Kekerasan Struktural Dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A. A. Navis : Perspektif Johan Galtung Oleh : Muhammad Taufikurahman Ruki (244114017) Mahasiswa Prodi Sastra Universitas Sanata Darma Yogjakarta PENDAHULUAN WARTA-NUSANTARA.COM— Sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat. Melalui karya sastra, pengarang tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga merepresentasikan nilai, pandangan hidup, kritik sosial, serta berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, sastra dapat dipahami sebagai produk budaya yang mengandung sistem tanda dan makna tertentu. Menurut Yoseph Yapi Taum (2011), karya sastra merupakan teks budaya yang dapat digunakan untuk memahami cara pandang, nilai, dan ideologi yang hidup dalam suatu masyarakat. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi terhadap realitas sosial dan budaya yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, karya sastra dapat dianalisis melalui pendekatan semiotika budaya yang memandang teks sebagai sistem tanda yang menghasilkan makna. Salah satu karya sastra Indonesia yang sarat dengan kritik sosial adalah cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Cerpen yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1955 ini mengisahkan seorang garin tua yang mengabdikan hidupnya untuk beribadah di surau. Melalui tokoh Kakek dan kisah Haji Saleh, A.A. Navis menyampaikan kritik terhadap pemahaman keagamaan yang hanya berorientasi pada ibadah ritual dan mengabaikan tanggung jawab sosial. Kritik tersebut dapat dipahami melalui konsep kekerasan kultural (cultural violence) yang dikemukakan Johan Galtung. Menurut Galtung (1990), kekerasan kultural merupakan aspek budaya yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi berbagai bentuk ketidakadilan sosial. Dalam konteks cerpen Robohnya Surau Kami, konsep tersebut tampak pada cara pandang tokoh-tokohnya yang menganggap ibadah ritual sebagai satu-satunya bentuk pengabdian kepada Tuhan, sementara persoalan kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan sosial tidak dianggap sebagai tanggung jawab bersama. JOHAN GALTUNG DAN KONSEP KEKERASAN KULTURAL Johan Galtung merupakan sosiolog asal Norwegia yang dikenal sebagai pelopor studi perdamaian (peace studies). Dalam teorinya, Galtung membagi kekerasan ke dalam tiga bentuk, yaitu kekerasan langsung (direct violence), kekerasan struktural (structural violence), dan kekerasan kultural (cultural violence). Kekerasan langsung merupakan tindakan yang secara langsung melukai individu, baik secara fisik maupun verbal. Kekerasan struktural muncul melalui sistem sosial yang menyebabkan ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat. Adapun kekerasan kultural merupakan nilai, kepercayaan, ideologi, agama, maupun tradisi yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi keberadaan kekerasan lainnya. Galtung (1990) menyatakan bahwa “cultural violence makes direct and structural violence look, even feel, right—or at least not wrong.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya dapat membuat suatu ketidakadilan tampak wajar sehingga masyarakat tidak lagi mempertanyakannya. Dalam kehidupan sosial, kekerasan kultural sering hadir dalam bentuk keyakinan yang membuat individu menerima kemiskinan, ketidakadilan, atau penderitaan sebagai sesuatu yang normal. Konsep inilah yang menjadi landasan dalam menganalisis cerpen Robohnya Surau Kami. SINOPSIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI Cerpen Robohnya Surau Kami menceritakan seorang garin tua yang biasa dipanggil Kakek. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga surau dan beribadah kepada Tuhan. Kakek hidup sederhana dan menggantungkan kehidupannya dari sedekah masyarakat serta pekerjaan mengasah pisau. Suatu hari, Kakek mendengar cerita yang disampaikan oleh Ajo Sidi mengenai seorang tokoh bernama Haji Saleh. Dalam cerita tersebut, Haji Saleh yang semasa hidupnya rajin beribadah justru dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh merasa keputusan Tuhan tidak adil karena selama hidupnya ia hanya beribadah dan memuji Tuhan. Namun Tuhan menjelaskan bahwa Haji Saleh dan orang-orang sepertinya telah melupakan tanggung jawab sosial mereka. Mereka sibuk beribadah, tetapi membiarkan masyarakat hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penindasan. Mendengar cerita tersebut, Kakek mengalami guncangan batin yang sangat besar hingga akhirnya bunuh diri dengan menggorok lehernya menggunakan pisau cukur. Setelah kematian Kakek, surau yang selama ini dijaganya menjadi terbengkalai dan perlahan roboh. REPRESENTASI KEKERASAN KULTURAL DALAM CERPEN Konsep kekerasan kultural Johan Galtung tampak jelas dalam dialog antara Tuhan dan Haji Saleh. Ketika Tuhan menyinggung kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan ketertinggalan, Haji Saleh menjawab: “Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.” Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya keyakinan bahwa ibadah ritual lebih penting daripada usaha memperbaiki kondisi sosial. Dalam perspektif Galtung, keyakinan seperti ini dapat menjadi bentuk kekerasan kultural karena membenarkan sikap pasif terhadap ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Kritik tersebut semakin dipertegas melalui pernyataan Tuhan: “Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa keberagamaan yang hanya berfokus pada ritual dapat menyebabkan masyarakat mengabaikan tanggung jawab sosialnya. Kemiskinan dan ketertinggalan akhirnya diterima sebagai sesuatu yang biasa karena masyarakat lebih memilih pasrah daripada melakukan perubahan. Penjelasan malaikat kepada Haji Saleh semakin menegaskan kritik tersebut: “Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri…. engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri.” Melalui dialog tersebut, A.A. Navis menunjukkan bahwa agama yang dipahami secara sempit dapat melahirkan sikap individualistis dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. RELEVANSI DENGAN KEHIDUPAN SAAT INI Pesan yang terkandung dalam cerpen Robohnya Surau Kami masih relevan hingga saat ini. Dalam kehidupan modern, masih ditemukan individu maupun kelompok yang menempatkan simbol-simbol keagamaan sebagai ukuran utama kesalehan, tetapi kurang menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Melalui kritik yang disampaikan dalam cerpen ini, A.A. Navis mengingatkan bahwa agama seharusnya tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemikiran tersebut sejalan dengan konsep Johan Galtung yang menekankan pentingnya menghapus berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan kultural yang membuat ketidakadilan tampak normal dan dapat diterima. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis merupakan karya sastra yang mengandung kritik terhadap pemahaman agama yang hanya berfokus pada ibadah ritual. Melalui simbol surau, tokoh Kakek, dan kisah Haji Saleh, pengarang menunjukkan bahwa kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian terhadap kehidupan sosial. Dalam perspektif Johann Galtung, cerpen ini merepresentasikan bentuk kekerasan kultural, yaitu keyakinan yang membuat masyarakat menerima kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan sebagai sesuatu yang wajar. A.A. Navis mengkritik pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa agama seharusnya mendorong manusia untuk berbuat nyata demi kesejahteraan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Galtung, J. (1969). Violence, Peace, and Peace Research. Journal of Peace Research, 6(3), 167-191. Galtung, J. (1990). Cultural Violence. Journal of Peace Research, 27(3), 291-305. Navis, A. A. (1994). Robohnya Surau Kami. Gramedia Pustaka Utama. Taum, Y. Y. (2011). Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya. Lamalera. Post Views: 17 Navigasi pos Analisis Puisi Duka-Mu Abadi Dalam Perspektif Formalisme Rusia