Wagub NTT Kunjungi Seminari Tinggi Ritapiret, Pastikan Kondisi Bangunan Terdampak Gempa Segera Ditangani Maumere, 23 Agustus 2026 SIKKA : WARTA-NUSANTARA.COM— Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. (Purn) Johni Asadoma, mengunjungi Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, untuk melihat secara langsung kondisi bangunan dan kehidupan para calon imam yang terdampak gempa. (23/8/2026) Wagub Johni Asadoma Salaman dengan Praeses/Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, RD. Guidelbertus Tanga Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur Asadoma didampingi Praeses/Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, RD. Guidelbertus Tanga, yang akrab disapa Romo Hilde, bersama sejumlah imam, yakni Romo Ino Mansyur, Romo Petrus Sina, Romo Robert Gaganai, Romo Cesar Reda, Romo Rikard Muga, dan Romo Albert Dedon. Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret merupakan tempat pendidikan calon imam yang melayani enam keuskupan. Kompleks seminari berdiri di atas lahan sekitar 6 hektare dengan lingkungan yang rindang dan memiliki sejumlah fasilitas pendidikan, asrama, kapela, aula serta bangunan pendukung lainnya. Dalam peninjauan tersebut, ditemukan sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat gempa. Beberapa bagian bangunan mengalami retakan cukup besar, sementara beberapa fasilitas lainnya mengalami kerusakan pada plafon dan bagian struktur bangunan. RD. Guidelbertus Tanga menjelaskan bahwa terdapat beberapa bangunan yang kondisinya cukup parah dan sudah tidak dapat digunakan untuk sementara waktu. “Ada beberapa bangunan mengalami keretakan yang cukup parah, ada juga asrama yang tidak bisa lagi digunakan sehingga beberapa yang harus tidur di tenda untuk berjaga-jaga apabila ada gempa susulan,” ujar RD. Guidelbertus Tanga. Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah plafon mengalami keruntuhan, salah satunya terdapat pada aula serbaguna. Selain itu, kondisi salah satu rumah susun bantuan Kementerian PUPR juga menjadi perhatian. Bangunan yang baru digunakan sekitar tujuh tahun tersebut mengalami sejumlah retakan. Kondisi lantai tiga dinilai cukup parah sehingga untuk sementara tidak dianjurkan digunakan sebelum dilakukan pemeriksaan teknis. Di dalam setiap kamar rusun terdapat sekitar empat orang. Saat ini terdapat sekitar 110 hingga 120 orang yang menempati masing-masing bangunan rusun. Karena sebagian ruangan tidak lagi aman digunakan, sejumlah calon imam untuk sementara beristirahat di tenda-tenda yang didirikan di lingkungan seminari. Wakil Gubernur NTT menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama. Ia meminta pihak seminari segera berkoordinasi dengan tenaga ahli teknik sipil untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh bangunan yang terdampak. “Sekarang kita sedang berupaya agar bantuan-bantuan cepat sampai kepada masyarakat yang terdampak gempa. Kita juga sedang mendata rumah-rumah, baik yang rusak berat, sedang maupun ringan, sehingga bisa secepatnya dibantu,” kata Wagub Johni Asadoma. Wagub juga menyarankan agar pihak seminari melibatkan tenaga ahli atau sarjana teknik bangunan untuk melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap kelayakan bangunan. “Romo sebaiknya memanggil tenaga ahli sarjana teknik bangunan yang bisa menilai kelayakan bangunan di sini, apakah masih bisa ditempati atau tidak. Ini penting untuk mencegah adanya korban apabila terjadi gempa susulan yang lebih besar,” tegasnya. Wagub mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mempercepat pendataan serta pemeriksaan bangunan yang mengalami kerusakan. Kementerian PUPR juga diharapkan segera melakukan pemeriksaan teknis terhadap bangunan rusun yang mengalami keretakan. Sebelumnya, tim dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) juga telah datang untuk melihat kondisi konstruksi beberapa bangunan. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa sejumlah bagian bangunan masih memiliki kolom struktur yang dinilai kuat, namun diperlukan pemeriksaan teknis lebih menyeluruh untuk memastikan tingkat keamanan bangunan. Salah satu bangunan yang menjadi perhatian adalah bangunan yang memiliki struktur penghubung berupa jembatan antargedung. Kondisi tersebut masih memerlukan kajian teknis untuk memastikan adanya pengaruh gaya tarik-menarik pada struktur bangunan. Selain bangunan asrama, Kapela Santo Yohanes Paulus II juga mengalami kerusakan, terutama pada bagian mimbar yang hancur dan roboh. Fasilitas Saint Peters Hall juga mengalami kerusakan pada beberapa bagian. Sementara itu, Seminari memiliki beberapa aula yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penampungan sementara. Salah satu aula besar memiliki kapasitas hingga sekitar 3.000 orang dan dapat digunakan sebagai ruang serbaguna. Untuk mendukung kebutuhan para penghuni seminari yang terdampak gempa, Wakil Gubernur NTT juga menyerahkan bantuan bahan makanan dan air mineral kepada pihak Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan para calon imam dan pengelola seminari selama proses penanganan dampak gempa berlangsung. Wagub Johni Asadoma mengapresiasi pihak Seminari Tinggi Ritapiret yang tetap menjaga aktivitas dan pelayanan di tengah kondisi pascagempa. Ia juga memberikan perhatian terhadap lingkungan seminari yang memiliki lahan luas dan ditumbuhi pepohonan yang rindang. “Yang paling penting sekarang adalah keselamatan. Jangan sampai kita memaksakan penggunaan bangunan yang secara teknis belum dinyatakan aman. Pemeriksaan oleh tenaga ahli harus segera dilakukan agar kita dapat menentukan bangunan mana yang masih layak digunakan dan mana yang harus dikosongkan,” pungkas Wagub. Pemerintah Provinsi NTT bersama pemerintah kabupaten, instansi teknis dan pihak terkait akan terus melakukan pendataan, asesmen serta koordinasi untuk mempercepat penanganan dampak gempa, termasuk pada fasilitas pendidikan dan tempat pembinaan keagamaan seperti Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Tentang Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret berlokasi di Ritapiret, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini seminari dipimpin oleh RD. Guidelbertus Tanga sebagai Praeses/Rektor. Seminari ini menjadi tempat pendidikan dan pembinaan calon imam dari enam keuskupan di Nusa Tenggara Timur. Demikian siaran pers ini dibuat untuk dipublikasikan #IndonesiaTerang #AyoBangunNTT #AyoBangunIndonesia ***(Siaran Pers Biro Adsministrasi Pimpinan Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur, diterima Warta-Nusantara.Com Penulis/Foto/Video: Bob Djehatu dan BenRio Jusuf) Post Views: 21 Navigasi pos Gubernur NT) Apresiasi Pemerintah Pusat, Yayasan Budha Suci dan Maruarar Sirait Siap Bangun 1000 Rumah Warga Terdampak Gempa Flores.