Undangan Beristirahat…
(Matius 11:28–30)
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM– Kalau kita diminta menggambarkan ritme hidup seorang ibu, mungkin kalimat yang paling pas adalah ini: kerjanya dari pagi sampai… pagi lagi.

Pagi hari, ketika rumah masih sunyi dan semua orang masih terlelap, seorang ibu biasanya sudah bangun duluan. Bahkan sering kali ia berjalan pelan-pelan supaya tidak menimbulkan suara. Ia bangun lebih dulu, tetapi membiarkan orang lain tetap menikmati tidurnya.


Di dapur, hari sudah dimulai. Ia menyiapkan sarapan, merapikan rumah, memastikan semuanya siap memulai aktivitas. Rumah yang perlahan hidup setiap pagi sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil seorang ibu.
Setelah itu ia juga bekerja. Ada yang bekerja di kantor, di pasar, di ladang, atau di berbagai tempat lain untuk mencari nafkah. Di sana ia menghadapi tanggung jawab, tekanan, dan kelelahan seperti banyak orang lainnya.
Namun bedanya, ketika pekerjaan selesai, tugas seorang ibu tidak ikut selesai. Ia pulang membawa lelah, tetapi pikirannya langsung kembali kepada keluarga. Apakah anak-anak sudah makan? Bagaimana hari mereka di sekolah? Apakah suaminya sudah beristirahat? Ia mendengarkan cerita, menyiapkan kebutuhan rumah, dan mengurus banyak hal kecil yang sering tidak terlihat, tetapi sangat berarti.


Ketika malam tiba dan semua orang mulai tidur, barulah ia bisa menarik napas lebih panjang. Tetapi bahkan di tengah keheningan malam, pikirannya sering masih berjalan: memikirkan masa depan anak-anaknya, kesehatan keluarganya, dan bagaimana esok hari bisa menjadi hari yang lebih baik.
Itulah hidup banyak ibu: diam-diam bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Karena itu, ketika seorang ibu dipanggil Tuhan, hati kita sering bertanya dengan nada protes: “Tuhan, mengapa sekarang? Kami masih membutuhkannya.”


Perasaan seperti itu tentu juga ada dalam hati keluarga yang ditinggalkan oleh Ibu Maria Goreti Suhartati, yang dipanggil Tuhan pada usia 59 tahun. Namun di tengah duka itu, Sabda Yesus dalam Injil memberi kita cara pandang yang berbeda. Yesus berkata: “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28)
Kalimat ini seperti undangan penuh kelembutan. Jika selama hidupnya seorang ibu memikul begitu banyak beban—tanggung jawab, kekhawatiran, pengorbanan—bukankah wajar jika suatu saat ia juga diundang untuk beristirahat?
Mungkin kita masih ingin ia tinggal lebih lama. Tetapi Tuhan melihat seluruh perjalanan hidupnya. Tuhan tahu setiap pengorbanan yang sering tidak dilihat orang lain. Tuhan tahu setiap air mata, setiap doa, dan setiap usaha yang ia lakukan demi keluarganya. Tidak ada satu pun yang sia-sia.
Sekarang kita percaya bahwa setelah perjalanan hidup yang penuh perjuangan itu, ia datang kepada Tuhan dengan seluruh kisah hidupnya. Di hadapan Tuhan tidak ada lagi kelelahan. Tidak ada lagi beban yang harus dipikul. Yang ada hanyalah kedamaian, kelegaan, dan kasih yang sempurna.
Bagi suami dan kedua anak yang ditinggalkan, kepergian ini tentu meninggalkan ruang kosong yang besar. Tetapi kasih seorang ibu tidak berhenti ketika hidupnya berakhir. Kasih itu tetap hidup dalam kenangan, dalam nilai-nilai yang ia tanamkan, dan dalam kehidupan keluarga yang pernah ia bangun dengan penuh cinta.
Yesus juga berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Selama hidupnya, seorang ibu sering memikul “kuk” kehidupan: tanggung jawab keluarga, kerja keras, kekhawatiran, dan pengorbanan. Tetapi ia memikul semuanya dengan kasih. Dan karena kesetiaan itulah, kini Tuhan memanggilnya untuk beristirahat dalam kasih-Nya. Tuhan yang menyambutnya bukanlah Tuhan yang jauh dan menakutkan. Yesus sendiri berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati.”
Artinya, ia pulang kepada Tuhan yang penuh kelembutan—Tuhan yang sama yang menemaninya sepanjang hidup, dan kini menyambutnya pulang.
Ada sebuah cerita sederhana.
Seorang anak pernah bertanya kepada ibunya, “Bu, kenapa ibu selalu bangun paling pagi dan tidur paling malam?” Ibunya tersenyum dan menjawab, “Karena ibu ingin memastikan semua orang di rumah ini baik-baik saja.”
Bertahun-tahun kemudian, ketika sang ibu meninggal, anak itu berdiri di samping peti ibunya dan berkata pelan, “Bu, sekarang ibu boleh istirahat. Kami sudah baik-baik saja.”
Mungkin hari ini, dengan hati yang penuh cinta dan air mata, kita juga bisa mengatakan hal yang sama: Ibu, terima kasih untuk semua yang telah engkau lakukan. Sekarang beristirahatlah dalam damai. ***
Robert Bala. Penulis buku MENGIRINGI KEMATIAN. 73 Renungan Ibadat Kedukaan. Penerbit Ledalero, 2024.










