Nelson Mandela: 27 Tahun yang Mengubah Seorang Manusia Oleh: Alexander Agung Nugroho Mahasiswa Program Studi Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Pada sebuah pagi yang dingin di Robben Island, seorang pria berjalan perlahan menuju tempat kerjanya. Di hadapannya bukan gedung pemerintahan, bukan pula ruang sidang tempat ia memperjuangkan kebebasan. Yang menunggunya adalah batu-batu kapur yang harus dihancurkan dengan tangan. Namanya Nelson Rolihlahla Mandela. Hari itu mungkin tampak seperti hari biasa. Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada orang yang menyebutnya sebagai calon presiden atau simbol perjuangan melawan apartheid. Ia hanyalah seorang tahanan yang sedang menjalani hukuman penjara. Namun, justru di tempat itulah kisah kemanusiaan Mandela ditempa. Mandela menghabiskan 27 tahun hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian besar waktunya dihabiskan di Robben Island, sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Cape Town, Afrika Selatan. Selama bertahun-tahun, ia harus hidup dalam ruang yang sempit, bekerja keras, berhadapan dengan penjaga penjara, dan terpisah dari keluarga. Bagi sebagian orang, penjara mungkin cukup untuk menghancurkan harapan. Bagi Mandela, penjara justru menjadi tempat untuk belajar mengendalikan dirinya sendiri. Ia kehilangan kebebasan, tetapi berusaha mempertahankan pikirannya. Ia kehilangan waktu bersama keluarga, tetapi tidak membiarkan kebencian mengambil seluruh hidupnya. Dan yang paling penting, ia tidak membiarkan penjara mengubahnya menjadi orang yang sama kejamnya dengan sistem yang ia lawan. Anak Desa yang Memilih Melawan Nelson Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di Mvezo, Afrika Selatan. Ia berasal dari keluarga Thembu dan tumbuh dalam lingkungan yang memiliki tradisi serta nilai-nilai komunitas yang kuat. Nama tengahnya, Rolihlahla, dalam bahasa Xhosa sering diterjemahkan sebagai “menarik cabang pohon”, tetapi juga memiliki makna informal yang kurang lebih berarti “pembuat masalah”. Seolah-olah nama itu menjadi pertanda kecil dari perjalanan hidupnya. Mandela tumbuh di Afrika Selatan ketika masyarakatnya dipisahkan berdasarkan ras. Ketika apartheid secara resmi diberlakukan pada 1948, diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam semakin terstruktur. Mereka menghadapi berbagai pembatasan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, hingga hak politik.Mandela tidak ingin hanya menyaksikan keadaan tersebut. Ia bergabung dengan African National Congress (ANC) dan mulai terlibat dalam perjuangan politik. Ia menjadi salah satu tokoh yang mendorong masyarakat kulit hitam untuk menentang sistem yang dianggap tidak adil. Namun, perjuangan itu memiliki harga yang mahal. Mandela akhirnya ditangkap dan pada 1964 dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Usianya ketika itu 46 tahun. Bayangkan seorang pria berusia 46 tahun diberitahu bahwa ia mungkin tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Tidak ada kepastian kapan ia akan pulang, tidak ada kepastian apakah ia akan kembali bertemu keluarganya. tidak ada kepastian apakah perjuangan yang ia lakukan akan berhasil. Tetapi Mandela masuk ke penjara dengan sesuatu yang tidak dapat dirampas oleh pemerintah: keyakinannya. Di Robben Island, kehidupan Mandela berubah drastis. Dunianya mulai menyempit. Dari seorang aktivis dan pemimpin politik, ia berubah menjadi seorang tahanan. Ia menjalani pekerjaan fisik yang berat dan menghadapi kondisi penjara yang keras. Komunikasi dengan dunia luar pun sangat terbatas. Salah satu bagian paling menyakitkan dari kehidupan penjara bukan hanya jeruji besi melainkan jarak. Mandela tidak dapat menyaksikan anak-anaknya tumbuh. Ia kehilangan momen-momen keluarga yang bagi kebanyakan orang mungkin dianggap sederhana: makan bersama, berbicara, merayakan ulang tahun, atau sekadar berada di rumah pada sore hari. Surat menjadi salah satu penghubungnya dengan dunia luar. Namun surat pun memiliki keterbatasan. Jumlahnya dibatasi, isinya dapat disensor, dan komunikasi tidak pernah bisa menggantikan kehadiran seseorang. Ada ironi besar dalam kehidupan Mandela. Ia memperjuangkan kebebasan jutaan orang, tetapi selama puluhan tahun ia sendiri tidak bebas. Ia berbicara tentang masa depan Afrika Selatan, sementara masa depannya sendiri tidak jelas. Tetapi Mandela tidak berhenti belajar. Meski di penjara, ia membaca. Ia berdiskusi dengan tahanan lain. Ia mempelajari bahasa Afrikaans, bahasa yang digunakan oleh banyak orang dari kelompok yang menguasai pemerintahan apartheid. Keputusannya mempelajari bahasa pihak yang berlawanan bukan sekadar persoalan komunikasi. Mandela ingin memahami cara berpikir lawannya. Baginya, memahami seseorang tidak berarti menyetujui tindakannya. Justru dengan memahami orang lain, seseorang dapat mengetahui bagaimana cara menghadapi konflik tanpa terus-menerus terjebak dalam kebencian. Mengendalikan emosi Sering kali tokoh sejarah digambarkan seolah-olah mereka tidak memiliki emosi. Mandela bukan seperti itu. Ia adalah manusia. Ia pernah marah. Ia pernah kecewa. Ia pernah merasa kehilangan. Ia juga pernah mengalami rasa sakit yang mendalam. Tetapi salah satu pelajaran terbesar dari hidupnya adalah bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa marah.Keberanian adalah kemampuan untuk menentukan apa yang dilakukan setelah kemarahan muncul. Mandela menyadari bahwa kebencian dapat menjadi penjara kedua. Seseorang bisa saja keluar dari penjara secara fisik, tetapi tetap menjadi tahanan dari kemarahannya sendiri. Karena itu, ketika kesempatan untuk mengakhiri apartheid mulai terbuka, Mandela tidak memilih jalan pembalasan.Pada 11 Februari 1990, setelah 27 tahun dipenjara, ia akhirnya dibebaskan.Usianya hampir 72 tahun. Dunia menyambutnya sebagai simbol perjuangan. Namun, bagi Mandela sendiri, kebebasan itu membawa pekerjaan baru yang jauh lebih berat. Ia harus membantu sebuah negara yang terluka untuk berdamai dengan masa lalunya. Dari Tahanan Menjadi Presiden Setelah dibebaskan, Mandela tidak berhenti memperjuangkan perubahan. Ia terlibat dalam negosiasi dengan pemerintah Afrika Selatan untuk mengakhiri sistem apartheid dan membangun demokrasi. Pada 1993, Mandela dan F. W. de Klerk menerima Nobel Perdamaian atas usaha mereka mengakhiri apartheid secara damai. Setahun kemudian, Afrika Selatan mengadakan pemilu demokratis yang memungkinkan masyarakat dari berbagai kelompok ras untuk memberikan suara. Mandela memenangkan pemilu tersebut. Pada 10 Mei 1994, ia dilantik sebagai presiden Afrika Selatan. Seorang pria yang sebelumnya diperlakukan sebagai tahanan politik kini berdiri sebagai kepala negara. Namun, yang menarik dari Mandela bukan hanya perubahan posisinya. Yang menarik adalah bagaimana ia menggunakan posisi tersebut. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai kesempatan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang pernah menindasnya. Mandela justru berbicara tentang rekonsiliasi. Ia memahami bahwa Afrika Selatan tidak mungkin dibangun hanya dengan mengganti siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah. Negara itu harus menemukan cara agar orang-orang yang sebelumnya saling membenci dapat hidup bersama. Salah satu simbol pendekatan tersebut terlihat ketika Mandela mendukung penggunaan olahraga sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat. Pada Piala Dunia Rugby 1995, Mandela mengenakan jersey tim nasional Springboks. Bagi banyak masyarakat kulit hitam Afrika Selatan saat itu, Springboks sebelumnya dianggap sebagai simbol pemerintahan dan masyarakat kulit putih. Namun Mandela datang mengenakan jersey tersebut. Pesannya sederhana tetapi kuat: Afrika Selatan bukan milik satu kelompok saja. Negara itu milik semua. Seorang Ayah yang Tidak Bisa Mengulang Waktu Di balik semua keberhasilan politiknya, terdapat sisi kehidupan Mandela yang tidak pernah bisa sepenuhnya diperbaiki. Ia kehilangan banyak waktu bersama keluarganya. Menjadi tokoh besar tidak membuat waktu yang hilang kembali. Ketika Mandela keluar dari penjara, anak-anaknya sudah tumbuh. Dunia telah berubah. Ia pun berubah. Ada sesuatu yang tragis dalam kisah tersebut. Mandela berhasil memperoleh kebebasan bagi dirinya dan bangsanya, tetapi ia harus membayar harga berupa tahun-tahun yang tidak dapat dikembalikan. Itulah sebabnya Mandela tidak seharusnya hanya dilihat sebagai patung, foto di buku sejarah, atau nama jalan. Di balik gelar “Bapak Bangsa Afrika Selatan”, terdapat seorang manusia yang pernah menjadi anak, suami, ayah, teman, tahanan, dan seorang pria tua yang akhirnya kembali melihat dunia setelah puluhan tahun berada di balik jeruji. Ia bukan manusia tanpa kesalahan, Ia bukan manusia yang selalu benar, Ia adalah manusia yang terus belajar menghadapi kesalahannya sendiri, menghadapi musuhnya, dan menghadapi masa lalu. Kebebasan yang Lebih Besar daripada Dirinya Mandela meninggalkan jabatan presiden pada 1999 setelah satu periode. Keputusan itu juga menunjukkan pandangannya mengenai kekuasaan. Ia tidak berusaha mempertahankan jabatan selama mungkin. Setelah tidak lagi menjadi presiden, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, terutama yang berkaitan dengan perdamaian, kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Ia kemudian menjadi simbol global mengenai perjuangan terhadap ketidakadilan. Namun, semakin terkenal seseorang, semakin mudah manusia di balik tokoh tersebut dilupakan. Mandela pernah mengatakan bahwa perjalanan menuju kebebasan bukanlah perjalanan yang sederhana. Ia menggambarkan kebebasan sebagai sesuatu yang tidak hanya berkaitan dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan kebebasan orang lain. Mungkin di situlah inti dari kisahnya. Mandela tidak memperjuangkan kebebasan hanya agar dirinya dapat keluar dari penjara. Ia memperjuangkan masyarakat yang dapat menentukan masa depannya sendiri. Dan setelah memperoleh kesempatan untuk membalas, ia memilih membangun jembatan. 27 Tahun yang Tidak Sia-Sia Nelson Mandela meninggal pada 5 Desember 2013 di Johannesburg, pada usia 95 tahun. Kepergiannya dirasakan di berbagai belahan dunia. Namun, warisan terbesar Mandela bukanlah patung, penghargaan, atau bahkan jabatan presiden yang pernah ia duduki. Warisan terbesarnya adalah gagasan bahwa manusia tidak harus menjadi seperti orang yang menyakitinya. Ia dipenjara selama 27 tahun. Tetapi penjara tidak berhasil mengurung pikirannya. Ia pernah mengalami diskriminasi. Tetapi ia tidak menjadikan diskriminasi sebagai alasan untuk menciptakan ketidakadilan baru. Ia pernah memiliki alasan untuk membenci. Tetapi ia memilih rekonsiliasi. Kisah Mandela akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seorang tahanan menjadi presiden. Kisahnya adalah tentang bagaimana seorang manusia menghadapi kehilangan, kemarahan, kesepian, dan ketidakadilan tanpa kehilangan kemanusiaannya sendiri. Mungkin karena itulah nama Nelson Mandela terus hidup. Bukan karena ia tidak pernah mengalami kegagalan atau rasa sakit. Melainkan karena setelah mengalami semuanya, ia tetap memilih untuk percaya bahwa manusia dapat berubah. Dan mungkin, itulah bentuk kebebasan yang paling sulit. Bukan sekadar membuka pintu penjara. Tetapi mampu keluar dari sana tanpa membawa penjara itu di dalam hati. Post Views: 15 Navigasi pos Menyingkap Keterasingan Subjek: Analisis Alienasi Marxis dalam Rara Mendut Tanah, Kekuasaan, dan Perlawanan Petani dalam Novel Saman Karya Ayu Utami