Alm. Sinun Petrus Manuk

Testimoni Kenangan Bersama Ade Piter Manuk, Dari Awal Sampai Diakhir Hidupnya

Catatan Seorang Sahabat : Goris Lewoleba

WARTA-NUSANTARA.COM—   Ade Piter Manuk adalah sosok pribadi yang sangat cerdas dan rendah hati, serta amat bersahaja di mata banyak kalangan. Meskipun kami bertetangga Desa di Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata ( Saya di Desa Atawatung/Waimatan, dan Ade Piter Manuk di Desa Bunga Muda, tetapi kami baru bertemu di SPG Kemasyarakatan Lewoleba, ketika Saya Kelas 3 dan Ade Piter Manuk Kelas 1.

Sejak di SPG Kemasyarakatan Lewoleba itu, Saya sudah memperhatikan bakatnya yang luas biasa sebagai seorang pemimpin ke arah masa depan.

Setelah Saya tamat SPG Kemasyarakatan Lewoleba Tahun 1978/1979, Saya masuk kuliah di Undana Kupang dengan mengambil Jurusan Bimbingan Penyuluhan di FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) .

Dua tahun kemudian (1981), Saya dipilih menjadi Ketua Umum Bandan Perwakilan Mahasiswa FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) Undana.

Pada saat itu Ade Piter Manuk masuk ke Undana dan kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP UNDANA).

Dan saat itu, sebagai Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa FIP UNDANA, Saya memimpin Ospek Mahasiswa Baru, dan saat itu, Saya semakin mengenal Ade Piter Manuk punya bakat kepemimpinan yang bagus untuk dikembangkan ke arah masa depan.

Pada tahun 1982, terjadi Penggabungan antara FIP Fakultas Ilmu Pendidikan dan FKg (Fakultas Neguruan) menjadi FKIP (Fakultas Neguruan dan Ilmu Pendidikan), Saya juga dipilih menjadi Ketua Umum BPM ( Badan Perwakilan Mahasiswa), dan sejak saat itu, Saya mempersiapkan Ade Piter Manuk untuk menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKIP UNDANA (Fakultas Terbesar di Undana saat itu).

Ade Piter Manuk sangat aktif di Kampus saat itu.

Suatu ketika, Ade Piter Manuk tanya kepada Saya, Kaka, diantara tiga kegiatan Kemahasiswaan ini, mana yang Kaka rekomendasikan untuk saya ikuti :

1. Menwa
2. Pramuka
3. PMKRI

Lalu, entah kenapa, Saya bilang, Ade Ikut Pramuka ! Dan Dia setuju, jadilah Ade Piter Manuk ikut aktif di Pramuka Undana, dengan Pembinaanya Bapak Drs.R.B. Suratama (Dosen Pembimbing Thesis S1 Saya di Undana). Pada saat Saya sudah menjadi Dosen di Undana, suatu ketika Pak Drs.R.B Suratma menyampaikan kepada Saya bahwa, Piter Manuk punya potensi yang sangat baik untuk kepemimpinan Pramuka di NTT di masa mendatang.

Ketika Saya Menjadi Ketua Umum BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) di FKIP hendak membentuk Senat Mahasiswa FKIP UNDANA, Ade Piter Manuk adalah salah satu Calon Ketua Umum yang potensial.

Dan dalam proses pemilihan itu, dipilih 3 orang Calon oleh Formatur yang dibentuk oleh BPM dan atas persetujuan Pembantu Dekan III, maka ditetapkan Ade Piter Manuk sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FKIP Undana.

Dengan demikian, ketika masih mahasiswa di Undana, Ade Piter Manuk sangat aktif sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FKIP dan menjadi Pimpinan Gugus Pramuka di Undana.

Dalam dinamika dan cerita pada sisi yang lainnya, ketika Saya selesai menjadi Presidium PMKRI Kupang dan tidak lagi tinggal di Marga PMKRI Kupang, Saya tinggal dengan Ade Piter Manuk di Jln. P da Cunha Naikoten II Kupang, dimana di rumah itu kami tinggal bersama: Ade Piter Manuk, Saya, Ade Kans Manuk, Ade Lukas Tuan Tana, Ade Simon Loli, dan Ade Rafael Rabu Nihan.

Di Rumah Ade Piter Manuk inilah, pada tahun 1982, Saya berinisiatif untuk mendirikan Organisasi AMMAPAI (Angkatan Muda Mahasiswa dan Pelajar Asal Ile Ape) bersama: Kaka Ande Hurek, Reu Daniel Hurek, Kaka Madjid Lamahoda dan Reu Marinus Model Making.

Setelah Saya menjadi Dosen Undana (1985), kami semua pindah tinggal di Rumah Saya di Naikoten II (dekat asrama Tentara Kuanino), dan ditempat Saya itu, kami semua yang seperti di atas tadi, dan ditambah dengan Markus (orang Adonara) dan Ade Ber Nihan (sekarang Bapa Kepala Desa Bunga Muda).

Kemudian, pada tahun 1989, kami berpisah karena Saya dikirim Sekolah S2 dan S3 di UI (Universitas Indonesia) dan tidak kembali lagi ke Undana sampai sekarang.

Setelah itu, jauh dikemudian hari, baru Saya tahu bahwa, karir Ade Piter Manuk berkembang pesat di NTT dan memegang berbagai jabatan penting di Birokrasi Pemerintahan Propinsi NTT, dan hingga usia purnabakti pun masih sedang menjabat sebagai Ketua Kwarda Pramuka NTT.

Kami berdua komunikasi online hampir setiap hari melalui WA Grup.

Pertemuan kami secara offline terakhir kali itu, pada tahun 2023, ketika Saya Menjadi Ketua Umum Relawan Mitra Ganjar se Indonesia, menjelang Pemilu 2024, dimana Saya ke Kupang untuk membentuk Relawan Mitra Ganjar di Provinsi NTT, dan kami Berdua bertemu di Kantor Kwarda Pramuka NTT di Penfui.

Lalu, tiba2 hari Jumat sore tanggal 14 Agustus 2026, Saya diberi kabar oleh Kaka Ande Hurek dari Kupang bahwa, Ade Piter Manuk ke Jakarta ikut Kwarnas dan sedang sakit serius, kena Serangan Jantung dan sedang Opname di Jakarta di RS Eka Hospital.

Dan Saya tanya Kaka Ande Hurek, RS Eka Hospital yang dimana, karena di sekitar Jakarta ini, RS Eka Hospital itu ada 6. Lalu, Kaka Ande menyampaikan bahwa, RS itu dekat dengan Wisma NTT, lalu saya cari tahu, ternyata di Jln. MT Haryono Jakarta.

Kemudian, pada hari Sabtu siang Tanggal 15 Agustus 2026, Saya datang ke RS Eka Hospital itu, dan sampai di Ruang Tunggu ICU Lt.6, Saya bertemu dengan Putranya Ade Piter Manuk Ananda Karlos Manuk dan juga Mamanya (Isteri Ade Piter Manuk) dan Kedua Anak Puterinya.

Dari penuturan Ananda Karlos bahwa Papa sudah 4 hari tidak sadar, dan atas keterangan dokter kepada keluarga, Daya Tahan Papa, sisa 30 %.

Saya berusaha untuk menguatkan Keluarga agar Berdoa dan berserah kepada Tuhan dan Lewotana.

Lalu, beberapa saat kemudian, Saya bersama Ananda Karlos ke Ruang ICU.

Memperhatikan Ade Piter terbaring seperti itu, tanpa terasa Saya meneteskan airmata ..

(Mohon maaf, pada bagian ini, sebagian kisah ini Saya tuturkan dalam bahasa kampung)…

Meskipun Ade Piter dalam kondisi tidak sadar di Ruang ICU, tapi secara medis telinga masih bisa mendengar..
Sebab, secara biologis dan neurologis, pendengaran dipercaya sebagai indra terakhir yang berfungsi sebelum seseorang meninggal dunia.

Penelitian medis menggunakan electroencephalography (EEG) menunjukkan bahwa otak pasien yang tidak sadar atau menjelang ajal di ICU masih dapat merespons rangsangan suara hingga jam-jam terakhir kehidupannya.

Jadi go peheng/pregum ro limang epaken nekin, dan go mapuro koteng, dan go mayang ro, Ari… Go Kaka Goris.. go beng saing pi Ari ..

Tiba-tiba Na Limang langsung reaksi dan peheng/pregum go Limak juga .

Dan go mari ro : Ari… Onem kuay, ti hogo tobolo, ti balike tan Lewotana taike Ari ..

Tetapi Tuhan, Ama Belen pe teti Kowa Lolon, mau mayaro balik ka teti Surga Oneng gere…

Lalu, hari Minggu hulemeng, pe Ari Piter maiko molohno kae pe….❤️❤️❤️

Keterangan bagian yang bahasa Kampung di atas :

Jadi, Saya genggam telapak tangan kirinya, dan Saya peluk rangkul kepalanya, lalu Saya panggil dengan suara yang kuat, Ade..ini Saya Kaka Goris, Saya baru nyampe di sini Ade…

Tiba2, Dia respons genggaman tangan Saya (padahal selama 4 hari ini tidak ada respon sama sekali).

Kemudian, Saya bilang, Ade kuatkan hatimu dan bangun duduk, supaya kita pulang ke Kampung…

Tetapi Tuhan lebih Sayang dengan Ade Piter Manuk, sehingga, Hari Minggu Pagi Ade Piter Manuk kembali ke Rumah Bapa di Surga ❤️❤️❤️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *