𝑫𝑼𝑨 𝑮𝑼𝑹𝑼 𝑵𝑨𝑵 𝑩𝑰𝑱𝑨𝑲 𝑫𝑨𝑹𝑰 𝑨𝑻𝑨𝑲𝑶𝑹𝑬 Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Ada orang-orang tertentu dalam hidup kita yang kehadirannya tidak pernah benar-benar “biasa.” Mereka tidak selalu tampil di panggung besar, tidak selalu dikenal luas di luar lingkaran komunitasnya, tetapi pengaruhnya meresap pelan, dalam, dan bertahan lama. Mereka seperti akar pohon tua—tidak terlihat, tetapi menyangga kehidupan banyak orang. Itulah dua sosok guru asal Watuwawer yang ingin saya tulis: 𝑷𝒂𝒖𝒍𝒖𝒔 𝑮𝒆𝒎𝒂𝒅𝒊 𝑯𝒖𝒂𝒓 (Gur Germad(i) dan 𝑷𝒆𝒕𝒓𝒖𝒔 𝑨𝒕𝒂 𝑻𝒖𝒌𝒂𝒏 (Gur Ate). Saya mulai dari ‘Gur Gemad’—𝑷𝒂𝒖𝒍𝒖𝒔 𝑮𝒆𝒎𝒂𝒅𝒊 𝑯𝒖𝒂r. Sosoknya kembali kuat dalam ingatan saya setelah belum lama ini ia memimpin doa ritual di Ina Kar baru-baru ini. Rangkaian kata-katanya mengalir begitu indah dan membuka cakrawala. Dalam momen itu, saya sempat secara spontan mengungkapkan kekaguman saya kepadanya. Kekaguman yang sebenarnya sudah tumbuh sejak lama, sejak saya masih kecil, tetapi mungkin baru sekarang menemukan kata-kata. Untuk ukuran seorang guru di kampung, 𝑮𝒖𝒓 𝑮𝒆𝒎𝒂𝒅 memiliki kapasitas yang luar biasa. Ia seorang literat, pembaca aneka buku mulai dari ringan sampai berat. Saya menilainya hebat dari kompetensi saya sebagai penulis (nasional) yang sudah berinteraksi dengan berbagai buku, dan berinteraksi dengan banyak pemikir, saya belajar mengenali kualitas intelektual seseorang. Dan dengan jujur saya katakan: dalam hal kecerdasan, Guru Gemad bukan orang biasa. Ia bisa “diadu.” Saya masih ingat, ketika kami masih kecil, seusai misa Minggu di Lerek, ia meminta izin kepada bapak saya yang Kepala Desa untuk berbicara dengan rakyat usai ibadah Minggu. Ia bicara tentang koperasi kredit, kewirausahaan dan ide yang terasa aneh bagi rakyat biasa waktu. Tetapi di sela-sela itu saya dengar orang saling membisik: “ne pnua golo-golo.” (ia bicra sangat tinggi dan mungkin sedikit sombong). Sebenarnya dia tidak bicara tinggi, tetapi rakyat yang tidak bisa jangkau. Bisikan itu juga saya dengar kuat di kampungnya Atakore: ‘ne pnua bo woje-woje bene’ (dia bicara itu begitu enak meski berlebihan). Di pihak lain harus diakui kehebatan Gur Gemad. Ia tidak bicara tentang hal yang jauh menjadi dekat tetapi bisa juga mengangkat hal keseharian untuk dideretkan an pada level yang tinggi. Gur Gemad bisa membahasakan yang sulit menjadi hal yang nyata. Ia dengar dan tahu berita besar dan membahasakannya dalam ungkapan sederhana. Jadilah ia juga menjadi rujukan dalam menafsir peristiwa adat. Di sinilah orang yang kritik terpaksa anggukkan kepalanya. Hal itu terasa ketika ia memimpin doa-doa adat. Ada alur yang runtut, pilihan kata yang tepat, dan kedalaman makna yang tidak dibuat-buat. Dalam doa-doanya, kita seperti diajak masuk ke dalam ruang sunyi yang penuh makna—tempat di mana tradisi dan refleksi bertemu. Di sinilah kita mengerti namanya: Gemadi yang bila diterjemahkan berarti ‘membangunkan’ orang. Banyak orang masih tertidur pulas tetapi lupa akan bahaya menghadang. Hal itu bisa dikaitkan dengan ‘Geothermal?’ Mestinya ada kaitan meski yang pro meneyepelehkan sementara yang kontra berkata dalam dialek WAtuwawer yang khas: “Ere ide, nero bo mate” (Aduh, itu sudah yang berbahaya karena bisa membawa malapetaka). Jadi “Gemadi” berarti “membangunkan yang tidur” Ia berusaha membangunkan—murid-muridnya, masyarakatnya, bahkan kita semua—dari tidur panjang ketidaksadaran akan bahaya geothermal misalnya. Ia mengajak orang untuk berpikir, untuk melihat lebih jauh, untuk tidak sekadar ikut arus. Jadi kalau di tengah ‘konflik’ Geothermal dia bersuara, maka itu adalah akumlasi kebijaksanaan yang tidak saja patut didengar tetapi memang itulah yang perlu diikuti. Sosok kedua adalah 𝑷𝒆𝒕𝒓𝒖𝒔 𝑨𝒕𝒂 𝑻𝒖𝒌𝒂𝒏—𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒓𝒂𝒃 𝒅𝒊𝒔𝒂𝒑𝒂 “𝑮𝒖𝒓 𝑨𝒕𝒂.” Saya pernah menulis tentang beliau sebelumnya, tetapi kali ini saya ingin menyoroti sisi lain: kebijaksanaannya yang begitu alami dan diakui banyak orang. Tahun 2017, saat saya pulang kampung dan mengadakan pelatihan di Paroki Lerek tentang cara membawakan renungan. Saya sempat bertanya kepada peserta: “Siapa orang di paroki ini yang kalau berbicara, semua orang pasti mendengarkan dengan sungguh-sungguh?” Tanpa ragu, seorang ibu dari Watuwawer menjawab, “Bp Pit Ata.” Jawaban itu langsung disambut dengan keheningan yang penuh persetujuan. Tidak ada bantahan. Bahkan dari peserta yang berasal dari stasi lain, terlihat anggukan yang sama. Seolah semua sepakat: ya, memang demikian. “Gur Ate meke ne pnua bo no ore wujei” (Guru Ata kalau bicara itu dengan seluruh dan sepenuh hati). Di situlah letak kekuatan Gur Ata. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk didengar. Ia tidak perlu memaksakan pendapat untuk diikuti. Ada wibawa yang lahir dari kebijaksanaan, dari konsistensi hidup, dari pengalaman panjang yang dijalani dengan kesetiaan. Sejak muda, ia sudah menunjukkan kualitas itu. Pada akhir-an, ketika ada pertemuan di Paroki Lerek, ia sering dipercaya menjadi sekretaris—mencatat, merangkum, dan menjaga arah pembicaraan. Ia bukan hanya hadir, tetapi memberi makna. Di usianya yang sangat muda, saat guru seangkatannya tertatih-tatih dengan golongan dan ruangan sebagai PNS, Gur Ate menonjol sendiri. (Ini saya tahu karena bapak kecil Bp Anton Dolet Tolok Kepala SDK Watuwawer dan saya baca di ruang kepala sekolah jabatan dan ruangan. Dia melejit ke II C (semetara teman seangkatan masih di II A). Perjalanannya di dunia pelayanan pun berbicara banyak. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Pastoral Paroki Lerek, kemudian di Kalikasa juga terpilih jadi Ketua Dewan dan bahkan setelah pensiun dan kembali ke Watuwawer, ia kembali dipercaya memimpin jadi Ketua Dewan Paroki lagi selama 2 periode. Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Ia lahir dari integritas, dari sikap hidup yang konsisten, dari kemampuan untuk melihat persoalan dengan jernih dan adil. Tidak hanya di tingkat lokal, ia juga pernah menjadi utusan dalam pertemuan umat Katolik tingkat nasional di Jakarta. Dari sebuah kampung kecil di Lembata, ia melangkah ke ruang yang lebih luas—membawa suara, pengalaman, dan kebijaksanaan dari tanahnya. Di masa tuanya, Gur Ata tidak berhenti berkarya. Ia menulis. Ia merawat ingatan. Ia mendokumentasikan adat istiadat Atakore dalam bentuk buku—sesuatu yang tidak banyak orang mampu lakukan. Ia menjadi penjaga budaya, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata.arena itu, dalam situasi apa pun—termasuk ketika muncul perbedaan pendapat yang tajam seperti yang terjadi dalam isu geothermal—suara Gur Ata memiliki bobot tersendiri. Tanpa diminta, orang akan mendengarkan. Tanpa dipaksa, orang akan mempertimbangkan. Apalagi, ia memiliki kedekatan dengan berbagai pihak. Ia pernah mengajar di Waiwejak (desa yang bersama Watuwawer bersinggungan langsung dengan Geothermal) sehingga ia memahami dinamika di kedua desa ini. Ia tidak berdiri di satu titik sempit, tetapi melihat dari banyak sudut. Dan di situlah kebijaksanaan sejati lahir. Ketika dua desa ini ‘berselisih’, maka orang yang diharapakn bisa ‘berdiri di tengah’, ya Gur Ate itu sudah.. Hari ini, di tengah berbagai ketegangan, kita sebenarnya tidak kekurangan panutan. Bamual pengamat dari luar yang sok jago tunjuk diri hebat paling tahu. Tetapi mereka tetap melihat dari luar. Dalam kondisi ini kita mestinya tahu kepada siapa kita berguru: dua sosok yang telah ditempa oleh waktu, pengalaman, dan ketulusan: 𝑮𝒖𝒓𝒖 𝑮𝒆𝒎𝒂𝒅 𝒅𝒂𝒏 𝑮𝒖𝒓 𝑨𝒕𝒆. Mereka lahir dari rahim yang sama—Atakore—dan kembali ke tanah itu di masa tua mereka, membawa serta kebijaksanaan yang teruji. Kalau banyak orang hebat dari Watuwawer memilih tinggal di kota karena (katanya) lebih baik, keduanya kembali ke Watuwawer tempat lahir, besar, dan juga kalau Tuhan panggil, mereka tentu mau dikuburkan di kampung ini. Saya tidak tahu secara pasti apa yang mereka katakan tentang situasi yang sedang kita hadapi, pro dan kontra tentang Geothermal. Tetapi satu hal yang saya yakini: apa pun yang mereka sampaikan, itu lahir dari cinta—cinta pada tanah, pada budaya, dan pada masyarakatnya.Dan mungkin, di tengah kebisingan suara hari ini, kita perlu belajar untuk kembali mendengar. Mendengar suara yang tenang, yang jernih, yang tidak mencari kepentingan pribadi. Suara dari dua guru bijak dari Atakore. Juga kalau keduanya dikaitkan dengan Rasul Petrus dan Paulus, maka kita bisa bilang: tidak ada yang salah dari omongan mereka. Robert Bala, pengagum dua guru nan bijak dari Atakore. pENULI BUKU GURU HEBAT ZAMAN NOW (Penerbit Gramedia, Cetakan ke-4) (𝑻𝒂𝒅𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒖 𝒔𝒂𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒇𝒐𝒕𝒐 𝒌𝒆𝒅𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂. 𝑻𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒇𝒐𝒕𝒐 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒕𝒆𝒑𝒂𝒕 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒑𝒂𝒕 𝒕𝒖𝒍𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊. 𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒎𝒑𝒊𝒏𝒈𝒊 𝑷𝒂𝒔𝒕𝒐𝒓 𝑷𝒂𝒓𝒐𝒌𝒊 𝑳𝒆𝒓𝒆𝒌 𝑹𝒎 𝑰𝒕𝒐 𝒅𝒂𝒏 𝑷. 𝑫𝒂𝒗𝒊𝒔 𝑾𝒂𝒘𝒊𝒏, 𝑺𝑽𝑫) Post Views: 67 Navigasi pos Wakil Gubernur Johni Asadoma Jadi Irup Peringatan Hari OTDA ke-30 Tingkat Provinsi NTT Bupati Lembata Lantik Penjabat Kepala Desa Antar Waktu Leuwayan, Tekankan Pelayanan dan Percepatan Pembangunan