Pesan Bertuah di Bukit SEMANSA Nubatukan : Buatlah Schedule Kehidupan Anda LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Kesuksesan tidak lahir dari kebiasaan berleha-leha, melainkan melalui proses yang terencana, disiplin, dan bertanggung jawab. Karena itu, setiap pelajar perlu membangun kebiasaan mengatur waktu dan menetapkan prioritas sebagai bagian dari persiapan menghadapi masa depan. Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Anselmus Ola Bahi, saat bertindak sebagai Pembina Upacara dalam Apel Pembinaan di lapangan SMA Negeri 1 Nubatukan (SMANSA Nubatukan), Rabu, 21 Oktober 2026. Apel pembinaan tersebut merupakan program rutin SMANSA Nubatukan melalui bidang kesiswaan untuk menerjemahkan visi dan misi kepala sekolah, khususnya dalam membangun relasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat disiplin dan pembinaan karakter siswa. Kegiatan itu dihadiri Kepala SMANSA Nubatukan, Nikolaus Honi Watun S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Conradus Laba S.Ag, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Mahdi Abdul Rahim S.Pd,M.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat Ferdinandus Blikon S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana Bernadus Nara S.Pd, para guru, tenaga kependidikan, serta sekitar 1.200 siswa. Program ini melibatkan seluruh unsur yang berperan dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Nubatukan. Keterlibatan berbagai pihak ini menjadi wujud komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif, disiplin, berkarakter, dan berorientasi pada peningkatan kualitas peserta didik. Program ini merupakan salah satu program unggulan Kepala SMA Negeri 1 Nubatukan yang dilaksanakan melalui Bidang Kesiswaan, sebagai upaya strategis untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kedisiplinan, tanggung jawab, jiwa kepemimpinan, serta kemampuan bersosialisasi yang baik. Dalam amanatnya, Anselmus mengajak para pelajar merefleksikan tujuan mereka menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Menurut dia, siswa perlu memahami alasan orang tua memilih sekolah itu sekaligus menyadari tanggung jawab yang melekat pada pengorbanan dan kepercayaan orang tua. “Kalau kalian sadar bahwa kalian datang ke sini untuk mempersiapkan diri menjadi orang sukses kelak, tugas kalian adalah belajar. Sekali lagi, belajar. Manfaatkan ruang dan kesempatan yang ada untuk mempersiapkan masa depan,” pesannya. Anselmus menegaskan, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan hak peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menuntut tanggung jawab dalam menjalani proses pembelajaran secara sungguh-sungguh. Tanggung jawab tersebut diwujudkan melalui kedisiplinan, keseriusan belajar, dan kemauan mengembangkan potensi diri. Ia kemudian menekankan pentingnya menyusun schedule atau jadwal kehidupan sebagai langkah sederhana untuk membangun keteraturan dan konsistensi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. “Disiplin itu dimulai dari diri sendiri. Buatlah schedule kehidupan Anda. Sesuaikan jadwal kehidupan Anda dengan jadwal sekolah, demikian juga dengan kegiatan di luar sekolah,” ujarnya. Menurut Anselmus, pengaturan waktu harus berawal dari kesadaran pribadi, kemudian diselaraskan dengan kewajiban akademik dan aktivitas di luar sekolah. Kebiasaan tersebut diharapkan membantu siswa menjalani kehidupan secara teratur, menetapkan prioritas, serta memanfaatkan waktu secara produktif. Ia juga mengingatkan bahwa proses pendidikan tidak terbatas pada lingkungan sekolah. Kehidupan di luar ruang kelas menghadirkan dinamika sosial yang menuntut kemampuan beradaptasi, kecakapan berkomunikasi, dan kematangan dalam mengambil keputusan. Karena itu, Anselmus meminta para siswa menghargai pengorbanan orang tua dan dedikasi para guru. Kesempatan belajar, kata dia, harus dimanfaatkan untuk memperkuat pengetahuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam konteks pembentukan karakter, ia menegaskan bahwa kecerdasan akademik harus berjalan seiring dengan kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama. Ia mencontohkan kebiasaan menyapa sebagai perilaku sederhana yang mencerminkan penghargaan terhadap orang lain. Kebiasaan tersebut perlu dipelihara karena pembentukan karakter tidak hanya berlangsung melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui interaksi dan praktik kehidupan sehari-hari. Anselmus mengatakan setiap siswa memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan kemampuan, penampilan fisik, asal daerah, maupun latar belakang keluarga tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain. Ia secara khusus mengingatkan para siswa agar menghindari perundungan (bullying) dan turut menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati. “Kita memang berbeda, tetapi harus mampu hidup bersama dalam keberagaman. Jangan melihat perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan atau membully teman. Mereka adalah saudara dan sahabat kita yang harus saling menjaga,” tegasnya. Ia menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak cukup dipahami sebatas hafalan atau simbol seremonial. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam perilaku nyata, antara lain menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, menyelesaikan persoalan melalui dialog, dan membangun kerja sama. Dengan demikian, pendidikan karakter di sekolah diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang tercermin dalam perilaku peserta didik sehari-hari. Selain menekankan kedisiplinan dan pembentukan karakter, Anselmus mengajak warga SMANSA Nubatukan mempertahankan penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga. Menurut dia, bahasa daerah merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga identitas dan keberlanjutan kebudayaan masyarakat Lembata. Ia juga mendorong seluruh elemen pendidikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan, termasuk mengenakan nowing bagi laki-laki dan kewatek bagi perempuan pada kesempatan yang sesuai. Anselmus berharap lembaga pendidikan dapat membentuk generasi muda yang tidak sekadar bangga menyebut diri sebagai orang Lembata, tetapi juga memahami dan mempraktikkan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Kecintaan terhadap identitas daerah, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui pengenalan bahasa, tradisi, pakaian adat, serta pangan lokal, seperti jagung dan bose. Pengenalan terhadap unsur-unsur kebudayaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan identitas lokal di tengah perubahan zaman. Ia mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap daerah asal harus disertai pemahaman yang memadai mengenai sejarah, tradisi, dan praktik kehidupan masyarakat setempat. Menutup amanatnya, Anselmus kembali menegaskan bahwa kesuksesan merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan persiapan, konsistensi, dan tanggung jawab. Cita-cita, menurut dia, tidak cukup hanya diungkapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan kebiasaan yang terarah. Kedisiplinan dalam mengatur waktu, tanggung jawab terhadap tugas, penguatan karakter, kemampuan membangun relasi sosial, serta kecintaan terhadap budaya merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan. Pesan “Buatlah Schedule Kehidupan Anda” menjadi ajakan bagi para pelajar untuk membangun kesadaran diri, mengelola waktu secara efektif, dan menetapkan prioritas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pada akhirnya, pembentukan karakter dan pencapaian kesuksesan tidak berlangsung secara instan. Keduanya tumbuh melalui kebiasaan yang dibangun sejak dini, dipelihara secara konsisten, dan diwujudkan dalam tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, serta masyarakat. *** (Sabatani). Post Views: 19 Navigasi pos Kapolda NTT Resmi Buka Rakernis Lalu Lintas 2026: Dorong Digitalisasi Pelayanan, Tekan Angka Kecelakaan, dan Wujudkan Polantas Humanis