Ustadzah AI: Ilusi Sanad dan Fitnah Digital di Ujung Zaman Oleh: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, M. Pd. CPIM WARTA-NUSANTARA.COM— Di beranda TikTok dan Instagram, Anda mungkin pernah menjumpai sosok wanita berhijab rapi, berwajah ayu, dengan suara lembut yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an atau memberikan nasihat motivasi. Namanya Nia Hajar. Ia memiliki hampir 900 ribu pengikut. Jutaan engagement mengalir deras setiap kali ia mengunggah konten dakwah singkat. Namun, ada satu fakta yang mungkin luput dari perhatian mayoritas penontonnya: Nia Hajar tidak nyata. Ia adalah persona kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) 100%. Wajahnya dihasilkan oleh algoritma, suaranya disintesis oleh mesin, dan gerak bibirnya dikendalikan oleh kode pemrograman. Fenomena “Ustadzah AI” ini bukan sekadar tren teknologi; ia adalah cermin retak dari peradaban digital kita yang sedang menghadapi ujian berat: krisis otoritas kebenaran dan runtuhnya tradisi sanad. Runtuhnya Rantai Sanad: Bahaya Ilmu Tanpa Guru Dalam tradisi Islam, ilmu agama bukanlah komoditas bebas yang bisa diambil sembarangan dari internet atau avatar digital. Ia diturunkan melalui sanad rantai periwayatan yang jelas dari guru ke murid, dari ulama terpercaya ke generasi berikutnya. Sanad adalah jaminan keaslian, validitas, dan akuntabilitas ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar di malam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar. Ia tidak tahu apakah di dalamnya ada ular berbisa atau tidak.” Pernyataan Imam Syafi’i ini sangat relevan dengan fenomena Ustadzah AI. Siapa yang “mengajarkan” AI tersebut? Dari mana sumber datanya? Apakah dataset-nya telah diverifikasi oleh ulama mu’tabar? Ataukah ia hanya menghafal pola teks dari internet yang penuh dengan tafsir liar, hadits dhaif (lemah), bahkan palsu? Ketika AI mengalami hallucination sebuah istilah teknis di mana AI membuat informasi yang terdengar meyakinkan namun faktually salah, tidak ada siapa-siapa yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada ustadzah sungguhan yang bisa ditegur jika terjadi kesalahan tafsir. Kita sedang menyerahkan interpretasi wahyu Ilahi kepada algoritma yang tidak memiliki hati, jiwa, maupun rasa takut kepada Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra’ ayat 36: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” AI tidak memiliki “hati” untuk dimintai pertanggungjawaban. Lalu, kepada siapa umat akan menuntut keadilan jika mereka tersesat akibat fatwa atau tafsir yang keliru dari persona palsu ini? Bahaya Mengambil Agama dari Sumber yang Tidak Jelas Para ulama salaf sangat ketat dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan, dan salah satunya adalah mengambil dari orang yang terpercaya ilmunya. Beliau mengingatkan: “Jangan sampai mengambil ilmu agama dari ahli bid’ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari.” Persona AI, pada dasarnya, adalah entitas tanpa identitas keilmuan yang jelas. Ia bisa saja diprogram oleh pihak-pihak dengan agenda tertentu; komersial, politik, atau ideologi yang menyusupkan pemahaman dangkal atau menyimpang di balik tampilan visual yang menawan. Ini adalah bentuk modern dari peringatan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi: “Sesungguhnya ilmu ini (agama) adalah amanah. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Mengambil agama dari “robot” yang diciptakan manusia sama halnya dengan mengambil agama dari sumber yang tidak memiliki kapabilitas spiritual dan intelektual yang diakui secara syar’i. Dangkalnya Pemahaman dan Jebakan Parasosial Konten dakwah berdurasi 60 detik cenderung simplistik dan emosional. Ia menjual “kulit” agama tanpa menyentuh “isi” yang mendalam berupa fiqih, ushul fiqh, dan konteks historis. Akibatnya, muncul fenomena “merasa sudah paham agama” padahal hanya mengonsumsi cuplikan dangkal. Lebih berbahaya lagi adalah aspek psikologis. Hubungan antara pengikut dan persona AI menciptakan ikatan parasosial yang tidak sehat. Pengikut merasa dekat, bahkan “jatuh cinta” atau sangat bergantung pada figur palsu tersebut. Kepercayaan ini rentan dimanipulasi. Dalam sosiologi media, hal ini disebut sebagai hiperrealitas (Jean Baudrillard), di mana simulasi (AI) dianggap lebih nyata dan lebih dipercaya daripada realitas itu sendiri (ulama asli). Fitnah Akhir Zaman: Kebenaran yang Terbalik Para ulama mengingatkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah kaburnya batas antara kebenaran dan kebohongan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Akan datang pada manusia tahun-tahun penipuan (fitnah), dimana orang yang berdusta dibenarkan, dan orang yang jujur didustakan.” Fenomena Ustadzah AI adalah manifestasi nyata dari “tahun-tahun penipuan” tersebut. Dengan wajah cantik dan suara merdu, ia bisa menyebarkan kesesatan massal. Bayangkan jika kutipan ayat Al-Qur’an yang ditampilkan tidak sesuai dengan surah dan ayat aslinya, atau konteksnya dipelintir demi viralitas. Karena ketidaktahuan pengguna awam, kesalahan ini akan diterima sebagai kebenaran mutlak. Ini adalah bentuk fitnah modern: menyesatkan banyak orang dengan bungkus teknologi yang canggih dan wajah yang menawan. Sebagaimana analogi dalam hadis tentang penuduh zina yang harus mendatangkan 4 saksi, di era digital ini, “saksi” kebenaran semakin sulit ditemukan di tengah banjir informasi palsu yang diproduksi oleh mesin. Teknologi Sebagai Alat, Bukan Otoritas Kita tidak anti-teknologi. AI boleh saja digunakan sebagai alat bantu: untuk membuat subtitle, merapikan transkrip ceramah ulama asli, atau mendesain grafis dakwah. Namun, menggunakan AI untuk menciptakan persona palsu yang berpura-pura menjadi manusia dan mengklaim otoritas agama adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Agama bukan sekadar hiburan visual atau konten viral. Ia menyangkut keselamatan hidup dunia dan akhirat, menuntut tanggung jawab moral, dan memerlukan hubungan langsung dengan sumber ilmu yang terpercaya. Mari kembali pada prinsip dasar: verifikasi sebelum percaya, dan utamakan belajar dari guru yang memiliki sanad jelas, bukan dari avatar yang diciptakan oleh kode pemrograman. Karena di akhir nanti, yang akan mempertanggungjawabkan ilmu bukanlah server data, melainkan jiwa kita sendiri. Biodata: Biografi Penulis: Muh. Sulaiman Rifai Aprianus Mukin, lahir di Ende, 27 April 1970, adalah ASN di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, NTT, dalam jabatannya sebagai Pengawas Sekolah Ahli Madya Tingkat Menengah. Sedang merintis Taman Baca Savana Iqra (TBSIq) dan aktif berperan sebagai “Penakar Literasi” dalam Komunitas Penulis Lembata. Penulis aktif menulis opini/headline di berbagai media online. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook (@RifaiAprian) dan Instagram (@Rifai_mukin). Post Views: 20 Navigasi pos Ekoteologi dalam Aksi: Sinergi Gerakan Legio Maria Lembata dengan Agenda Nasional Kementerian Agama