Praktik Sosial Sebagai Pusat Kritik dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis Analisis menggunakan teori Lucien Goldmann Oleh : Ignatius Ryan Malau Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Jogjakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk melihat persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Melalui tokoh, konflik, dan peristiwa yang disusun, pengarang dapat memperlihatkan kebiasaan sosial, pertentangan nilai, serta perilaku manusia ketika berhadapan dengan orang lain. Salah satu karya yang memperlihatkan hal tersebut adalah cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Cerpen ini kerap dibaca sebagai kritik terhadap cara memahami agama yang hanya menekankan ibadah pribadi, tetapi kurang memberi perhatian pada tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Dalam esai ini, fokus pembahasan diarahkan pada praktik sosial, yaitu cara nilai dan keyakinan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari serta hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Dengan fokus tersebut, pembahasan tidak berhenti pada pertanyaan apakah tokoh menjalankan ibadah atau tidak, melainkan melihat bagaimana tokoh memahami tanggung jawab, menanggapi persoalan bersama, dan memperlakukan orang lain. Praktik sosial menjadi penting karena nilai yang diyakini seseorang akan terlihat maknanya ketika diterapkan dalam kehidupan nyata. Cerpen ini menarik dikaji karena menghadirkan ketegangan antara kesalehan yang dipahami secara pribadi dan tanggung jawab sosial. Kisah Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi, reaksi Kakek, serta akhir cerita membangun pertanyaan tentang hubungan antara ibadah dan kehidupan bermasyarakat. Esai ini menggunakan teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann untuk membaca hubungan antara struktur cerita dan persoalan sosial yang direpresentasikannya. Analisis ini merupakan penafsiran terhadap teks, bukan anggapan bahwa seluruh masyarakat atau semua orang beragama memiliki perilaku yang sama. Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann dan Praktik Sosial Lucien Goldmann melalui teori strukturalisme genetik memandang karya sastra sebagai struktur bermakna yang memiliki hubungan dengan kehidupan sosial-historis. Artinya, unsur cerita seperti tokoh, alur, konflik, dan akhir cerita tidak hanya dibaca secara terpisah. Unsur-unsur tersebut dipahami sebagai bagian yang saling berhubungan dan membentuk makna yang lebih utuh. Pembacaan juga berusaha melihat bagaimana persoalan dalam teks berhubungan dengan nilai dan pertentangan yang hadir dalam masyarakat. Salah satu konsep penting Goldmann adalah pandangan dunia atau vision du monde. Pandangan dunia bukan sekadar pendapat pribadi pengarang, melainkan cara memandang kehidupan yang dapat berkaitan dengan pengalaman dan pemikiran suatu kelompok sosial. Dalam cerpen ini, pandangan dunia dapat ditelusuri melalui pertentangan mengenai arti kesalehan, kewajiban manusia, dan kepedulian terhadap sesama. Sementara itu, konsep subjek kolektif membantu pembaca memahami bahwa persoalan dalam karya sastra dapat mewakili kegelisahan sosial yang lebih luas, meskipun tidak berarti setiap anggota masyarakat memiliki pandangan yang sama. Konsep homologi juga dapat digunakan secara hati-hati untuk melihat kesesuaian antara susunan konflik dalam cerita dan pertentangan nilai dalam kehidupan sosial. Dalam “Robohnya Surau Kami”, konflik bukan hanya persoalan pribadi Kakek, melainkan juga membuka pembahasan mengenai hubungan antara keyakinan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama. Karena itu, praktik sosial menjadi titik masuk untuk memahami struktur cerita sekaligus kritik sosial yang dibangunnya. Praktik Sosial dalam Kisah Haji Saleh Salah satu bagian penting dalam cerpen adalah cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh. Tokoh Haji Saleh digambarkan sebagai orang yang merasa telah menjalankan kewajiban agama dengan baik, tetapi dalam cerita tersebut ia tetap menghadapi pertanyaan tentang kehidupan yang dijalaninya. Peristiwa ini menimbulkan ironi: keyakinan bahwa ibadah pribadi sudah cukup ternyata dipertanyakan ketika tanggung jawab terhadap kehidupan di dunia ikut diperhitungkan. Dari sudut pandang praktik sosial, kisah Haji Saleh mengarahkan perhatian pada hubungan antara tindakan pribadi dan keadaan masyarakat. Kehidupan sosial tidak hanya tersusun dari urusan masing-masing individu. Setiap orang hidup bersama orang lain dan ikut berada dalam jaringan tanggung jawab, baik di keluarga, lingkungan, maupun masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, praktik keagamaan dalam cerpen dapat dibaca sebagai persoalan ketika kesalehan dipisahkan sepenuhnya dari kepedulian sosial. Kritik tersebut tidak harus dimaknai bahwa ibadah pribadi tidak penting. Yang dipersoalkan adalah anggapan bahwa ibadah dapat berdiri sendiri tanpa diikuti tindakan yang bermanfaat bagi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian sosial dapat terlihat melalui kesediaan membantu orang yang mengalami kesulitan, berpartisipasi dalam kegiatan bersama, bersikap adil, dan tidak mengabaikan masalah di sekitar. Contoh-contoh ini merupakan pengembangan dari gagasan cerita, bukan peristiwa yang seluruhnya diceritakan secara langsung dalam cerpen. Dengan demikian, Haji Saleh menjadi gambaran untuk menguji keselarasan antara keyakinan dan tindakan. Cerita tersebut mengajak pembaca mempertanyakan apakah seseorang hanya mengukur kebaikan dari apa yang dilakukan untuk dirinya sendiri, atau juga dari tanggung jawabnya kepada orang lain. Melalui ironi, cerpen menunjukkan bahwa praktik sosial merupakan bagian penting dalam menilai makna nilai yang diyakini seseorang. Kakek, Ajo Sidi, dan Tanggung Jawab dalam Hubungan sosial Selain kisah Haji Saleh, hubungan antara Kakek dan Ajo Sidi juga memperlihatkan persoalan praktik sosial. Kakek merupakan penjaga surau yang menggantungkan hidup dan identitasnya pada tempat tersebut, sedangkan Ajo Sidi dikenal sebagai orang yang menyampaikan cerita dengan cara yang tajam. Cerita Ajo Sidi mengguncang Kakek dan memengaruhi cara Kakek memandang dirinya sendiri. Dengan demikian, perkataan seseorang dalam kehidupan sosial tidak selalu berhenti sebagai ucapan, tetapi dapat membawa akibat emosional bagi orang yang mendengarnya. Bagian ini membuka pembahasan tentang tanggung jawab dalam berkomunikasi. Kritik memang dapat digunakan untuk menyampaikan persoalan yang perlu disadari, tetapi cara menyampaikan kritik dan keadaan orang yang menerimanya juga perlu dipertimbangkan. Ajo Sidi menyampaikan gagasan melalui cerita yang menyindir, sementara Kakek menanggapi cerita itu dengan sangat mendalam. Perbedaan cara memahami dan merespons pesan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan sosial melibatkan bukan hanya isi perkataan, melainkan juga akibatnya bagi orang lain. Akhir cerita yang tragis memperkuat kesan bahwa persoalan sosial dan komunikasi tidak dapat dianggap sepele. Namun, peristiwa tersebut tidak perlu disederhanakan sebagai kesalahan satu tokoh saja. Cerita justru mendorong pembaca memikirkan hubungan antara cara kritik disampaikan, keadaan batin seseorang, dan dukungan sosial yang tersedia. Dalam kehidupan nyata, ketika seseorang sedang menghadapi tekanan, lingkungan sosial yang mau mendengar dan memberi dukungan dapat menjadi hal penting. Melalui hubungan antartokoh, praktik sosial terlihat dalam dua bentuk. Pertama, praktik sosial berkaitan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat yang lebih luas. Kedua, praktik sosial juga hadir dalam interaksi langsung, seperti cara berbicara, memberi penilaian, dan menanggapi kerentanan orang lain. Pembacaan ini memperluas kritik cerpen dari persoalan ibadah menjadi persoalan etika hidup bersama. Surau sebagai Ruang dan Simbol Kehidupan Bersama Surau dalam cerpen bukan hanya bangunan untuk beribadah, tetapi juga menjadi ruang yang memiliki arti sosial. Keberadaan Kakek sebagai penjaga surau menunjukkan adanya hubungan antara tempat ibadah, kehidupan sehari-hari, dan pengakuan masyarakat terhadap peran seseorang. Ketika surau menjadi pusat kehidupan Kakek, nasib surau dan nasib Kakek saling berkaitan dalam struktur cerita. Judul “Robohnya Surau Kami” dapat dibaca secara literal sebagai gambaran keruntuhan, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai simbol rapuhnya nilai yang seharusnya menopang kehidupan bersama. Penafsiran simbolis ini perlu dipahami sebagai hasil pembacaan, bukan satu-satunya makna yang mungkin. Dalam kaitannya dengan praktik sosial, keruntuhan dapat mengingatkan pembaca bahwa lembaga atau simbol keagamaan tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik. Nilai yang dibawanya juga perlu diwujudkan dalam hubungan sosial, kepedulian, dan tanggung jawab. Jika ruang ibadah hanya dipahami sebagai tempat menjalankan kegiatan pribadi, hubungan ruang tersebut dengan persoalan masyarakat dapat menjadi kurang terlihat. Sebaliknya, jika nilai yang dibicarakan di dalamnya diwujudkan dalam tindakan nyata, ruang ibadah dapat memiliki peran sosial yang lebih luas. Cerpen ini mengundang pembaca untuk memikirkan hubungan tersebut tanpa harus menyimpulkan bahwa surau atau praktik keagamaan pada dirinya merupakan masalah. Pandangan Dunia dan Kritik terhadap Praktik Sosial Berdasarkan teori Goldmann, pandangan dunia dalam cerpen dapat ditelusuri melalui hubungan antarunsur cerita. Kisah Haji Saleh, tanggapan Kakek, cara Ajo Sidi menyampaikan kritik, dan akhir cerita saling mendukung pembentukan makna. Pertentangan utama yang muncul adalah antara pemahaman kebaikan sebagai urusan pribadi dan pemahaman kebaikan yang juga menuntut tanggung jawab terhadap orang lain. Pertentangan ini menjadi struktur makna yang menghubungkan cerita dengan persoalan sosial. Pandangan dunia yang dapat ditafsirkan dari cerpen ialah bahwa kehidupan manusia tidak seharusnya dilepaskan dari hubungan sosialnya. Keyakinan dan nilai moral memperoleh arti yang lebih utuh ketika diwujudkan dalam perilaku yang memperhatikan sesama. Cerpen tidak menyampaikan gagasan ini melalui nasihat langsung, tetapi melalui ironi, konflik, dan akibat yang dialami tokoh. Bentuk penyampaian tersebut membuat pembaca perlu menghubungkan peristiwa-peristiwa cerita untuk memahami kritik yang dibangun. Jika dihubungkan dengan kehidupan masyarakat sekarang, kritik ini masih relevan sebagai bahan refleksi. Seseorang dapat terlihat aktif menjalankan kegiatan keagamaan atau menyampaikan nilai moral, tetapi pertanyaan tentang sikapnya terhadap orang lain tetap penting. Apakah ia mau membantu ketika orang lain membutuhkan? Apakah ia menghormati orang yang berbeda pandangan? Apakah ia ikut bertanggung jawab terhadap persoalan bersama? Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi individu, melainkan untuk mengingatkan bahwa nilai sosial perlu dinilai melalui tindakan, bukan hanya pengakuan. Meskipun demikian, hubungan antara cerpen dan kondisi masyarakat perlu dibuat secara cermat. Cerpen merupakan karya sastra yang menyusun realitas melalui pilihan bahasa dan imajinasi pengarang, bukan laporan langsung tentang seluruh masyarakat. Karena itu, analisis ini melihat cerita sebagai representasi dan kritik sosial. Untuk penelitian yang lebih luas, pembacaan tersebut dapat diperkuat dengan data sejarah, konteks sosial saat karya diterbitkan, serta kajian ilmiah yang relevan. Refleksi : Menurut saya, hal yang paling kuat dari cerpen ini adalah cara A.A. Navis mengajak pembaca menilai kembali hubungan antara keyakinan dan tindakan sosial tanpa menyampaikan kritik dalam bentuk ceramah. Tokoh dan konflik digunakan untuk menunjukkan bahwa persoalan moral tidak hanya berkaitan dengan apa yang diyakini seseorang, tetapi juga dengan bagaimana ia hidup bersama orang lain. Hal ini membuat pembaca tidak hanya menilai tokoh, melainkan juga memeriksa kebiasaan berpikirnya sendiri. Cerpen ini juga mengingatkan bahwa praktik sosial memiliki sisi yang beragam. Tanggung jawab sosial dapat berupa tindakan nyata untuk membantu masyarakat, tetapi dapat pula terlihat dalam cara seseorang berbicara dan memperlakukan orang lain. Karena itu, kritik terhadap pemahaman agama yang terlalu berpusat pada diri sendiri perlu disertai kesadaran bahwa komunikasi, empati, dan dukungan sosial juga merupakan bagian dari kehidupan bersama. Dengan menggunakan strukturalisme genetik, pembahasan praktik sosial tidak dipisahkan dari struktur cerita. Tokoh, konflik, ironi, simbol surau, dan akhir cerita bersama-sama membentuk pandangan tentang pentingnya tanggung jawab. Bagi saya, pendekatan Goldmann membantu menunjukkan bahwa makna cerpen menjadi lebih jelas ketika unsur cerita dibaca secara utuh dan dihubungkan secara hati-hati dengan persoalan masyarakat. Kesimpulan Fokus pada praktik sosial menunjukkan bahwa “Robohnya Surau Kami” bukan hanya membahas kehidupan beragama secara pribadi, tetapi juga mempertanyakan bagaimana nilai diwujudkan dalam kehidupan bersama. Kisah Haji Saleh menyoroti keterbatasan pemahaman kebaikan yang hanya berpusat pada diri sendiri. Hubungan Kakek dan Ajo Sidi memperlihatkan bahwa komunikasi dan tanggung jawab terhadap keadaan orang lain juga memiliki dampak sosial. Sementara itu, surau dapat ditafsirkan sebagai simbol yang menghubungkan keyakinan dengan kehidupan masyarakat. Melalui teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann, konflik dan ironi dalam cerpen dapat dipahami sebagai struktur bermakna yang berhubungan dengan pertentangan nilai sosial. Pandangan dunia yang muncul menekankan bahwa keyakinan seharusnya berjalan bersama kepedulian, tanggung jawab, dan tindakan yang memperhatikan sesama. Dengan demikian, praktik sosial menjadi pusat penting dalam membaca kritik A.A. Navis: nilai tidak cukup hanya diucapkan atau diyakini, tetapi perlu tampak dalam cara manusia menjalani kehidupan bersama. Post Views: 15 Navigasi pos Analisis Puisi “Dari Aku untukmu” Karya Uwais Kholis Menggunakan Teori Lucien Goldmann Analisis Alienasi Marxis dalam Cerpen Kukila “Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji”