Oha Lilin Lamakera: Tarian Cahaya, Simbol Rekonsiliasi dan Persatuan Umat Flores Timur, 6 Juli 2026 FLOTIM : WARTA-NUSANTARA.COM— Plataran utama Masjid Al-Ijtihad Lamakera berubah menjadi lautan cahaya pada malam itu, 6 Juli 2026. Ribuan lilin menyala, menerangi wajah-wajah warga Desa Motonwutun dan Watobuku (Lamakera), serta tamu dari Waiwerang dan sekitarnya. Mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan bersatu dalam ritme Oha Lilin atau Soleh Oha, puncak seni dari rangkaian Reuni VII dan Musyawarah Nasional (Munas) II YAMALI 2026. Suasana magis terasa kental. Ibu-ibu, kebarak dan kaum bapak juga pemuda Lamakera tampak antusias memasuki lingkaran tarian. Namun, ada aturan tak tertulis yang ditaati: siapa pun yang masuk ke dalam lingkaran lilin wajib menggunakan kewatak (pakaian adat). Ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap sakralitas momen tersebut. Filosofi Hati: Jika Hati Rusak, Hidup Hancur Di balik gemerlap cahaya lilin, tersimpan pesan filosofis yang dalam. Seorang ibu warga setempat, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menuturkan bahwa Oha Lilin bukan sekadar tarian hiburan. Bagi masyarakat Lamaholot, tarian ini adalah cermin kehidupan sehari-hari. “Inti dari Soleh Oha adalah menjaga hati,” ujarnya. Senada dengan itu, seorang tetua adat lainnya menambahkan peringatan keras namun bijak: “Bila hatimu rusak, maka seluruh hidupmu akan hancur.” Tetua tersebut juga menjelaskan makna lingkaran dalam tarian yang tidak berujung itu. Lingkaran tersebut melambangkan siklus kehidupan manusia yang terus berlanjut sepanjang masa, dari generasi ke generasi, tanpa putus. Simbol Kesetaraan: Tak Ada Atasan, Tak Ada Bawahan Salah satu kekuatan visual Oha Lilin adalah formasi penarinya. Mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran utuh. Dalam lingkaran itu, sekat-sekat sosial runtuh. Tidak ada perbedaan usia, status sosial, jabatan, atau asal-usul. Ini adalah pesan radikal tentang kesetaraan: Kita semua sama derajat, satu darah. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, dan tidak ada yang merasa lebih rendah. Gerakan serempak dan syair-syair adat yang dilantunkan merupakan wujud syukur kepada Rera Wulan Tanah Ekan (Allah SWT) atas rezeki, keselamatan, dan kehidupan. sekaligus penghormatan mendalam kepada leluhur yang mewariskan nilai-nilai luhur ini. Jelas Dr. Malik Tarian Perdamaian: Menghapus Dendam, Merajut Ikatan Bahrudin Mukin, salah satu tokoh budaya setempat, menjelaskan bahwa Soleh Oha adalah tarian yang “membumi” di tanah Lamakera. Tarian ini hanya ditampilkan pada momen-momen khusus, seperti setelah pelaksanaan reuni besar atau munas. “Fungsinya sebagai rekonsiliasi dan perdamaian,” jelas Bahrudin. Seringkali, tarian ini dipentaskan untuk menyelesaikan perselisihan antar-keluarga atau menyambut tamu kehormatan. Setiap langkah kaki dalam tarian ini adalah janji suci: Hapus dendam lama, rajut kembali ikatan kekerabatan yang sempat longgar. Bagi Bahrudin, Oha Lilin adalah cahaya peradaban. Kata “Lilin” sendiri selaras dengan semangat Lamakera untuk menjadi terang yang memberi manfaat bagi sesama, serta menjaga api agama dan budaya agar tidak padam ditelan arus zaman. Harmoni Alam dan Manusia Menutup refleksi malam itu, Dr. Malik dari PKLS Yogyakarta memberikan pandangan akademis yang memperkuat nilai lokal tersebut. Menurutnya, Tari Lilin mengajarkan Idealisme Keseimbangan Hidup. “Tarian ini mengajarkan harmoni tiga arah: hubungan vertikal manusia dengan Rera Wulan Tanah Ekan, hubungan horizontal antar-manusia, dan hubungan dengan alam sekitar,” ujar Dr. Malik. Ia menekankan pentingnya tidak mengabaikan kelestarian alam dan kearifan lokal sebagai fondasi kehidupan. Dr. Malik juga menitipkan pesan penting bagi generasi muda Lamakera. Melestarikan seni Oha Lilin bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan merawat “bekal” bernilai tinggi untuk menata kehidupan masa depan yang lebih bermartabat. Malam itu, di bawah langit Lamakera, ribuan lilin tidak hanya menerangi fisik, tetapi juga menerangi hati para peserta untuk kembali pada jati diri: bersatu, setara, dan penuh damai. Kami Dewan Pimpinan dan segenap awak media Warta.Nusantara.com mengucapkan Selamat dan Sukses atas pelaksanaan Reuni VII dan Munas II Yamali Se-Indonesia. #RAM Post Views: 58 Navigasi pos Festival Lamaholot 2026, Bupati Lembata Kanis Tuaq: Tidak Hanya Hiburan tapi Penggerak Roda Ekonomi