Setetes Embun Seribu Harapan: Refleksi Kebijaksanaan dan Tanggung Jawab dalam Musyawarah Yamali Nasional Flores Timur 5 Juli 2025 FLORES TIMUR : WARTA-NUSANTARA.COM— Siang itu, aula MTs Negeri 2 Flores Timur di Lamakera terasa sempit oleh padatnya hadirin. Para tetua dari tujuh suku yaitu suku Kampung Lamakera, Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Hari Onan, Lawerang, dan Kukun Onang turut hadir bersama masyarakat umum, pemuda-pemudi, serta sejumlah akademisi bergelar profesor, doktor dan magister. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk reuni, melainkan menyatukan langkah dalam Musyawarah Nasional II Yamali Nasional. Agenda utama musyawarah ini jelas: menyamakan konsep, merajut rasa, dan merumuskan gagasan besar almarhum Abdul Syukur ID serta penerusnya, Ali Taher Perasong. Pada momen bersejarah tersebut, estafet kepemimpinan secara resmi beralih ke tangan Ahmad Yohan. Dalam sambutannya yang sarat emosi, Ahmad Yohan mengakui beratnya beban yang ia pikul sebagai pengganti Ali Taher Perasong, sosok yang selama ini gigih menata peradaban Lamakera dan menuntun langkah komunitas menuju visi Indonesia Emas 2045. Sesi dialog berlangsung dinamis. Yamali Nasional menghadapi sorotan kritik, antitesis, hingga pertanyaan tajam terkait visi, misi, dan sejumlah program yang dinilai belum terlaksana optimal. Di mata sebagian masyarakat, Yamali sering kali dipandang hanya sebagai perpanjangan nama besar “Yohan”—mengacu pada posisi Ahmad Yohan sebagai anggota DPR RI dan Wakil Ketua Komisi IV—seolah-olah organisasi ini kurang bergerak mandiri. Menanggapi gugatan tersebut, Ahmad Yohan, yang akrab disapa AYO, merespons dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Ia mengibaratkan perannya sebagai mesin lokomotif. Untuk menarik gerbong besar dalam perjalanan panjang, kapasitas mesin saja tidak cukup. Diperlukan empat pilar utama: 1. Ketepatan arah dan tujuan; 2. Kesanggupan menarik beban di medan yang berat; 3. Kemampuan menjaga agar seluruh rangkaian tetap utuh dan tidak tercecer; 4. Serta kesabaran merawat laju tanpa henti. Ia menegaskan bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari kecepatan, melainkan dari konsistensi membangun jejak hingga tujuan benar-benar mendatangkan manfaat nyata. Suasana semakin mendalam ketika Prof. Dr. Taher Maloko menyampaikan filsafat pengikat. “Setetes air dapat melubangi batu, dan setetes embun meninggalkan seribu satu harapan,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa kehebatan para pendahulu bukan semata karena kecerdasan atau ketangkasan, melainkan fondasi kerja yang dibangun atas kesabaran dan keuletan. Prof. Taher juga menyoroti hilangnya nilai fundamental: rasa takut kepada Pemilik Segala Harapan. Ketika seseorang lupa bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, kerja kehilangan arah dan tujuan mudah tergerus menjadi kepentingan sesaat. Senada dengan itu, Ahmad Yohan menutup dengan pesan tegas nan reflektif. “Tanggung jawab saya di dunia mungkin dapat saya tunaikan hari ini. Tetapi bagaimana dengan tanggung jawab saya di hadapan Allah Swt? Amanah rakyat yang diberikan kepada saya bukan sekadar kursi di Senayan, melainkan ujian iman, ukuran karakter, dan jalan mempertanggungjawabkan kepercayaan.” Musyawarah Nasional II Yamali Nasional pun berakhir dengan semangat baru dan meninggalkan satu agenda Pemilihan Ketua Yamali periodik berikut pada tanggal 6/7/2026. Kritik diterima sebagai cermin, pertanyaan menjadi kompas, dan doa menjadi tenaga penggerak. Di tengah harapan besar dan beban amanah, Lamakera memilih untuk berjalan bersama: menyatukan rasa, menyepakati gagasan, dan merawat arah menuju masa depan yang lebih beradab. #RAM Post Views: 23 Navigasi pos YBR, Cahaya dari Ngada