Bukan Panggung Kemunafikan
WARTA-NUSANTARA.COM– Orang-orang Yahudi memiliki tiga pilar untuk membangun kehidupan beragama: sedekah, doa dan puasa. Yesus menerima semua itu selama motif yang mendasarinya benar, yaitu kasih kepada Allah dan sesama.

Bukan panggung kemunafikan di ruang sosial. Fakta yang membuat-Nya gelisah adalah begitu sering hal-hal terbaik dilakukan dengan motif-motif keliru. Maka hilanglah bagian yang paling penting dari nilai tiga pilar pendukung kehidupan baik tersebut (Sabda: 2020).
Orang dapat saja memberikan sedekah, bukan untuk sungguh menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan, melainkan untuk mempertunjukkan kemurahan hatinya agar menikmati kehangatan rasa syukur dari orang yang ditolong dan pujian orang banyak. Yesus sendiri melihat bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan itu berharga di mata-Nya.


Oleh karena itu Dia mengatakan kepada kita: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya” (Mat 6:2).
Orang dapat saja berdoa sedemikian rupa sehingga “doa”-nya tidaklah dialamatkan kepada Allah, melainkan kepada orang-orang lain di sekelilingnya. Doa menjadi sebuah pertunjukkan diri. Dalam hal ini Yesus bersabda: “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya” (Mat 6:5).

Orang dapat saja berpuasa, sebenarnya bukan untuk kebaikan jiwanya sendiri, bukan untuk merendahkan diri di hadapan Allah, melainkan sekadar menunjukkan kepada orang lain bahwa ia memiliki karakter penuh disiplin dalam hukum rohani.
Yesus mengajak kita lebih mencari ganjaran yang hanya diberikan Allah. Kita harus mengejar ganjaran yang bersifat abadi. Ia bersabda, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26; bdk. Mrk 8:36; Luk 9:25).
Bagaimana kita bisa memenangkan hati Allah selama masa puasa ini? Dunia milenial sekarang mengenal istilah viral atau narsis. Media-media sosial disesaki dengan berbagai status dan foto-foto yang lebih mengmapanyekan siapa kita kepada orang lain.
Hari ini Yesus justru mengajarkan hal yang berlawanan dengan arus milenial ala media sosial ini. Menjadi yang tersembunyi. Kalau kamu memberi jangan digembar-gemborkan; kalau tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu; kalau kamu berdoa, masuklah ke dalam kamar dan tutuplah pintu; kalau kamu puasa, minyakilah kepalamu supaya jangan sampai orang lain tahu bahwa kamu sedang puasa. Yesus ingin agar apa yang kita lakukan itu “tersembunyi”, orang lain tidak harus tahu.


Mengapa Yesus mengajarkan soal ketersembunyian, tidak menampilkan diri atau tidak menonjolkan diri? Karena Allah kita adalah Allah yang tersembunyi. Allah yang senantiasa melihat dari tempat yang tersembunyi. Yesus ingin agar kita juga belajar bagaimana “menyembunyikan” diri, khususnya dalam hidup beriman.
Dalam hidup beriman, kata “menyembunyikan diri” sering disebut sebagai kerendahan hati. Yesus ingin agar kita menjadi murid-murid-Nya yang rendah hati. Bagi Yesus, hidup beriman itu tidak untuk dipamerkan, tetapi untuk diresapkan sampai ke relung hati yang terdalam dan tersembunyi seperti dialami oleh Rasul Paulus, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:22).
Jika Allah kita adalah Allah yang tersembunyi, maka satu-satunyajalan bagi kita untuk semakin dekat dengan Allah adalah jalan ketersembunyian atau kerendahan hati. Santa Teresia dari Avila mengatakan, “Percayalah, orang yang sungguh-sungguh rendah hati akan diberi Tuhan hati yang damai” (Puri Batin, III:1,9). ***









