Penyair (Sole) Lamaholot yang Sahaja (Obituari Pater Lauretius Useng Sogen, SVD)
WARTA-NUSANTARA.COM– Wajah Pater Lorens Useng Sogen SVD menghiasi status media sosial banyak kenalan dan sahabat. Pastor sederhana asal Solor itu telah berpulang ke Rumah Bapa. Tempat kekal yang ia yakinkan umatnya dalam khotbah misa arwah selama 36 tahun. Ia berkhotbah dengan bahasa sederhana, tidak berbelit-belit dan tidak panjang-panjang. Menurut catatan Sekretariat Provinsi SVD Ende, Pada Rabu (11/02/2026), pagi harinya, Lorens mengeluh dadanya sesak dan kesulitan bernafas. Ia segera diantar ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante dan langsung ditangani petugas medis. Dokter menganjurkan agar Pater Laurentius menjalani rawat inap. Namun karena merasa kondisi tubuhnya kian membaik, ia bersikeras kembali ke Pagong. Di Pagong, pada saat makan malam, Pater Laurentius terjatuh di kamar makan dan segera dilarikan ke Puskesmas Lato, Kecamatan Titehena, Flores Timur. Sayangnya, kondisi kesehatannya tak kunjung membaik. Akhirnya ia mengembuskan nafas terakhirnya, Kamis (12/02/2026). Pater Laurentius wafat pada usia 65 tahun, 7 bulan; 36 tahun dalam Imamat dan 43 tahun dalam kaul.
Saya bertemu Tuan Lorens Useng saat masih frater yang pulang libur ke Lembata. Ia bekerja di Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo. Fisiknya khas Solor. Sebagian rambut di kepalanya sudah lenyap. Dia tidak banyak bicara. Seadanya saja. Menurut penuturan orang Waikomo, tiap kali pergi turne (kunjungan pastoral) ke Namaweka, Lite, Uruor, Bakalerek dan Paubokol, Lorens membawa peralatan persis pergi berburu di hutan. Ia membawa sebeng/meteng: semacam tas tradisonal lelaki Lamaholot yang dianyam dari daun lontar, parang, busur dan anak panah (wuwoja emesa). Waktu itu kondisi jalan sangat buruk dan perjalanan pastoral lebih kerap ditempuh dengan berjalan kaki. Kadang ia masuk ke kebun umat lalu duduk makan bersama di pondok (snugur/oring). Umat yang jarang ke gereja tidak kenal bahwa ia adalah pastor. Umat akan sangat malu ketika tahu bahwa ia adalah pastor saat bertemu di Gereja. Memang penampilannya persis orang kampung. Pakaian sangat sederhana. Kakinya akrab sandal jepit.
Anis Bala Witin, tetangga Pastoran Waikomo berkisah, Pater Lorens bahagia saat bekerja di kebun dan memelihara ternak khususnya ayam kampung. Tangannya suka berakrab dengan tanah. Tiap sore, Pater Lorens dengan suara khas memanggil ayam (gerek manuk) untuk diberinya makan. “Makan juga sederhana. Kami berdua sering makan jagung bulat yang digoreng dalam periuk tanah dengan lauk ikan kering dan sayur daun pepaya. Pastor sederhana yang akrab dengan umat. Tidak banyak merepotkan orang lain. Tuan Lorens orang sederhana dan rendah hati. Kelebihannya yang sulit kita dapatkan lagi adalah kemampuannya bertutur dengan sangat indah dalam syair Lamaholot di dalam Sole atau Oha. Sastra Lamaholot-nya sangat kaya kebijaksanaan. Sebuah kehilangan kebijaksanaan sastra Lamaholot dalam Sole atau Oha. Generasi sekarang hanya tahu goyang pantat ikut bunyi musik yang kacau.”
Saya bertemu dan mengenalnya lebih intens tahun 2005 saat menjalani masa praktik Diakonat di Paroki Santa Maria Ratu Semesta Alam, Hokeng. Pastoran yang terletak di bawah kaki Ile Lewotobi nan sejuk ini menghadirkan suasana kekeluargaan. Pater Piet Nong Lewar SVD: kutu buku, pastor petani, aktivis kemanusiaan dan aktivis lingkungan hidup. Ia perokok berat dan penyuka moke yang tidak tertandingi. Pater Lorens Useng Sogen SVD: petani tulen, tiap hari bekerja di kebun. Tamu-tamu yang hendak menemuinya, langsung saya arahkan bertemu dia di dalam kebun. Kadang dia marah kepada saya karena tidak sopan menyuruh tamu menemuinya di dalam kebun. Biasanya, kalau ada tamu yang ke kebun, Lorens Useng pasti menuduh saya sebagai “anak kurangajar dan pastor muda tidak sopan.” Lorens Useng kalau marah itu sama saja tidak marah karena saya hanya tertawa melihat wajahnya yang “ganteng” dari Solor. Pater Frans Suar SVD: ekonom rumah, selalu berpenampilan rapih, baju jarang ada di luar, semua selalu “di dalam.” Kalau ada yang kurang di meja makan, Lorens Useng selalu “ganggu” Frans Suar. Tapi Frans Suar cuek dan lebih sibuk makan sehingga kadang Lorens Useng kaget lauk sudah habis di dalam piring.
Lorens Useng dan Frans Suar punya satu ritus yang tidak akan pernah terlewatkan setelah makan malam dan membersihkan alat-alat makan. Saya dan Pater Piet Nong Lewar biasa ngobrol atau baca koran dan buku di lorong tengah. Lorens dan Frans pasti berebutan mendapatkan remote TV untuk menonton sinetron kesayangannya masing-masing. Tapi kalau ada yang sudah memegang remote TV, yang lain pasti pasrah dan ikut nonton meski protes dalam hati. Saat menonton, teriakan keduanya lebih seru daripada pelaku dalam sinetron. Pater Piet selalu bilang: kalau mereka berteriak, berarti masih “hidup.” Tapi kalau sudah diam, itu tanda keduanya sudah “mati.” Benar juga, ketika diam, ternyata mereka dua tertidur pulas di depan TV sambil mengorok dengan suara besar. Piet Nong Lewar bilang: TV kembali menonton mereka berdua. Pater Frans Suar lebih besar dan kuat suara mengorok seolah hendak melompati pendopo pastoran Hokeng. Lorens Useng juga mengorok tapi desis suaranya lebih halus dan penuh irama persis gelombang di pinggir laut Pelabuhan Pamakayo Solor.
Kalau sadar, pasti saling menyalahkan karena tertidur sambil mengorok besar. Saat tertidur itu, biasanya remote TV pasti terjatuh ke lantai dan pecah berantakan. Esoknya, Frans Suar izin ke Pater Piet Nong Lewar ke Maumere untuk membeli remote TV. Kejadian itu selalu berulang. Lorens Useng pasti selalu menyalahkan Frans Suar meski dia sendiri lebih kerap menjatuhkan remote TV hingga pecah berantakan di lantai ruang rekreasi. Piet Nong Lewar tahu itu tapi dia sangat “menikmatinya.” “Anggaran beli remote TV cukup besar di pastoran Hokeng ini,” kata Piet Nong Lewar sambil tertawa. Biasanya, Lorens Useng pasti sambung untuk menyalahkan Frans Suar sebagai penyebab utamanya.
Pater Lorens Useng tidak akan pernah hilang jejak kebijaksanaannya dalam syair Lamaholot bagi orang-orang sederhana di kampung kelahiranku, Ataili, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Tahun 2005, Lorens Useng melantumkan syair kebijaksanaan sastra Lamaholot dalam Sole sepanjang malam hingga dini hari. Itu momen misa perdanaku. Sesama penyair Lamaholot di Ataili adalah Lasarus Igon Atun yang menjadi partnernya selama Sole sepanjang malam suntuk itu. Nama Om saya ini selalu disebut Pater Lorens ketika berjumpa di mana saja. Pater Lorens memimpin Sole dengan giring-giring di kakinya. Fakta ini akan dikenang semua orang Lamaholot yang pernah berjumpa dengan almarhum Lorens Useng. Sebuah medan pastoral menghidupkan kebijaksanaan sastra Lamaholot yang terancam punah digilas tapak generasi muda yang lebih dominan dihentakkan bunyi-bunyian yang memabukkan kesadaran.
Pater Laurentius Useng SVD, lahir di Bubu, Solor, 11 September 1960. Anak ke-5 dari 7 bersaudara, buah hati pasangan Petrus Pure Sogen dan Ibu Maria Bare Jawan. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani. Setelah menamatkan masa formasi pendidikan calon imam selama 4 tahun (1977-1981) di Seminari Menengah San Dominggo, Hokeng, pada 31 Juli 1981, ia mulai menjalani masa novisiat SVD di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Usai masa novisiat selama 2 tahun, pada 1 Agustus 1983, ia diperkenankan mengikrarkan kaul pertama di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Di tempat formasi yang sama, ia menjalani masa studi filsafat-teologi (1982-1986). Setelah menyelesaikan masa studi filsafat-teologi, Laurentius kemudian menjalani praktek pastoral di Paroki St. Maria Ratu Damai, Long Segar, Kalimantan Timur, Keuskupan Samarinda (1986-1987).
Setelah menuntaskan masa praktek, Laurentius mulai menjalani masa probasi dan diperkenankan mengikrarkan kaul kekal pada 1 Agustus 1988 di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan mendapat penempatan perutusan pertamanya di Regio SVD Madagaskar. Beberapa bulan kemudian, tepat pada 31 Oktober 1988, ia ditahbiskan menjadi Diakon di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD. Sayangnya, setelah pentahbisan Diakon, kesehatan Laurentius menurun. Hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa ia positif menderita TBC dan ia harus menjalani masa perawatan selama kurang lebih dua tahun. Oleh karena alasan kesehatan pula, penempatan pertamanya di Regio SVD Madagaskar, akhirnya dipindahkan kembali ke Provinsi SVD Ende. Masa praktek diakonat baru bisa dijalankannya pada 1 September-1 Desember 1989 di Paroki Roh Kudus Mataloko. Setelah menyelesaikan praktek diakonat, Laurentius masih harus menjalani pemulihan kesehatan selama beberapa bulan lagi. Ia akhirnya ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD di Paroki Visitatione Beatae Mariae Virginis, Pamakayo-Solor, pada 8 Juli 1990 dengan moto; “Tak ada jalan pintas menuju bahagia…” Kartu kenangan tahbisannya, Pater Laurens menulis dalam bahasa Lamaholot: “O…Lewotana, Go doan pia Sina lewun lela pia Jawa Tana. Gon tao peli woyon petan mogenato hau – menu happen peli napen huku mogeleten lodo. – O… Lewotana, Kampung Asal, saya ada di tanah rantau, jauh di negeri asing. Makanlah rezeki yang tersimpan digantungan para-para dan kirimkan bagian untukku, minumlah nira yang diberikan dan mohonkan yang baik untuk kita”
Karya Pastoral.
Sebagai Imam baru, Pater Laurentius kembali menjalani masa praktek pastoral di Paroki Roh Kudus, Mataloko selama 1 tahun. Pada tahun 1991 ia diangkat oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom sebagai Vikaris Parokial di Paroki St. Joannes Baptista Wolosambi, Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende. Setelah kurang lebih bekerja selama setahun di Wolosambi, pada akhir tahun 1992 ia diutus bersama Pater Petrus Celestinus Lalang, SVD dan Br. Ignasius Hamis, SVD untuk membuka wilayah misi SVD Ende yang baru di Keuskupan Manokwari-Sorong. Pada 1 Februari 1993, Mgr. F.X. Hadisumarta, O.Carm, Uskup Manokwari-Sorong, mengangkat Pater Laurentius sebagai Pastor Paroki St. Maria Fakfak sekaligus sebagai Anggota Tim Pastoral Wilayah Fakfak. Setelah bekerja selama 3 tahun sebagai Pastor Paroki St. Maria Fakfak, pada 1 Juni 1996 ia kembali ditunjuk oleh Mgr. Hadisumarta, O.Carm sebagai Pejabat Ketua Tim Pastoral Wilayah Fakfak. Sesudah membaktikan hidupnya dalam karya pelayanan pastoral di Sorong selama 4 tahun (1993-1997), Pater Provinsial menariknya dari misi di Sorong. Terhitung sejak 1 April 1998, Pater Laurentius diangkat oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD sebagai Vikaris Parokial di Paroki St. Arnoldus Janssen, Waikomo. Pada 18 November tahun 2002, Pater Laurentius dibebaskan dari jabatannya sebagai Vikaris Parokial Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo, sekaligus diangkat sebagai Vikaris Parokial Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Hokeng. Di Paroki Hokeng, Pater Laurentius bekerja selama 6 tahun (2002-2008). Selama bekerja di Hokeng, Pater Laurentius sempat mengikuti Tersiat Nasional SSpS-SVD yang berlangsung pada 19 Agustus sampai 19 Oktober 2003, yang bertempat di Rumah Retret Syalom dan di Novisiat SSpS Provinsi Jawa, di Batu, Malang.
Pada 27 Maret 2008, Mgr. Fransiskus Kopong Kung membebaskan Pater Laurentius dari jabatan selaku Vikaris Parokial Paroki Hokeng, sekaligus mengangkatnya menjadi Vikaris Parokial Paroki St. Petrus Kolisagu untuk jangka waktu 3 tahun. Terhitung sejak 7 Juli 2008, Pater Laurentius diangkat oleh Pater Provinsial SVD Ende sebagai Admonitor Distrik SVD Larantuka periode 2008-2011. Setelah bekerja kurang lebih 1 tahun, pada 8 Januari 2009 P. Laurentius akhirnya diangkat menjadi Pastor Paroki Kolisagu, menggantikan Pater Herman Sina, SVD. Pada 25 Juli 2011 Pater Provinsial SVD Ende membebaskan Pater Laurentius dari jabatan Admonitor sekaligus mengangkatnya sebagai Wakil Rektor Distrik SVD Larantuka untuk periode 2011-2014. Pada 16 November 2013, setelah bekerja selama 4 tahun sebagai Pastor Paroki, Pater Laurentius dibebaskan dari jabatannya dan sekaligus diangkat kembali menjadi Vikaris Parokial Paroki Kolisagu.
Pada 7 Mei 2014, Mgr. Fransiskus Kopong Kung membebaskan Pater Laurentius dari jabatan Vikaris Parokial Paroki Kolisagu dan sekaligus mengangkatnya sebagai Vikaris Parokial di Paroki Kristus Raja Semesta Alam, Watobuku. Pada 4 Agustus 2014 Pater Provinsial Ende membebaskan Pater Laurentius dari jabatan sebagai Wakil Rektor Distrik SVD Larantuka sekaligus mengangkatnya pula menjadi Anggota Dewan Distrik SVD Larantuka untuk periode 2014-2017. Selanjutnya jabatan sebagai Anggota Dewan terus diemban olehnya hingga periode berikutnya; 2017-2020. Pada periode 2020-2023, Pater Provinsial kembali mengangkatnya sebagai Wakil Rektor Distrik SVD Larantuka. Setelah bekerja selama 7 tahun di Paroki Watobuku, terhitung sejak 8 Februari 2021, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, membebaskan Pater Laurentius dari jabatan selaku Vikaris Parokial dan sekaligus mengangkatnya sebagai Pastor Paroki Kristus Raja Semesta Alam, Watobuku. Mengingat bahwa kesehatan Pater Laurentius kian menurun di usianya yang telah senja, maka setelah bekerja selama 4 tahun sebagai Pastor Paroki Watobuku, ia dibebaskan dari tugas pelayanannya dan dikembalikan ke Provinsi SVD Ende. Pada 31 Desember melalui surat kepada beliau, Pater Provinsial SVD Ende memindahkan Pater Laurentius dari Distrik SVD Larantuka ke Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Di Ledalero, untuk mengisi masa purnabaktinya, P. Laurentius dipercayakan untuk mengurus perkebunan di Pagong.
Romo Aloysius Dore, Pastor Paroki Tana Boleng dan Deken Adonara mengenang Lorens Useng Sogen sebagai sosok sahaja dan rendah hati. Pada status WhatssApp-nya, ia menulis: “Pastor Sole itu telah pergi. Semoga kini engkau menari dalam lingkaran sukacita surgawi.
Mantan Pastor Paroki Koli Sagu, yang terkenal sangat bersahaja karena kesederhanaannya, keramahannya, kesetiaan dan kekudusannya dalam hal-hal kecil yang sangat berkesan di hati umat. Gembala yang selalu dekat di hati umat, selalu senyum dan menyapa tua muda besar kecil. Gembala yang selalu tampil apa adanya, tiada kepura-puraan.
Gembala yang selalu menyukai Sole, tarian tradisional Lamaholot dengan saling melingkar dan merangkul, melantunkan syair-syair dan pantun adat, simbol persaudaraan, persatuan, kekeluargaan. Semoga kini engkau menari Sole dalam keabadian surgawi, tempat di mana persaudaraan, persatuan, kekeluargaan itu tidak lagi diperjuangkan tetapi telah menjadi milikmu seutuhnya. Pana mela-mela Ama Tuang, Pater Lorens Useng Sogen, SVD.”
Kabar dukacita berpulangnya Lorens Useng Sogen mengingatkan saya akan sebuah buku sederhana berjudul “Nitun Wai Matan” Mitologi Lamaholot tentang Saudari Air. Buku dengan editor Pater Piet Nong Lewar SVD itu diterbitkan Penerbit Ledalero (2009) didukung Pikul Kupang-NTT dan Yayasan Tana Ile Boleng-Adonara-Flores Timur. Pater Laurens Useng SVD adalah salah satu penulisnya. Ia menulis terjemahan perihal asal usul air versi suku Manuk di Buwu Solor. Air yang memberi kehidupan kepada segenap makluk di wilayah itu adalah persembahan diri seorang gadis bernama Watoale.
Buku sederhana dengan sampul berwarna biru muda tergeletak di atas ribuan buku yang berserakan di Oring Literasi Siloam Wangatoa. Lembata. Buku itu seolah menarik perhatianku. Aku sudah membaca buku itu maka ingatan akan buku itu pasti abadi. Yang tertulis, yang tercatat, yang tercetak, pasti abadi. Saya tidak terlalu percaya bahwa syair-syair Lamaholot yang pernah dinyanyikan Lorens Useng akan diingat utuh oleh para pendengarnya. Mungkin serpihan yang tersangkut. Tapi buku ini membuat Lorens Useng Sogen abadi. Selamat jalan penyair Sole Lamaholot. Doakan kami, Pater Lorens. Terima kasih untuk semua kasihmu. Engkau mendapat bilik istimewa dalam hati. ***
