Reproduksi Kemiskinan Struktural dan Kekerasan Simbolik Dalam Cerpen Yang Menyewakan Diri Karya Pramoedya Ananta Toer : Analisis Teori Pierre Bourdieu Oleh : Devi Nur Rahma Wati Mahasiswi Prodi Sastra Univesitas Sanata Dharma Jogjakarta PENDAHULUAN WARTA-NUSANTARA.COM— Sastra tidak pernah lahir dalam ruang hampa yang steril dari struktur sosial masyarakatnya. Sebagai sebuah artefak budaya, sastra merekam pergulatan kelas, relasi kuasa, dan ketimpangan yang terjadi dalam realitas historis. Dalam kumpulan cerpen Cerita dari Blora (1952) karya Pramoedya Ananta Toer, cerpen “Yang Menyewakan Diri” menyajikan potret sosiologis yang sangat suram mengenai kehidupan masyarakat lapis bawah di kota kecil Blora yang terperangkap dalam cengkeraman kemiskinan struktural. Melalui kacamata Sosiologi Sastra berbasis kerangka teori Pierre Bourdieu khususnya konsep Habitus, Modal (Capital), Arena/Ranah (Field), serta Kekerasan Simbolik (Symbolic Violence) dan Salah-Kenal (Misrecognition) esai ini akan membedah bagaimana struktur ekonomi dan kekuasaan menindas kelas subaltern, memaksa mereka memperjualbelikan tenaga hingga nyawa, dan melegitimasi penindasan tersebut melalui pelabelan moral. STRUKTUR ARENA DAN KETIMPANGAN MODAL (CAPITAL) DALAM MASYARAKAT BLORA Bourdieu memandang masyarakat sebagai sebuah Arena (Field) atau ruang pertarungan sosial yang terstruktur, di mana para agen berupaya memperebutkan berbagai bentuk modal. Dalam cerpen “Yang Menyewakan Diri”, arena yang digambarkan adalah kota Blora pada masa transisi kolonial, tempat terjadinya pergeseran ekonomi yang menghancurkan kaum jelata. Krisis Modal Ekonomi (Economic Capital) Modal ekonomi menjadi penentu utama pertahanan hidup seseorang di dalam arena. Tokoh Kakek Leman, Nenek Leman, Siah, dan Nyamidin merepresentasikan kelompok masyarakat bawah yang sama sekali tidak memiliki modal ekonomi: Kakek Leman menyatakan dengan jujur keputusasaannya: “Aku tak punya sawah. Tak punya ladang. Pacul pun tak punya. Aku hanya punya golok. Saban hari kuasah.” Ketiadaan modal material ini memaksa mereka bergantung pada upah harian yang sangat minim dari pekerjaan marginal seperti menggantikan orang meronda (dua setengah sen), menganyam barang dari sabut, atau menyewakan tenaga fisik. Bangkrutnya Modal Simbolik dan Budaya Kaum Priyayi Runtuh Cerpen ini juga merekam fenomena sosial yang lebih luas: runtuhnya kekuasaan kaum priyayi lokal. Kakek Leman menuturkan, “Banyak priyayi kehilangan pangkatnya sekarang. Mereka tak bisa memanggil Leman lagi untuk disuruhnya membetulkan pagar atau kakus.” Ketika kaum priyayi kehilangan modal ekonomi dan status birokratisnya, dampaknya langsung menimpa kelas buruh harian seperti Leman yang kehilangan sumber penghidupan kecil-kecilan mereka. HABITUS KEMISKINAN DAN KERENTANAN SOSIAL Konsep Habitus merujuk pada sistem disposisi mental, persepsi, dan tindakan yang terbentuk melalui internalisasi kondisi objektif kelas sosial dari masa ke masa. Habitus inilah yang membimbing cara pandang Kakek Leman dan keluarganya terhadap realitas hidup mereka. Pasrah pada Kondisi: Ketika Kakek Leman ditanya tentang kemalasannya, ia menjawab getir: “Aku orang malas. Kalau aku rajin, apa aku kerjakan? Aku tak punya sawah…” “Kemalasan” di sini bukanlah sifat bawaan biologis, melainkan bentuk habitus defensif sebuah adaptasi psikologis ketika struktur sosial menutup segala peluang mobilitas vertikal bagi kaum miskin. Pendidikan sebagai Ilusi Mobilitas: Di sisi lain, narator (yang dibesarkan dalam keluarga guru yang lebih mapan) disekolahkan dan diajari untuk menjauhi kemalasan keluarga Leman. Ibu narator melarang keras anaknya bergaul dengan keluarga Leman karena menganggap “kemalasan adalah penyakit yang menular”. Hal ini menunjukkan bagaimana habitus kelas menengah diproduksi untuk mendiskriminasi kelas bawah. KEKERASAN SIMBOLIK DAN SALAH-KENAL (MISRECOGNITION) DALAM TINDAKAN “MENYEWAKAN DIRI” Puncak tragedi dalam cerpen ini termanifestasi ketika Kakek Leman yang sudah tua dan miskin tiba-tiba melakukan kejahatan (rajapati / pembunuhan berencana) dengan imbalan uang sepuluh rupiah. Logika Ekonomi di Balik Kekerasan Kakek Leman dibujuk oleh seorang priyayi berbusana bagus (berkain batik, selop mengkilat, blangkon Solo, dan baju tutup berkancing perak) untuk menghabisi seseorang. Sang priyayi menawar dari lima, enam, tujuh, hingga sepuluh rupiah, dengan alasan: “Aku lihat golokmu begitu tajam. Sekali tebas habislah pekerjaanmu.” Tindakan Kakek Leman “menyewakan diri” untuk mencabut nyawa sesama manusia demi sepuluh rupiah adalah bentuk keterpaksaan ekstrem akibat kelaparan struktural. Ketika tertangkap dan diadili, Kakek Leman menolak menggunakan golok saktinya untuk kejahatan tersebut, melainkan menggunakan martil, karena ia menganggap golok adalah satu-satunya alat pencari nafkah yang halal baginya. Ironi ini menunjukkan bagaimana sistem ekonomi kapitalistik-kolonial memaksa tubuh kaum miskin menjadi komoditas kekerasan. Kekerasan Simbolik dan Salah-Kenal (Misrecognition) Kekerasan Simbolik (Symbolic Violence) bekerja ketika relasi dominasi dan ketimpangan struktural disamarkan dan diterima sebagai masalah moral atau kekurangan pribadi, yang disebut Bourdieu sebagai Salah-Kenal (Misrecognition). Masyarakat dan aparat penegak hukum melihat tindakan Kakek Leman murni sebagai tindakan kriminalitas individu (“orang tua yang jahat atau tidak waras ingatan”). Struktur sosial yang menolak memberikan jaminan hidup, kemiskinan masif, dan eksploitasi oleh kaum priyayi berpunuk kekayaan tidak pernah dipertanyakan. Pihak priyayi pemberi modal (yang menyuap Leman sebesar sepuluh rupiah) tetap bersih dan terlindung di balik status sosialnya, sementara si tua Leman harus menanggung hukuman kerja paksa tujuh bulan di Malang. Di sinilah kekerasan simbolik beroperasi secara sempurna: kemiskinan struktural diubah wajahnya menjadi kriminalitas individual, dan korban disalahkan atas sistem yang menindasnya. KESIMPULAN DAN REFLEKSI KRITIS Melalui cerpen “Yang Menyewakan Diri”, Pramoedya Ananta Toer lewat pisau analisis Pierre Bourdieu memperlihatkan bagaimana kemiskinan bukan sekadar urusan nasib, buah dari kemalasan, atau pilihan moral individual, melainkan produk dari strukturasi kekuasaan dan ketimpangan ekonomi yang sistemik. Kakek Leman dan keluarganya adalah korban dari arena sosial yang kejam, di mana tubuh, keterampilan, dan bahkan nyawa mereka terpaksa “disewakan” demi bertahan hidup di atas tanah yang menolak memberi mereka penghidupan. Analisis ini merefleksikan pentingnya kesadaran sosiologis (socioanalysis) agar kita tidak terjebak menghakisi kemiskinan secara moral semata, melainkan membongkar akar ketimpangan struktural dan kekerasan simbolik yang melingkupinya. Post Views: 20 Navigasi pos Ideologi dalam Cerpen “Bintang Maut” Karya Ki Panjikusmin: Analisis Lucien Goldmann Ketika Bebek Punya Kelas: Pertentangan Borjuis-Proletar dalam Cerpen Kematian Paman Gober