Pakaian Pesta

Mat 22:1-14

Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD

WARTA-NUSANTARA.COM—   Yesus menyebut “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya” (Mat 22:2). Perjamuan nikah itu mengikuti tata cara dan ritus yang mesti ditaati oleh semua undangan. Ada syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ada makna terdalam yang mesti dipahami oleh orang-orang yang diundang. Maka ketika ada undangan yang menolak hadir, hal itu lebih dari sekadar tidak mau menghadiri sebuah pesta.

Tuan pesta dengan rendah hati penuh harapan mengundang semua orang ke perjamuan nikah.  Bahkan raja memohon belas kasihan agar para tamu yang diundang tidak merusakkan suasana pesta yang sudah disipkan dengan sepenuh hati. Hidangan sudah siap.  Lengkap. “Katakan kepada orang-orang yang diundang itu: sesungguhnya hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini” (Mat 21:4).

Namun yang diundang semakin angkuh. Bahkan memutuskan hubungan dengan membunuh utusan-utusan raja. Mereka menolak dan semakin menjauhkan diri dari “perjamuan nikah” itu. Setiap orang sibuk dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan. Padahal raja telah mengundang. Artinya, waktu “pesta” sudah pasti. Boleh jadi banyak orang yang diundang menolak karena mereka merasa belum menyiapkan diri untuk menjadi pantas memasuki ruang perjamuan nikah suci itu. Padahal raja telah memberi begitu banyak waktu untuk menyiapkan diri agar pantas memasuki perjamuan nikah.

Ada banyak konteks penafsiran yang menambah khazanah pemaknaan atas teks Injil ini. Tuhan mengundang semua orang untuk berpartisipasi dalam perjamuan itu. Awalnya, kesempatan itu hanya diberikan kepada bangsa Yahudi tapi mereka menolaknya. Nabi-nabi yang diutus Tuhan dibunuh. Padahal para utusan Tuhan itu berkarya dengan sepenuh hati untuk keselamatan. Tuhan lalu memberi kesempatan kepada semua orang. Terbuka untuk umum. Segala suku bangsa, segala penjuru dunia (Wijaya: 9 Oktober 2011).

Setiap tamu yang datang berpakian pesta, tentu saja. Pakaian itu simbol diri kita.  Martabat setiap orang disimbolkan juga oleh pakaian. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku secara social.  Orang mengenakan pakaian pesta berarti dengan sadar dan segenap hati menanggapi undangan tuan pesta. Sebaliknya, orang yang tidak mengenakan pakian pesta berarti dia datang tanpa tujuan dan maksud. Orang Lamaholot menyebutnya: kmunger (gila).

Apa sesungguhnya pakian pesta itu? Pakaian pesta itu adalah iman dan perbuatan kasih. Iman itu terungkap dalam ketekunan berdoa dan rela menolong atau berbuat kasih kepada orang lain. Inilah dasar kepantasan kita di mata raja yang mengundang semua orang itu. St. Agustinus mengatakan: pakaian pesta itu adalah perbuatan cinta kasih kepada sesama terutama yang miskin, kecil dan tidak memiliki apa pun.

Kesadaran inilah yang mengharuskan kita untuk berjaga-jaga. Orang yang tidak berjaga-jaga dalam cinta kasih dan kebaikan adalah orang yang beragama, tetapi tidak beriman. Agama itu hanya kulit luar tapi iman mencakup sesuatu yang mendalam yang terungkap dalam tindakan konkret yaitu kasih dan kebaikan. Kepercayaan kepada Tuhan mesti terbahasakan dalam tindakan nyata. Ketika kita hanya berhenti pada beragama, apa yang pantas membedakan kita dari seorang ateis yang moralis, baik hati dan murah hati? Maka hidup keagamaan kita mesti berakar dalam doa, ekaristi dan tindakan nyata berupa kasih kepada sesama. Hanya dengan jalan inilah kita dapat “dipantaskan” untuk masuk dalam kebahagiaan Allah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *