Pemprov NTT Perkuat Kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Dorong Ekosistem Kebudayaan Terintegrasi Kupang, 14 Agustus 2026 KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM— Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam upaya memperkuat pelindungan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan di NTT. Hal tersebut mengemuka dalam audiensi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama jajaran Kementerian Kebudayaan, Jumat (14/8/2026) malam. Rombongan Kementerian Kebudayaan dipimpin Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati, didampingi Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Haris Budiharto, serta jajaran Balai Pelestarian Kebudayaan NTT dan Sekretariat Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi. Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi dipimpin oleh Direktur Jenderal Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Direktorat Jenderal ini memiliki peran penting dalam pelindungan kebudayaan dan tradisi di Indonesia. Salah satu agenda utama audiensi adalah rencana pembangunan Balai Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi di NTT, sebagai bagian dari penguatan kehadiran kelembagaan pelindungan kebudayaan dan tradisi di setiap provinsi. Untuk mendukung rencana tersebut, Pemerintah Provinsi NTT telah menindaklanjuti permintaan pemanfaatan lahan di kawasan sekitar museum. Permintaan tersebut telah didisposisikan kepada Badan Pengelola Aset Daerah dan perangkat daerah teknis terkait untuk diproses sesuai ketentuan. Gubernur Melki Laka Lena menegaskan kesiapan Pemerintah Provinsi NTT untuk mempercepat berbagai hal yang menjadi kewenangan daerah. “Kita segera eksekusi. Bagian kami akan kami kerjakan secepatnya. Semua diatur baik,” ujar Gubernur. Selain rencana pembangunan Balai Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, audiensi juga membahas revitalisasi sejumlah fasilitas dan situs kebudayaan di NTT, antara lain museum, Taman Budaya, Gua Jepang, serta Museum Seribu Moko di Kabupaten Alor. Gubernur menilai pengembangan berbagai fasilitas tersebut perlu ditempatkan dalam sebuah ekosistem kebudayaan yang terintegrasi dan saling mendukung. Menurutnya, keberadaan unsur kebudayaan, kearsipan dan perpustakaan, serta museum dalam satu kawasan akan memberikan ruang yang lebih kuat bagi pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kekayaan budaya NTT. “Kementerian Kebudayaan, arsip dan perpustakaan, dan museum di satu tempat jadi ekosistem. Ini sangat baik untuk pengembangan kebudayaan di NTT,” kata Gubernur. Audiensi juga membahas kemungkinan pengembangan Desa Budaya Wunga di Sumba. Wunga memiliki kekayaan sejarah, tradisi, dan identitas budaya yang kuat sehingga berpotensi dikembangkan sebagai salah satu kawasan budaya yang mampu menjaga sekaligus menghidupkan kembali praktik-praktik kebudayaan masyarakat. Pengembangan Desa Budaya tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Gubernur NTT menyampaikan apresiasi atas perhatian dan komitmen Kementerian Kebudayaan terhadap pengembangan kebudayaan di NTT. “Menteri kita ini sangat paham soal kebudayaan. Terima kasih. Semoga akan terus berkolaborasi,” ucapnya. Gubernur juga menyambut baik penguatan kelembagaan pelindungan kebudayaan melalui kehadiran balai di setiap provinsi. “Sekarang sudah ada balai setiap provinsi. Ini sangat baik,” jelas Gubernur. Menurut Gubernur, keberadaan balai di daerah akan semakin mendekatkan kerja-kerja pelindungan kebudayaan dan tradisi kepada masyarakat sekaligus memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah Provinsi NTT selanjutnya akan mempercepat berbagai tindak lanjut yang menjadi kewenangan daerah agar berbagai agenda kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dapat segera diwujudkan. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pelindungan warisan budaya NTT, tetapi juga membangun ekosistem kebudayaan yang hidup, terintegrasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Bagi NTT, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga identitas, kekuatan sosial, sumber pengetahuan, dan bagian penting dari pembangunan daerah. Demikian Siaran Pers ini dibuat untuk dipublikasikan. #IndonesiaTerang #AyoBangunNTT ***(Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Pemerintah Provinis NTT, diterima Warta-Nusantara.Com Penulis: Oan Wutun Foto: Windi Leba) Post Views: 18 Navigasi pos Karnaval HUT RI ke-81 Padati Jalan H. Fernandes, Wujud Syukur dan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Lamaholot