Merawat Bumi, Memelihara Kehidupan (Catatan atas kegiatan Panen Bersama di Detuboti) Oleh: Damianus Dionisius Nuwa Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende WARTA-NUSANTARA.COM— Pada Hari Jumat, 14 Oktober, Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD menghadiri kegiatan panen bersama hasil kajian uji coba penerapan pupuk organik di Dusun Detuboti, Desa Mautenda Barat, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende. Kegiatan yang bertajuk Panen Bersama, Belajar Bersama melibatkan para petani dampingan Yayasan Tana Nua dan dihadiri pula oleh para peneliti Universitas Flores, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende, Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Wewaria, perwakilan dari 24 Desa Binaan Yayasan Tana Nua, para mosalaki, pastor Kuasi Tanali, Ketua Stasi Raaweka dan masyarakat di wilayah Mautenda Barat. Apa yang diselenggarakan ini tentu bukan sekadar perayaan atas hasil kerja di sawah. Lebih dari itu, panen bersama tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali hubungan manusia dengan tanah, alam, pangan, dan masa depan kehidupan bersama. Di tengah tantangan pertanian modern, pertanian dengan penerapan pupuk organik menawarkan sebuah jalan yang patut mendapat perhatian serius. Ketika petani berhadapan dengan kenaikan biaya produksi, ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia, perubahan iklim, serta ketidakpastian harga hasil panen, pertanian organik mengajak kita untuk membangun cara bertani yang berkelanjutan. Tanah tidak hanya dipandang sebagai tempat menghasilkan komoditas, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selama bertahun-tahun, kemajuan pertanian kerap diukur dari banyaknya hasil yang diperoleh dalam satu musim tanam. Ukuran ini tentu penting karena petani membutuhkan produksi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masyarakat. Namun, produktivitas tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pertanian. Kita juga perlu bertanya tentang bagaimana kondisi tanah setelah bertahun-tahun ditanami? Apakah sumber air tetap terjaga? Apakah biaya produksi semakin membebani petani? Dan apakah sistem pertanian yang kita jalankan masih mampu menopang kehidupan anak cucu kita? Pertanian organik mengajak kita memperluas cara pandang tersebut. Melalui pemanfaatan bahan-bahan organik, pengelolaan kesuburan tanah, pengurangan ketergantungan pada input kimia sintetis, serta pemeliharaan keseimbangan ekosistem, petani berupaya membangun sistem produksi yang lebih ramah lingkungan. Tentu, pertanian organik bukan jalan tanpa tantangan. Petani membutuhkan pengetahuan, pendampingan berkelanjutan, ketersediaan bahan organik, pengendalian hama yang tepat, dan akses pasar yang adil. Pada masa peralihan, hasil panen bahkan dapat mengalami perubahan. Karena itu, keberhasilan pertanian organik tidak cukup dinilai dari satu kali panen. Ia perlu dilihat dari keberlanjutan kesuburan tanah, kestabilan produksi, biaya yang dikeluarkan, pendapatan petani, dan manfaatnya bagi lingkungan. Dalam konteks inilah, panen bersama di Detuboti memiliki makna penting. Hasil panen menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apa yang telah berhasil, mengenali kesulitan yang masih dihadapi, dan memperkuat komitmen untuk melanjutkan proses pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kita sering menikmati nasi di meja makan tanpa sungguh-sungguh memikirkan kerja keras orang-orang yang menanam padi. Padahal, di balik setiap butir beras terdapat perjuangan petani menghadapi cuaca, mengolah tanah, menanam, merawat, dan menunggu hasil dengan penuh harapan. Karena itu, pembicaraan tentang pertanian organik tidak boleh berhenti pada urusan teknik budidaya. Pertanyaan yang tidak kalah penting ialah apakah sistem pertanian tersebut sungguh meningkatkan kesejahteraan petani. Jangan sampai petani diminta menjaga lingkungan, tetapi harus menanggung sendiri seluruh biaya dan risiko peralihannya. Jangan sampai beras organik memperoleh harga premium di pasar, sementara petani yang memproduksinya tetap menerima pendapatan yang tidak sebanding dengan kerja keras mereka. Pertanian organik harus berjalan bersama penguatan posisi tawar petani. Kelompok tani perlu didukung untuk mengelola produksi secara kolektif, menghitung biaya usaha tani, menjaga mutu hasil, membangun jaringan pemasaran, dan memperoleh harga yang layak. Konsumen juga perlu dididik agar memahami bahwa harga pangan yang adil tidak hanya membayar beras, tetapi juga menghargai tenaga petani dan upaya menjaga lingkungan. Di sinilah pendampingan Yayasan Tana Nua menjadi relevan. Pendampingan pertanian seharusnya tidak hanya membantu petani menguasai teknik budidaya, tetapi juga memperkuat organisasi, pengetahuan, kemandirian, dan kemampuan mereka mengambil keputusan. Tujuan akhirnya bukan membuat petani terus bergantung pada pendamping, melainkan membantu mereka menjadi pelaku utama yang mampu mengelola pertanian dan memperjuangkan kesejahteraannya sendiri. Kehadiran Bapak Uskup Agung Ende dalam kegiatan panen bersama tersebut juga dapat dibaca dalam terang panggilan sosial dan ekologis Gereja. Gereja tidak hanya hadir ketika umat berdoa dan merayakan sakramen, tetapi juga ketika masyarakat berjuang mempertahankan kehidupan, mengolah tanah, memenuhi kebutuhan pangan, dan membangun masa depan yang lebih baik. Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat, bukan dieksploitasi tanpa batas. Krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial, sebab kerusakan lingkungan sering kali paling berat dirasakan oleh kelompok yang rentan, termasuk petani kecil. Perspektif ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap alam dan perjuangan untuk kesejahteraan petani tidak boleh dipisahkan. Tanah yang rusak mengancam sumber penghidupan masyarakat. Air yang tercemar membahayakan kesehatan. Ketergantungan pada sarana produksi yang mahal dapat mempersempit ruang gerak ekonomi petani. Karena itu, pertanian yang berkelanjutan merupakan bagian dari perjuangan menjaga martabat manusia sekaligus melindungi alam. Bagi Gereja lokal, perhatian terhadap pertanian organik dapat diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret. Paroki dan komunitas umat basis dapat menjadi ruang pendidikan ekologis, berbagi pengetahuan pertanian, mengembangkan kebun pangan keluarga, membangun solidaritas pemasaran, dan mendorong pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Kerja sama dengan kelompok tani, lembaga pendamping, pemerintah, dan lembaga pendidikan perlu diperkuat agar gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Kehadiran pemimpin Gereja di tengah para petani memperoleh makna yang lebih mendalam ketika disertai keberpihakan nyata terhadap kebutuhan mereka. Petani perlu didengarkan, persoalan mereka perlu dipahami, dan perjuangan mereka perlu didukung secara berkelanjutan. Panen bersama di Detuboti seharusnya tidak berakhir ketika padi telah dipotong dan hasilnya dikumpulkan. Panen itu perlu menjadi awal dari percakapan yang lebih luas mengenai masa depan pertanian di wilayah Keuskupan Agung Ende. Apakah semakin banyak petani dapat belajar dan menerapkan pertanian organik sesuai kondisi lahannya? Apakah tersedia pendampingan teknis yang memadai? Apakah hasil panen memperoleh pasar dan harga yang layak? Apakah generasi muda melihat pertanian sebagai pekerjaan yang bermartabat dan memiliki masa depan? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab melalui kerja bersama dan evaluasi yang jujur. Pemerintah Daerah sendiri perlu membuka akses terhadap pelatihan, sarana produksi yang sesuai, pembiayaan, infrastruktur, dan pasar. Lembaga pendamping perlu terus memperkuat kapasitas petani. Gereja dapat membangun kesadaran ekologis dan solidaritas sosial. Sementara itu, konsumen dapat mendukung praktik pertanian yang bertanggung jawab melalui pilihan pangan dan penghargaan yang adil terhadap produsen. Tentu, pertanian organik bukan satu-satunya jawaban atas seluruh persoalan pertanian. Penerapannya harus memperhatikan kondisi tanah, ketersediaan air, iklim, kemampuan petani, dan kebutuhan pangan masyarakat. Namun, upaya untuk mengurangi kerusakan lingkungan, memperbaiki kesehatan tanah, dan memperkuat kemandirian petani merupakan langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Pada akhirnya, keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari berapa banyak padi yang dipanen, tetapi juga dari apakah petani hidup lebih sejahtera, tanah tetap subur, lingkungan terjaga, dan generasi mendatang masih memiliki sumber kehidupan. Panen bersama di Detuboti mengingatkan kita bahwa merawat bumi bukan pekerjaan satu kelompok atau satu lembaga. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Ketika petani merawat tanah, masyarakat menghargai hasil kerja mereka, lembaga pendamping memperkuat kemampuan mereka, dan Gereja berjalan bersama perjuangan mereka, pertanian tidak sekadar menghasilkan beras. Pertanian menjadi jalan untuk merawat bumi dan memelihara kehidupan. Karena itu, panen yang sungguh berhasil bukan hanya panen yang memenuhi lumbung hari ini, melainkan panen yang memungkinkan tanah tetap memberi kehidupan dan petani tetap memiliki harapan esok ha Post Views: 12 Navigasi pos Sengketa Lahan di Desa Binawali : Antara Cacat Administrasi dan Indikasi Mafia Tanah