Menggugah yang Menggugat
(Ide Inspiratif Homili Minggu 8/3/2026, Yohanes 4: 5 – 42)
Oleh : Robert Bala
WARTA-NUSANTARA.COM– Era digital memudahkan kita untuk mengetahui banyak hal dalam waktu singkat. Dari sekian berita, ada yang membuat kita geram dan merasa tak masuk akal sehat. Persoalannya sederhana tetapi dibuat rumit. Masalahnya mudah tetapi dipersulit.
Terhadap hal yang tidak masuk akal kita merasa untuk segera memuntaskannya. Media sosial yang sama kita gunakan untuk menekan agar cara yang mudah dan gampang itu bisa dipilih. Kita sedikit memaksakan agar bisa segera tercapai. Di situlah muncul ide memviralkan berita tertentu agar segera diubah. Kita tak tega melihat segala sesuatu berlarut-larut.
Tetapi apakah upaya seperti ini efektif untuk jangka waktu yang lama? Apakah bila terkait dengan perubahan karakter, tekanan itu sudah cukup untuk mengubah orang? Apakah upaya memviralkan kejanggalan bisa meresap ke kedalaman batin orang yang mau kita ubah tersebut?
Pola memviralkan demi mengubah orang dalam waktu yang singkat menjadi pilihan bagi banyak orang. Tetapi Yesus justru mengajarkan cara yang berbeda. Ia gunakan cara yang sederhana namun luar biasa. Dalam Injil hari ini, Yesus memilih dialog yang menggugah dan membangun relasi dengan orang yang secara sangat nyata diketahui aibnya. Kalau si perempuan di sumur itu hidup sekarang, hidupnya sudah diadili oleh publik dan menjadi viral. Waktu itu saja sudah sangat menggemparkan, apalagi sekarang.
Tetapi terhadadap hal itu, Yesus hadir bukan dengan kekuasaan demi merendahkan si perempuan. Ia merendahkan diri, menunjukkan kebutuhan-Nya, dan meminta minum kepada seorang perempuan Samaria, yang secara tradisi seharusnya dijauhi. Satu kalimat sederhana, “Berilah Aku minum,” menjadi awal percakapan yang mengubah segalanya. Tidak ada mukjizat besar, tidak ada khotbah panjang, hanya kerendahan hati yang membuka pintu kasih Allah.
Yesus tidak datang sebagai hakim. Ia tidak menegur perempuan itu karena masa lalunya, atau menuntut penghormatan karena status-Nya sebagai Mesias. Ia datang sebagai orang yang membutuhkan dan memberi ruang untuk bisa ditolak. Tetapi permintaan adalah bahasa kerendahan hati—mengakui keterbatasan diri dan memberi ruang bagi orang lain untuk memberi.
Inilah strategi untuk menggugah orang. Menggugah dengan merendahkan diri sambil menggugah si Perempuan untuk bisa membuka diri. Melalui kalimat sederhana itu, Yesus menghargai perempuan Samaria sebagai pribadi, bukan sekadar objek pengajaran. Ia mengangkat martabatnya melalui percakapan. Inilah wajah Allah yang sejati: Ia tidak memaksa, tidak menaklukkan, tidak mengancam. Ia mengetuk, mengundang, dan berbicara dengan cinta. Kerendahan hati menjadi jalan menuju keselamatan.
Efek dari kehadiran yang menggugah, adalah muncul otokritik diri si perempuan untuk menggugat dirinya sendiri. Ia membangun sebuah komitmen untuk berubah. Hal ini tentu saja berbeda ketika Yesus datang dengan kekuasaan dan menyerang. Perubahan kalau terjadi itu hanya karena paksaan dan belum tentu bertahan.
Prapaskah adalah waktu tepat untuk merenungkan hal ini. Kita yang hadir di sini telah memiliki sedikit banyaknya kemajuan. Kita bisa menanggap diri, meski belum sempurna, tetapi sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Kita bisa menganggap diri kita ‘lebih waras’. Tetapi apakah kewarasan kita memaksakan kita untuk harus mengajar dan menegur orang lain? Apakah yang waras harus menang? Tidak. Hari ini Yesus mengaingatkan kita bahwa sering, yang waras harus mengalah. Mengalah dalam arti hadir lebih rendah hati untuk memenangkan orang lain.
Cara seperti ini dapat menjadi jalan juga dalam lingkup kerja dan keluarga kita. Sebagai orang tua, kita kerap harus ‘mengalah’ hanya demi kebaikan yang lebih besar pada anak-anak kita. Sebagai anak yang berpendidikan kadang kita harus mengalah dengan orang tua yang bisa saja keliru seiring perubahan usia mereka. Demikian juga di tempat kerja. Sebagai pimpinan, kadang kita perlu merendah, meminta minum kepada bawahan tanda kerendahan hati bahwa kita membutuhkan mereka.
Bila kita melakukan hal ini maka menjadi nyata bahwa kerendahan hati bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah kasih menjadi nyata. Ketika kita berani turun dan mengakui kebutuhan, orang lain merasa aman untuk mendekat, dan merasa dihargai. Kerendahan hati menciptakan ruang bagi rahmat.
Perempuan Samaria akhirnya berubah. Ia meninggalkan tempayannya—simbol kehidupan lamanya—dan berlari ke kota untuk bersaksi. Dari yang terasing, ia menjadi pewarta. Semua itu bermula dari satu kalimat sederhana: “Berilah Aku minum.”
Renungan ini mengajak kita bertanya: bagaimana jika Tuhan meminta sesuatu yang sederhana dari kita hari ini? Mungkin Ia berkata, “Berilah Aku waktumu,” “Berilah Aku perhatianmu,” atau “Berilah Aku hatimu.” Dari pemberian kecil itu, Allah ingin menghadirkan air hidup yang mengalir bagi banyak orang.
Sebuah kisah sederhana menggambarkan hal ini: Seorang pengurus lingkungan baru di paroki mendengar tentang pria tua yang sudah lama tidak datang ke gereja karena merasa tersinggung. Banyak yang mencoba menasihatinya, tapi ia selalu menolak.
Suatu hari, pengurus itu hanya mengetuk pintu dan berkata, “Pak, saya baru di sini. Saya belum banyak tahu tentang kampung ini. Bolehkah saya menemani Bapak minum kopi dan bercerita tentang sejarah tempat ini?” Tidak ada teguran, tidak ada ajakan kembali ke gereja—hanya permintaan sederhana. Mereka minum kopi, bercerita, dan pertemuan itu berlanjut beberapa kali. Perlahan, hati pria itu melunak, hingga akhirnya ia kembali ke gereja, bukan karena dipaksa, tetapi karena merasa dihargai.
Perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana tetapi menggugah. Allah bekerja melalui kerendahan hati—Ia meminta minum agar kita menemukan air hidup. Sederhana, lembut, menggugah namun menggugat dan mengubah hidup kita.
Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP, Pengalaman Kecil, Sarat Makna. Penerbit Kanisius, Cetakan ke-2.
