‘Pesta Babi’, Memaksa Berinovasi

‘Pesta Babi’, Memaksa Berinovasi

Oleh : Gerardus D. Tukan

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

WARTA-NUSANTARA.COM—  Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menghadirkan kegelisahan yang tidak mudah diabaikan. Film itu memperlihatkan pembabatan hutan di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi untuk pengembangan tebu bioetanol, perluasan sawit biodiesel, serta program pangan skala besar. Di balik semangat transisi energi dan ketahanan pangan, muncul pertanyaan mendasar: apakah masa depan Indonesia harus dibangun dengan mengorbankan hutan Papua?

Pertanyaan di atas penting karena Papua bukan ruang kosong. Papua merupakan salah satu benteng terakhir hutan tropis Indonesia dengan kekayaan biodiversitas, cadangan karbon, serta sumber kehidupan masyarakat adat. Hutan di sana bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ruang hidup, sumber pangan, identitas budaya, dan penyangga ekologis yang menjaga keseimbangan alam.

Proyek-proyek yang disebut sebagai bagian dari energi hijau justru berpotensi melahirkan persoalan ekologis baru. Dunia memang sedang bergerak menuju energi terbarukan untuk menekan emisi karbon. Indonesia pun menargetkan pengembangan bioetanol dan biodiesel guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Namun, ketika hutan primer dibuka dalam skala besar untuk tujuan tersebut, manfaat ekologisnya menjadi dipertanyakan. Hutan tropis selama ini berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Ketika ditebang maka karbon yang tersimpan justru dilepaskan ke atmosfer dan mempercepat krisis iklim.

Film Pesta Babi juga memperlihatkan sisi lain pembangunan: masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidupnya. Dalam situasi seperti ini, pembangunan berisiko dipandang bukan sebagai jalan kesejahteraan bersama, melainkan sebagai ancaman terhadap keberlanjutan hidup masyarakat lokal. Namun, kegelisahan semacam ini tidak seharusnya berhenti pada kemarahan. Terutama bagi kalangan muda dan mahasiswa, film tersebut semestinya menjadi pemantik kesadaran untuk melahirkan inovasi baru. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menawarkan solusi, bukan sekadar mempertajam konflik.

Mahasiswa pertanian, teknologi pangan, teknik, kehutanan, dan lingkungan memiliki ruang besar untuk berkontribusi. Pengembangan bioenergi, misalnya, tidak harus selalu melalui pembukaan lahan baru. Limbah pertanian seperti jerami padi, tongkol jagung, limbah singkong, hingga limbah sagu memiliki potensi diolah menjadi biofuel dan biomassa energi. Demikian pula inovasi pertanian presisi, irigasi hemat air, pupuk organik, serta penguatan pangan lokal dapat menjadi jalan menuju ketahanan pangan yang lebih berkelanjutan. Karena itu, pembangunan semestinya diarahkan pada inovasi teknologi dan peningkatan produktivitas, bukan sekadar ekspansi lahan.

Indonesia masih menghadapi persoalan kehilangan hasil panen, distribusi pangan yang tidak efisien, serta rendahnya produktivitas di banyak sektor pertanian. Persoalan-persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pangan nasional tidak selalu identik dengan kekurangan lahan. Di sinilah negara perlu hadir lebih strategis. Pemerintah tidak cukup hanya mendorong hilirisasi dan swasembada pangan, tetapi juga perlu menyiapkan ekosistem riset dan inovasi bagi generasi muda. Dana hibah penelitian, kompetisi inovasi energi ramah lingkungan, inkubator bisnis hijau di kampus, serta dukungan terhadap riset terapan perlu diperluas. Masa depan ketahanan pangan dan energi Indonesia tidak dapat hanya bertumpu pada investasi besar, tetapi juga pada kekuatan gagasan dan kreativitas anak muda.

Selain itu, pangan lokal Papua perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari ketahanan pangan nasional. Sagu, ubi, keladi, dan berbagai pangan lokal lain telah lama menopang kehidupan masyarakat Papua secara berkelanjutan. Pendekatan pembangunan yang terlalu berorientasi pada monokultur berskala besar justru berisiko mengikis kekuatan pangan lokal yang selama ini adaptif terhadap lingkungan setempat.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah penghormatan terhadap masyarakat adat. Penguasaan tanah secara paksa atas nama pembangunan hanya akan memperdalam konflik sosial dan merusak kepercayaan publik. Negara harus memastikan bahwa pembangunan berjalan melalui dialog, penghormatan hak masyarakat, dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Film Pesta Babi pada akhirnya bukan hanya kritik terhadap sebuah proyek pembangunan. Film ini adalah pengingat bahwa Indonesia membutuhkan arah pembangunan yang lebih arif. Ketahanan pangan dan energi memang penting, tetapi keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial tidak boleh dikorbankan.

Kita perlu keluar dari pola pikir lama bahwa pembangunan selalu identik dengan pembukaan lahan besar-besaran. Masa depan justru menuntut inovasi yang cerdas, efisien, dan ramah lingkungan. Papua tidak boleh menjadi korban atas nama kemajuan. Sebaliknya, Papua harus menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia, kelestarian alam, dan martabat masyarakat yang hidup di dalamnya . ***

Penulis : Gerardus D Tukan,S.Pd.M.Si,  Dosen pada Program studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Nomor kontak : 081339526994.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *