Iman Mesti Berbuah Kebaikan

Maka kita bisa mengerti ketika kemudian terjadi bahwa cara hidup beragama selalu disalahartikan oleh banyak pengikut agama. Fokus utama renungan ini adalah cara beriman yang benar.
Fakta yang menarik bahwa apa yang dimaksudkan Allah selalu disalahpahami oleh manusia. Antara kehendak Allah dan perbuatan manusia sering tidak sejalan. Fakta gagal paham dari pihak manusia ternyata sudah dari dulu. Israel menjadi contoh utama.


Kitab Putra Sirakh menegaskan bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih: kebijaksanaan atau kematian, berkat atau kutuk. Namun kebebasan itu bukan tanpa arah.
Tuhan menunjukkan jalan hidup melalui hukum-Nya yang tidak menindas tapi melindungi (Sir 15:15-20). Kita belajar dari Putra Sirakh: bagaimana menjadi taat pada hukum Tuhan. Manusia mesti selalu setia melaksanakan kehendak Tuhan.
Jika bijaksana orang akan memilih hidup; jika tidak ia akan mati. Tuhan melarang orang menjadi fasik dan berbuat dosa. Bangsa Israel mestinya sudah kenyang dengan pengalaman ini.


Taat berarti Tuhan selamatkan dan tidak taat berarti Tuhan biarkan binasa atau hancur. Kita, Gereja juga bisa bernasib sama dengan Israel. Jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, Gereja bisa salah arah dan menyimpang (Hidup 13.02/2026).
Dalam Injil Yesus mengecam dengan keras pola hidup keagamaan para pengikut-Nya: Jika hidup keagamaan mereka tidak lebih benar, tidak ada “bedanya” dengan praktik hidup kaum Farisi dan Ahli Taurat.
Zaman itu praktik hidup keagamaan Ahli Taurat dan Farisi digunakan sebagai standar tertinggi dalam masyarakat Yahudi. Mereka hanya sekadar memenuhi yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang seteliti mungkin.
Dalam kitab Taurat ada 613 hukum: 365 larangan dan 248 keharusan. Inilah hidup saleh yang dijalankan orang beragama zaman Yesus. Ukurannya: hukum, aturan. Siapa bisa menandingi mereka? Tapi ternyata praktik hidup keagamaan elite Yahudi itu hanya senagai standar minimal di mata Tuhan.
Yesus bersabda: Kalau hidup keagamaan sama seperti Ahli Taurat dan Farisi, kita tidak akan masuk Kerajaan Sorga. Mengapa? Yesus menuntut lebih, melampaui elite agama Yahudi.


Menjadi pengikut Yesus memang harus “berbeda”, mesti dengan kualitas di atas rata-rata. Standarnya bukan kaleng-kaleng tetapi punya contoh sempurna dari manusia Ilahi sendiri. Dia itu Penyempurna hukum Taurat supaya tidak lagi jadi hukum, aturan yang mati, tetapi hukum yang hidup, yang konkret dan nyata dalam perbuatan. Standar: Kemanusiaan.
Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita tahu tentang hikmat dari Allah yaitu Yesus sendiri. Hikmat yang jauh berbeda dengan hikmat manapun, bahkan dari penguasa hebat di dunia. Hikmat itu rahasia dan tersembunyi.
“Jika dulu orang tahu, orang tidak akan menyalibkan Tuhan,” tulis Santo Paulus. Tetapi jika sekarang juga tidak dipahami dengan benar bahkan orang Katolik pun bisa menyalibkan Tuhan sekali lagi. Kita menyalibkan Yesus sekali lagi ketika menghentikan Kristus hanya dalam Gereja.
Ketika kita membuat tangan kasih Yesus tidak pernah sampai kepada sesama. Ketika wajah Yesus yang penuh belas kasih tidak pernah dikenal dan dirasakan nikmatnya oleh sesama yang sebetulnya sangat membutuhkan: mereka yang disebut Yesus sebagai saudara-saudara-Nya yang paling hina.
Maka, pilihan standar hidup kekristenan tidak pernah selesai di pintu Gereja. Salah besar jika hidup beriman itu sudah selesai dalam tata ibadah lahiriah dan formalitas di seputar tempat ibadah dan dalam persekutuan internal.
Mungkin itulah jawaban atas pertanyaan: mengapa euforia hidup keagamaan di Indonesia sering berbanding terbalik dengan perilaku sehari-hari?
Orangnya rajin ibadah tetapi hidupnya tidak beres. Orangnya rajin sembahyang tetapi antisosial. Bangsanya sangat agamis, tetapi negaranya jorok dan sampah di mana-mana. Pejabatnya terlihat saleh tetapi sesungguhnya pembunuh yang tetap tersenyum. Kesejahteraan umum masih jauh dari harapan.
Rupanya kita butuh gerakan perubahan mentalitas hidup beriman kita: agar iman kita semakin berbuah untuk kebaikan semua orang.***













