribuan umat mengingatkan kita pada pemikiran Mircea Eliade. Ia menekankan pentingnya ruang sakral (sacred space). Makam seorang tokoh spiritual berfungsi sebagai axis mundi—titik temu antara dunia profan sehari-hari dengan ingatan akan yang ilahi. Tempat pemakaman yang didesain dengan baik mengubah area biasa menjadi ruang tempat peziarah menemukan kedamaian dan ketenangan batin. Karena itu, “merancang kematian” yang sangat dihayati umat perlu menjadi pembelajaran juga bagi para imam dan uskup dalam merancang tempat kematian. Di baliknya terdapat pesan bahwa merancang tempat peristirahatan akhir para misionaris di Lembata bukanlah tentang membangun monumen kemewahan, melainkan tentang menghadirkan ruang kenangan spiritual yang tertata. Dengan menghargai jasad mereka melalui tata ruang pemakaman yang pantas dan indah, gereja tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga menyediakan warisan iman dan tempat doa yang hidup bagi generasi mendatang. Robert Bala. Penulis buku “MENGIRINGI KEMATIAN” (Penerbit Ledalero) & Ketua Yayasan Koker Niko Beeker. Post Views: 25 Navigasi pos Pater Nicholas Joseph Strawn,SVD Jasa dan Karya Pelayanan Abadi di Tanah Misi Lembata