Terjaga Mat 25:1-13 Oleh : Pater Steph Tupeng Within, SVD WARTA-NUSANTARA.COM— Perumpamaan tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh bukan kisah fiktif. Kisah ini berasal dari budaya Yahudi tentang pernikahan. Ada pesta menjelang pernikahan. Pengantin laki-laki akan mengambil mempelai perempuan pada tengah malam dari rumah ayahnya. Rangkaian tata cara perkawinan lokal di tanah Palestina mengatur jadwal berjaga-jaga dan persiapan agar tiap orang berpartisipasi dalam sukacita bersama mempelai. Biasanya rombongan mempelai laki-laki mengambil jalan panjang agar lebih banyak tetangga, kenalan dan siapa pun dapat ikut serta dalam perarakan itu. Jika mempelai laki-laki menghendaki penjemputan di malam hari, lampu minyak diperlukan untuk menerangi jalan yang sempit, sukar dan gelap. Tak seorangpun diizinkan berjala-jalan di desa dalam situasi gelap tanpa membawa pelita. Ketika sampai di rumah mempelai perempuan, pintu ditutup dan yang datang terlambat tidak diizinkan masuk. Para gadis itu menunggu mempelai laki-laki agar bisa mengikuti perarakan ke rumah mempelai perempuan untuk masuk ke dalam perjamuan. Ternyata, kedatangan mempelai laki-laki tidak sesuai harapan. Ia datang larut malam. Saat menunggu terasa panjang. Lampu-lampu pelita kian redup karena minyak semakin berkurang bahkan habis sama sekali. Sementara gadis-gadis itu terserang ngantuk lalu tertidur. Lima gadis bijaksana membawa pelita beserta persediaan minyak, sedangkan lima gadis lain hanya membawa pelita. Ketika pengantin dating pada waktu yang tidak diketahui, hanya lima gadis bijaksana yang menyambutnya. Yesus membongkar ilusi bahwa persiapan hidup dapat selalu ditunda. Keselamatan tidak diperoleh dengan persiapan yang mendadak: iman yang teguh, hati yang mengasihi, pengampunan yang tulus dan hidup setia kepada Allah. Semua itu laku seumur hidup kita di atas dunia ini. Pelita merupakan simbol hidup yang kita jalani sedangkan minyak melambangkan kesiapsiagaan rohani yang harus kita investasikan setiap hari. Kita mengisi buli-buli minyak ketika kita memilih mengampuni daripada menyimpan dendam, berlaku jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, melayani tanpa mencari pujian dan memngasihi tanpa mengharapkan balasan. Kita mengisinya melalui doa, Ekaristi, pertobatan, kesetiaan pada Sabda Tuhan dan keberanian memperbaiki kesalahan. Kita mesti membangun hidup kita dengan jujur di hadapan Tuhan. Jangan sampai kita hanya sekadar menjadi pelita yang tampak indah dipandang orang lain tapi kehabisan minyak ketika “Sang Mempelai” datang. Nama baik, ketenaran, kedudukan sosial, kekayaan bahkan kesibukan dalam aktivitas pelayanan tidak dengan sendirinya menjamin kesiapan batin di hadapan Allah. Kita memang tidak berkuasa menentukan kapan pelita hidup kita padam. Tapi kita dapat menentukan bagaimana menjalani hari ini. Kita dapat memilih untuk tidak menunda kasih, tidak menunda pengampunan, tidak menunda pertobatan dan tidak menunda melakukan kebaikan. Penyair Rendra dalam puisi “Amsal Sebuah Perjaanan ke Golgota” melukiskan itu sebagai sebuah kehidupan yang berjalan dalam sikap “terjaga.” Sikap “terjaga” berarti menyiapkan diri selagi hari masih terang, supaya ketika tengah malam datang, kita tidak harus mulai dari nol. Terlambat. Harapan itu nyata, tetapi ia bukan alasan untuk lalai. Pintu dalam Injil bisa tertutup. Pertanyaan untuk kita minggu ini: apa yang sedang saya isi setiap hari supaya kuat kalau penantian ini panjang? Kebijaksanaan sudah di depan pintu, dan Kristus sudah lebih dulu melewati jalan yang akan kita lalui. Tinggal kita mau mencari, mau berpikir, dan mau menyiapkan minyak. Post Views: 12 Navigasi pos Lupa Mengisi Minyak