SAYA SIAP, TUHAN OK Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Dalam perjalanan hidup, kita sering terjebak dalam pola pikir transaksional dengan Tuhan. Kita cenderung berandai-andai dan bernegosiasi: “Tuhan, kalau ujud doaku terkabul, saya janji akan rajin ke gereja,” atau “Tuhan, kalau masalah ini selesai, saya siap melayani lebih sungguh-sungguh.” Padahal, Tuhan tidak pernah menunggu syarat atau balasan dari kita. Yang Tuhan nantikan adalah kesiapan hati. Ketika batin dan langkah kita sudah benar-benar siap, pintu-pintu kemudahan akan terbuka. Terhadap hati yang sudah siap, Tuhan pasti “OK”. Pengalaman nyata saya pada awal Agustus lalu menjadi tamparan sekaligus peneguhan akan kebenaran ini. Pada tanggal 6 hingga 8 Agustus, saya ditugaskan oleh rekan-rekan di Yayasan Koker Niko Beeker untuk menghadiri pemakaman sosok yang sangat saya hormati, P. Nicholas Strawn, SVD, di Lembata. Kerinduan untuk memberikan penghormatan terakhir begitu besar. Namun, perlu pembaca ketahui bahwa tiga hari sebelumnya saya baru saja mengurus KTP yang hilang dua bulan lalu. Selama dua bulan itu saya terus menunda, hingga tiba-tiba ada “bisikan” yang menggerakkan saya untuk mengurusnya tepat tiga hari sebelum kabar duka itu datang. Tanpa KTP, tentu saya tidak akan diizinkan berangkat. Secara manusiawi, perjalanan ini awalnya terasa mustahil. Tanpa KTP, tiket pesawat dan administrasi perjalanan tidak mungkin diproses; bayangan kegagalan sudah di depan mata. Namun, alih-alih pasrah atau sekadar berdoa meminta keajaiban tanpa berbuat apa-apa, saya memilih untuk mempersiapkan diri. Beruntung, dorongan batin beberapa hari sebelum keberangkatan membuat saya tergerak mengurus penggantian KTP tersebut. Langkah kecil mengurus KTP itu adalah bentuk kesiapan nyata saya. Dan benar saja—ketika hati dan dokumen saya sudah siap, jalan yang tadinya tertutup rapat mendadak terbuka lapang. Tuhan meng-OK-kan niat baik saya. Perjalanan ke Lembata berjalan lancar, dan saya dapat mengantar P. Nicholas Strawn, SVD ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Kejadian ini menyadarkan saya: sering kali kita menuntut Tuhan bertindak cepat, sementara kita sendiri belum siap menerima atau mengusahakannya. Ketika hati siap, keajaiban terjadi. Kitab Suci tidak pernah kehabisan contoh yang menguatkan hal ini: • Kisah Perwira di Kapernaum (Matius 8:5-13): Ia tidak bernegosiasi atau berjanji macam-macam. Ia hanya menyiapkan hatinya dengan kerendahan hati yang mendalam dan percaya penuh pada perkataan Yesus. Kesiapan imannya membuat Yesus kagum, dan Tuhan langsung meng-OK-kan permohonannya: “Jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” • Gadis-Gadis yang Bijaksana (Matius 25:1-13): Lima gadis bijaksana menyediakan minyak cadangan untuk pelita mereka demi menyambut kedatangan Mempelai. Minyak persediaan itu melambangkan kesiapan batin yang senantiasa terjaga. Hanya mereka yang siaplah yang diizinkan masuk ke ruang pesta. • Zakheus yang Menyiapkan Diri dan Rumahnya (Lukas 19:1-10): Ia tidak menunggu Yesus mengetuk pintu rumahnya baru ia bertobat. Kesiapan hatinya ditunjukkan dengan tindakan nyata: berlari dan memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus. Ketika Yesus melihat hati dan usaha Zakheus yang sudah siap, Yesus langsung berkata: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini.” Jika demikian, hal utama yang perlu saya (dan barangkali juga pembaca) lakukan adalah menyiapkan diri. Ibarat pemilik rumah, tugas kita adalah membukakan pintu bagi rencana-Nya. Ketika saya SIAP, maka Tuhan pasti OK—bukan sebaliknya seperti yang kerap kita lakukan. Artinya saya perlu mengubah cara yang selama ini terlanjur saya lakukan dengan bernegosiasi dengan Tuhan (dan sedikit memaksakan) sebagai syarat agar saya bisa mewujudkan niat tertentu. Sebaliknya, saya perlu siapkan diri, buka pintau hati saya karena kalau demikian maka Tuhan akan “OK” karena Ia melihat bahwa saya sudah siap agar Ia menganugerahkan ramhat istimewa. Doa Penutup Ya Tuhan yang Maha Baik, Terima kasih atas teguran lembut-Mu hari ini. Ampuni saya yang sering kali berhitung dan bernegosiasi dengan-Mu, seolah-olah kasih-Mu memerlukan syarat dan balasan dari kami. Bimbinglah kami agar senantiasa membenahi dan menyiapkan batin, serta berani mengambil langkah nyata dalam setiap niat baik. Bentuklah hati kami agar selalu peka, rendah hati, dan siap sedia menerima kehendak-Mu. Semoga dalam setiap ketidakpastian dan tantangan hidup, kami selalu memiliki keberanian untuk berkata dengan mantap: “Saya siap, Tuhan,” sebab kami percaya Engkau selalu menyambut kami dengan kasih-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan bertakhta bersama Allah Bapa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. • Catatan: Doa Katolik selalu diakhiri dengan rumusan Tritunggal Mahakudus. Hal inilah yang menjadi salah satu kekhasan doa liturgis/resmi Katolik. Robert Bala Penulis buku “MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN”, Penerbit Kanisius Yogyakarta (Cetakan ke-2 Post Views: 13 Navigasi pos Penyuluh Agama Perkuat Misi Kemanusiaan dalam Pelayanan Holistik di RS. St. Damian Lewoleba