Analisis Puisi Duka-Mu Abadi Dalam Perspektif Formalisme Rusia Oleh : Bernadetta Yovita Dwijayanti Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Puisi Duka-Mu Abadi Karya : Sapardi Djoko Damono Duka-Mu Abadi Dukamu adalah dukaku Air matamu adalah air mataku Kesedihan abadimu Membuat bahagimu sirna Hingga ke akhir tirai hidupmu Dukamu telah abadi Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup mu Berbekalkan sejuta dukamu Mengiringi setiap langkahku Karena dukamu adalah dukaku Abadi dalam duniaku! Namun dia datang Meruntuhkan segala penjara rasa Membebaskan aku dari derita ini Dukamu menjadi sejarah silam Dasarnya ‘ku jadikan asas Membangunkan semangat baru Biar dukamu itu adalah dukaku Tindakanku biarkan ia menjadi pemusnahku! Pendahuluan WARTA-NUSANTARA.COM— Formalisme Rusia merupakan salah satu aliran penting dalam perkembangan teori sastra modern yang memusatkan perhatian pada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini mengesampingkan unsur biografis, psikologis, dan sosiologis dalam menganalisis karya sastra. Para formalis beranggapan bahwa hakikat kesastraan terletak pada bentuk dan teknik pengolahan bahasa. Karya sastra dipandang sebagai struktur yang utuh dan otonom. Konsep formalisme rusia adalah sifat kesastraan yang membedakan bahasa sastra dari bahasa sehari-hari. Sifat kesastraan tersebut muncul melalui berbagai teknik yang membuat bahasa lebih artistic. Teknik tersebut meliputi defamiliarisasi, pengolahan struktur, analisi motif, dan fungsi puitik. Melalui teknik-teknik tersebut pembaca memperoleh pengalamab baru dalam memahami realitas. Pembahasan Defamiliarisasi Menurut Viktor Shklovsky, karya sastra memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang biasa menjadi tampak asing. Teknik tersebut dikenal dengan istilah defamiliarisasi atau efek pengasingan. Melalui teknik ini, pembaca tidak memahami makna secara otomatis seperti dalam bahasa sehari-hari. Pembaca terdorong untuk melakukan penafsiran yang lebih mendalam terhadap karya sastra. Teknik defamiliarisasi tampak pada bait pertama puisi mellau larik “Dukamu adalah dukaku” dan “Air matamu adalah air mataku”. Kedua larik tersebut menunjukkan bahwa kesedihan seseorang menjadi bagian dari kesedihan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kesedihan biasanya dipahami sebagai pengalaman yang bersifat pribadi. Penyair menghadirkan duka sebagai pengalaman bersama sehingga menghasilkan kesan yang berbeda. Defamiliarisasi juga terlihat pada larik “Hingga ke akhir tirai hidupmu”. Penyair tidak menggunakan kata “kematian” secara langsung, tetapi menggantinya dengan ungkapan “tirai hidup”. Pilihan kata tersebut membuat pembaca perlu memahami makna yang tersembunyi di baliknya. Dengan demikian, bahasa puisi menjadi lebih indah dan tidak terasa biasa. Pada bait kedua, larik “Berbekalkan sejuta dukamu” menunjukkan adanya penyimpangan makna. Kata “bekal” biasanya berhubungan dengan sesuatu yang membantu seseorang dalam menjalani kehidupan. Namun, dalam puisi ini yang dijadikan bekal justru kesedihan. Hal tersebut menunjukkan adanya pengolahan bahasa menjadi ciri khas karya sastra. Baik ketiga memperlihatkan proses yang sama melalui ungkapan “Meruntuhkan segala penjara rasa”. Perasaan sedih digambarkan seperti sebuah penjara yang dapat dihancurkan. Penggambaran tersebut membuat sesuatu yang abstrak menjadi lebih nyata dalam bayangan pembaca. Puisi ini menghadirkan pengalaman estetik yang lebih mendalam. Dalam Formalisme Rusia dikenal istilah fabula dan sjuzet. Fabula merupakan rangkaian peristiwa secara sederhana, sedangkan sjuzet adalah cara pengarang menyusun peristiwa secara artistik. Menurut kaum Formalis Rusia, kekuatan karya sastra terletak pada cara penyajiannya. Oleh karena itu, struktur penyajian menjadi unsur yang penting dalam karya sastra. Jika dilihat dari fabula, puisi ini menceritakan seseorang yang mengalami kesedihan mendalam. Kesedihan tersebut terus mengikuti perjalanan hidup tokoh aku. Pada akhirnya, tokoh tersebut mampu bangkit dan menemukan semangat baru dalam hidupnya. Jalam cerita tersebut menjadi bahan dasar yang diolah secara artistic. Dilihat dari segi sjuzet, puisi ini dibangun melalui tiga tahap perkembangan. Bait pertama menggambarkan kesedihan, bait kedua menunjukkan perjuangan menghadapi kesedihan, bait ketiga memperlihatkan muncul harapan baru. Perubahan tersebut membuat suasana puisi berkembang secara bertahap. Perkembangan tersbeut menjadikan struktur puisi tampak lebih utuh. Motif merupakan unsur makna terkecil yang membangun sebuah karya sastra. Hubungan antarmotif akan membentuk tema yang mendasari keseluruhan karya. Oleh karena itu, analisis motif memiliki peranan penting dalam memahami puisi. Melalui motif-motif tersebut, pembaca dapat memahami makna puisi secara lebih mendalam. Motif yang paling dominan dalam puisi ini adalah motif kesedihan. Motif tersebut terlihat melalui pengulangan kata “duka”, “air mata”, dan “kesedihan”. Selain itu, terdapat motif perjalanan hidup yang tampak melalui ungkapan “mengiringi setiap langkahku”. Kedua motif tersebut menunjukkan bahwa kesedihan menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Pada bait ketiga muncul motif pembebasan dan kebangkitan. Motif tersebut terlihat melalui larik “Membebaskan aku dari derita ini” dan “Membangunkan semangat baru”. Kehadiran motif tersebut menunjukkan adanya perubahan dari penderitaan menuju harapan. Keseluruhan motif tersebut membentuk tema tentang perjuangan manusia dalam menghadapi kesedihan. Menurur Roman Jakobson, fungsi puitik merupakan fungsi yang paling dominan dalam karya sastra. Fungsi tersebut membuat pembaca lebih memperhatikan cara bahasa digunakan daripada isi yang disampaikan. Oleh karena itu, pengolahan bahasa menjadi bagian penting dalam puisi. Melalui fungsi puitik, sebuah puisi dapat memberikan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Fungsi puitik dalam puisi ini terlihat melalui pengulangan larik “Dukamu adalah dukaku”. Pengulangan tersebut memberikan penekanan pada perasaan sedih yang menjadi pusat makna puisi. Selain itu, penggunaan ungkapan seperti “tirai hidup” dan “penjara rasa” membuat bahasa puisi menjadi lebih indah. Pengolahan bahasa tersebut menunjukkan adanya nilai estetik dalam puisi. Menurut Jan Mukarovsky, karya sastra akan menjadi objek estetik ketika dibaca dan dipahami oleh pembaca. Setiap pembaca dapat memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap simbol-simbol yang terdapat dalam puisi. Dalam puisi ini, “tirai hidup” dapat dimaknai sebagai kematian, sedangkan “penjara rasa” dapat dimaknai sebagai penderitaan batin. Dengan demikian, makna puisi terbentuk melalui hubungan antara teks dan pembaca. Penutup Berdasarkan pendekatan Formalisme Rusia, puisi “Duka-Mu Abadi” menunjukkan bahwa kekuatan karya sastra terletak pada cara bahasa dan struktur disusun. Teknik defamiliarisasi membuat pengalaman kesedihan yang biasa menjadi terasa lebih menarik dan berbeda. Selain itu, berbagai motif dan fungsi puitik yang terdapat dalam puisi membantu membangun makna secara keseluruhan. Dengan demikian, keindahan puisi ini tidak hanya terletak pada isi yang disampaikan, tetapi juga pada cara penyair mengolah bahasa dan struktur puisinya. *** Bernadetta Yovita Dwijayanti, Penulis adalah Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Post Views: 25 Navigasi pos Kekerasan Yang Tak Kasatmata : Tanda-Tanda Kekerasan Kultural dan Struktural Dalam Cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama” Karya Seno Gumira Ajidarma