Opini  

Pangan Handal di Panas Kemarau

Pangan Handal di Panas Kemarau

Oleh: Gerardus D Tukan

(Dosen Prodi Teknologi Pangan, FST, UNIKA Widya Mandira Kupang)

WARTA-NUSANTARA.COM–  Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan suatu wilayah tropis yang paradoksal, dimana  tanahnya subur di musim hujan, tetapi keras dan kering hampir sepanjang tahun. Musim kemarau (kering)  yang bisa mencapai delapan bulan (sekitar Maret hingga Oktober) setiap tahun. Musim hujan yang relatif singkat, hanya sekitar empat bulan, menjadi harapan utama bagi 80% masyarakat NTT (petani) serta seluruh masyarakat Provinsi NTT  untuk bergantung hidup dan hidup dalam ketidakpastian produksi pangan. Sistem pertanian dominan masih berupa ladang tadah hujan dan berpindah. Ladang yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Kondisi itu  selalu memunculkan kecemasan wajib tiap tahun dalam membaca irama dan dinamika  hujan. Perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun belakangan ini tampak semakin mewarnai kecemasan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produktivitas pertanian di NTT cenderung fluktuatif dan relatif rendah dibandingkan rata-rata nasional. Hal ini terutama disebabkan oleh keterbatasan air, luas lahan yang sempit, serta minimnya akses terhadap teknologi pertanian modern. Pada musim hujan, petani menanam jagung, padi ladang, ubi-ubian, dan kacang-kacangan. Namun hasil panen dari lahan yang terbatas itu seringkali hanya cukup untuk konsumsi rumah tangga, bahkan tidak jarang mengalami kekurangan sebelum musim tanam berikutnya.

Program pemerintah yang mendorong penanaman jagung hibrida memang sempat memberikan harapan baru. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa produksi jagung per petani umumnya tidak mencapai skala ekonomis. Rata-rata hasil panen tidak sampai satu ton per petani, sementara harga jual jagung di tingkat petani relatif rendah dan sangat fluktuatif. Dengan kondisi tersebut, sulit menjadikan jagung sebagai sumber penghidupan utama yang berkelanjutan.

Persoalan ini semakin kompleks ketika hasil panen yang terbatas itu pun sulit dipasarkan. Infrastruktur distribusi yang belum merata, biaya transportasi yang tinggi, serta minimnya akses ke pasar modern menyebabkan petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Akibatnya, mereka terjebak dalam siklus produksi rendah, pendapatan rendah, dan kerentanan pangan yang terus berulang.

Oplus_16908288

Di tengah kondisi tersebut, muncul satu gagasan strategis yang selama ini belum digarap secara serius, yaitu  mengoptimalkan musim kemarau sebagai musim tanam kedua. Secara agronomis, hal ini sangat mungkin dilakukan, asalkan tersedia air yang cukup untuk irigasi. Dengan kata lain, kunci dari transformasi pertanian di NTT bukan semata pada benih unggul atau pupuk, melainkan pada pengelolaan sumber daya air.

Daerah NTT bukanlah daerah yang sepenuhnya kekurangan air. Air tersedia, tetapi tidak berada di tempat yang tepat. Karakteristik topografi NTT yang didominasi perbukitan menyebabkan air hujan yang jatuh pada musim penghujan banyak meresap ke dalam tanah, mengalir sebagai air tanah, dan kemudian muncul kembali sebagai mata air besar di wilayah pesisir. Sebagai contoh, mata air di desa Bolou Kabupaten sabu Raijua, mata air di desa Uiasa, Pulau Semau, Berbagai mata air dengan debit tinggi di beberapa titik tepi pantai di Pulau Lembata, dan beberapa tempat lainnya. Dari sana, air langsung mengalir ke masuk ke laut tanpa sempat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan pertanian.

Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan spasial dalam distribusi air: daerah hulu (perbukitan) mengalami kekeringan, sementara daerah hilir (pesisir) justru memiliki sumber air melimpah yang tidak termanfaatkan. Di sinilah letak peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah maupun pusat.

Teknologi sebenarnya telah tersedia untuk menjawab persoalan ini. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan pompa hidram (hydraulic ram pump) yang mampu mengangkat air dari elevasi rendah ke tempat yang lebih tinggi tanpa memerlukan energi listrik yang besar. Selain itu, penggunaan pompa listrik dengan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya juga menjadi alternatif yang semakin relevan, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik secara optimal.

Investasi pada infrastruktur air semacam ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal keberpihakan kebijakan. Pemerintah perlu melihat air sebagai faktor produksi utama dalam pertanian NTT, bukan sekadar kebutuhan domestik. Dengan membangun sistem distribusi air dari mata air di pesisir menuju lahan-lahan pertanian di perbukitan, maka siklus pertanian yang selama ini hanya berlangsung sekali setahun dapat ditingkatkan menjadi dua bahkan tiga kali musim tanam.

Keberpihakan kebijakan untuk optimalisasi potensi air ini jika dijalankan akan sangat memberikan dampak signifikan. Pertama, dari sisi ketahanan pangan, ketersediaan bahan pangan lokal akan lebih terjamin sepanjang tahun. Kedua, dari sisi ekonomi, peningkatan produksi akan membuka peluang bagi petani untuk menjual hasil panen dalam jumlah yang lebih besar dan lebih stabil. Ketiga, dari sisi industri, ketersediaan bahan baku akan mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan.

Inisiatif seperti NTT Mart yang digagas pemerintah daerah serta program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dari pemerintah pusat akan lebih efektif jika didukung oleh pasokan bahan baku yang kontinu dari masyarakat lokal. Tanpa kontinuitas produksi, upaya hilirisasi dan pemasaran produk lokal akan sulit berkembang. Demikian pula dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membutuhkan suplai bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, petani NTT seharusnya tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga aktor utama sebagai produsen bahan baku.

Keberhasilan strategi optimalisasi potensi air tepi pantai ini tidak hanya bergantung pada pemerintah. Partisipasi masyarakat juga menjadi kunci. Petani perlu didorong untuk mengadopsi pola tanam yang lebih adaptif terhadap ketersediaan air, serta memanfaatkan teknologi irigasi secara efisien. Pendampingan oleh penyuluh pertanian dan dukungan dari lembaga pendidikan tinggi juga sangat diperlukan untuk memastikan bahwa inovasi yang diterapkan sesuai dengan kondisi lokal.

Pendekatan berbasis kawasan perlu dikembangkan untuk menjamin kekuatan pengelolaan air dan pertanian, dan  tidak dilakukan secara parsial. Harus dilakukan secara terintegrasi dalam satu sistem yang utuh. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat menjadi prasyarat untuk mewujudkan transformasi ini.

Pengelolaan air yang tepat maka  musim kemarau justru dapat menjadi peluang baru untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani serta masyarakat NTT umumnya. Air yang selama ini mengalir sia-sia ke laut harus diubah menjadi sumber kehidupan yang mengaliri ladang-ladang di perbukitan. Jika itu dapat diwujudkan, maka NTT tidak lagi dikenal sebagai daerah kering yang tertinggal, melainkan sebagai contoh keberhasilan dalam mengelola keterbatasan menjadi kekuatan. Sebuah lompatan besar yang dimulai dari satu hal sederhana: mengalirkan air ke tempat yang membutuhkan***.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *