Selamat Jalan Wartawan Kompas, Kornelis Kewa Ama, Pejuang HAM Setia Menulis Orang Kecil

Selamat Jalan Wartawan Kompas, Kornelis Kewa Ama, Pejuang HAM Setia Menulis Orang Kecil

JAKARTA : WARTA-NUSANTARA.COm-  Gabriel Goa,Tenaga Ahli Kementerian Ham RI Bidang Human Trafficking dan HAM Berat mengucapkan Selamat Jalan Wartawan Kompas, Kornelis Kewa Ama, Pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) ke Rumah Bapa di Surga No Kor kembali ke Nagi Abadi. Sang Jurnalis itu Setia menulis tentang orang-orang kecil. Peran PERS tidak hanya Pilar Demokrasi tetapi PILAR HAM menyuarakan dan membela KORBAN PELANGGARAN HAM lewat karya jurnalistik.

Menurut Gabriel Goa, menulis dan menyuarakan Voice of the voiceless meneguhkan perjuangan kami terus setia belarasa dengan KORBAN VOICE OF THE VOICELESS seperti Sang GURU

Ia setia melakukan Annuntiare (menyuarakan KEBENARAN, menegakkan KEADILAN, menciptakan PERDAMAIAN dan menjaga KEUTUHAN CIPTAAN TUHAN) dan

Jurnalis Kornelis Kewa Ama, tetap berkomitmen melakukan Dennuntiare (membongkar hingga ke akar-akarnya struktur yang jahat,Korupsi dan menindas wong tjilik serta merampok Hak-Hak Ekosob wong tjilik voice of the voicelss dengan menata kembali sistem yang Adil untuk kepentingan BONUM COMMUNAE).

Gabriel menilai, untuk setia pada Sang Guru membutuhkan spiritualitas perjuangan seperti Sang Guru yakni kenosis(pengosongan diri),passingover (Lintas batas dari Suku,Agama,Ras dan Antar Golongan).

Ia sungguh Profetik (Suara Kenabian) Ad Maiorem Dei Gloriam(AMDG)! “If you want PEACE,work for JUSTICE!  ***

Kornelis Kewa Ama, Wartawan yang Setia Menulis Orang Kecil

Dari desa kecil di Adonara hingga medan konflik Timor Timur, Kornelis Kewa Ama menulis tentang orang kecil dan meninggalkan teladan kemanusiaan.

Jenazahnya disemayamkan di Kota Kupang sebelum dimakamkan di Kupang, NTT. Ia meninggalkan istrinya, Maria Goreti Sumiyati (59), serta anak semata wayangnya, Graciano Floriana Ama (24).

Bagi banyak rekan kerja, Kornelis bukan sekadar wartawan lapangan. Ia adalah sosok yang memandang profesi jurnalistik sebagai panggilan untuk memberi suara kepada mereka yang jarang terdengar.

Frans Pati Herin, wartawan Kompas yang juga bertugas di Kupang, mengenang Kornelis sebagai sosok senior yang penuh perhatian kepada sesama jurnalis. Dalam beberapa kesempatan liputan bersama, Kornelis kerap mengingatkan satu hal yang selalu ia pegang selama menjadi wartawan. ”Teruslah menulis tentang orang miskin,” begitu pesannya.

Pesan itu bukan sekadar nasihat. Kornelis menjalankannya dalam praktik jurnalistik sehari-hari. Banyak tulisan feature yang ia kirimkan ke Kompas menyoroti kehidupan masyarakat kecil, terutama mereka yang hidup di pinggiran perhatian publik.

Sekitar 253 perahu tradisional dan kapal motor dengan membawa ribuan peziarah laut, mengarak patung Tuan Meninu dari pantai Lebao menuju Pantai Kuce sekitar 5 mil perjalanan. Kompas/Kornelis Kewa Ama (KOR) 18-04-2014 DIMUAT 19/4/14 HAL 24 *** Local Caption *** Sekitar 253 perahu tradisional dan kapal motor dengan membawa ribuan peziarah laut, mengarak patung Tuan Meninu dari pantai Lebao menuju Pantai Kuce sekitar 5 mil perjalanan. Kompas/Kornelis Kewa Ama (KOR) 18-04-2014
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA
Sekitar 253 perahu tradisional dan kapal motor dengan membawa ribuan peziarah laut, mengarak patung Tuan Meninu dari pantai Lebao menuju Pantai Kuce, sekitar 5 mil perjalanan. Foto ini dikirim oleh Kornelis Kewa Ama pada 18 April 2014.

Frans mengingat betul kebiasaan Kornelis saat berada di lapangan. Ketika melintasi jalanan menuju lokasi liputan, matanya selalu awas mengamati sekitar. Jika melihat sesuatu yang menyentuh sisi kemanusiaannya, seperti seorang warga miskin, kehidupan yang terabaikan, atau cerita kecil yang sering luput dari perhatian, ia tidak ragu menghentikan mobil. Di situlah reportase sering dimulai.

Bagi Frans, kenangan tentang Kornelis tidak hanya tentang liputan di daerah-daerah terpencil atau pengalaman menghadapi situasi berbahaya. Yang paling membekas adalah cara Kornelis memandang tugas seorang wartawan.

Ia percaya bahwa berita tidak hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang manusia, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan. Pesan sederhana itu kini menjadi warisan yang ditinggalkan Kornelis kepada generasi wartawan setelahnya: teruslah menulis tentang orang kecil agar kisah mereka tidak hilang dari perhatian dunia.

Teruslah menulis tentang orang kecil agar kisah mereka tidak hilang dari perhatian dunia.

Purnakarya wartawan Harian Kompas, Syahnan Rangkuti, punya kesan mendalam tentang sosok Kor, panggilan Kornelis. Mereka bersama-sama lulus pendidikan Harian Kompas pada Desember 1999.

Bagi Sah, panggilan akrab Syahnan, Kor adalah sosok ”Rambo berhati Rinto”. Di kesempatan pertama, kemungkinan orang akan segan. Namun, ketika sudah akrab, Kor sesungguhnya sosok humoris dan penyabar.

”Saya belum pernah lihat beliau marah. Yang ada, dia sangat suka melontarkan humor meski mimik mukanya datar. Itu justru yang sering kali membuat kisah yang disampaikannya lebih seru,” katanya.

Sedikit banyak, kemampuan berkomunikasi itu juga memberi Kor banyak pengalaman saat meliput. Puncaknya ketika cara Kor berkomunikasi ikut menyelamatkan nyawanya saat konflik di Timor Timur pada 28 Agustus 1999.

Ny Marta Saba'at penjual garam kasar di Kabupaten Kupang, Kamis (18/11/2021). Garam ini tidak hanya diminta warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang tetapi juga warga dari Timor Tengah Selatan, Malaka, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Belu. Kompas/Kornelis Kewa Ama.
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA.
Ny Marta Saba’at, penjual garam kasar di Kabupaten Kupang, Kamis 18 November 2021. Garam ini tidak hanya diminta warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, tetapi juga warga dari Timor Tengah Selatan, Malaka, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Belu.

Pengalaman sebagai wartawan perang di Timor Leste juga kerap dikisahkan Kor kepada wartawan Kompas lainnyaFabio Lopes Costa. Saat masih aktif di Kompas, Kor kerap berkomunikasi dengan Fabio.

”Saya merasa dekat dari sisi historis dan lokasi liputan. Sama-sama bisa bahasa Tetun, pernah tinggal di Dili, dan ditugaskan Kompas di Papua. Saya sering menelepon beliau. Saat berbicara via telepon, saya selalu meminta saran bagaimana meliput di daerah konflik,” kata Fabio.

Sepekan lalu, keduanya kembali bertegur sapa lewat Whatsapp. Tulisan Kor tentang konflik Timor Leste dan kejadian perang AS-Israel versus Iran menjadi pemantik Fabio menyapa Kor.

”Sedih sekali membaca tulisan ini Om. Saat itu saya dan keluarga juga terjebak di tengah area kontak tembak. Semoga Om dan Tante sehat selalu,” demikian bunyi pesan yang dikirimkan Fabio kepada Kor.

Selang beberapa jam kemudian, Kor membalas pesan. ”Ade (adik) apa kabar. Semoga ade sehat selalu,” balas Kor. Fabio mengatakan sempat membalas pesan Kor. Namun, setelah itu komunikasi mereka kembali terputus hingga Rabu sore mendapatkan kabar Kor telah berpulang.

Insiden Dili

Kornelis lahir di Flores pada 13 September 1964 dari latar belakang sederhana. Ia berasal dari Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Dari Desa Demondei di Kecamatan Wotan Ulumado, ia menjadi sarjana pertama di kampungnya. Pendidikan tinggi ditempuhnya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Flores Timur. Ia mengambil jurusan filsafat dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada periode 1988–1993.

Perjalanan profesionalnya di Harian Kompas dimulai pada 1 Juni 1995. Beberapa tahun kemudian, status kepegawaiannya diresmikan melalui surat pengangkatan sebagai karyawan honorer pada 1 April 1999. Masih pada tahun yang sama, ia diangkat menjadikaryawan tetap pada 1 Desember 1999.

Rangkaian foto tentang terbunuhnya Joaquim Bernardino Guterres, seorang remaja Dili, Timor Timur (saat itu), pada 26 Agustus 1999. Titik puncak kejadian adalah terbunuhnya Guterres dengan darah tergenang. Fotografer Kompas Eddy Hasby memotret kejadian ini.
KOMPAS/EDDY HASBY
Rangkaian foto tentang terbunuhnya Joaquim Bernardino Guterres, seorang remaja Dili, Timor Timur (saat itu), pada 26 Agustus 1999. Titik puncak kejadian adalah terbunuhnya Guterres. Fotografer Kompas, Eddy Hasby, memotret kejadian ini.

Pada 1 Januari 2000, Kornelis ditetapkan sebagai wartawan desk daerah di Irian Jaya (Papua). Penugasan di wilayah timur Indonesia itu membuatnya banyak berhadapan dengan isu sosial, politik, serta kehidupan masyarakat di daerah terpencil.

Beberapa tahun kemudian, ia dipindahtugaskan ke wilayah asalnya. Pada15 Februari 2006, ia menjadi wartawan Biro Nusa Tenggara, meliput berbagai persoalan di Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Ia pernah meliput di Dili ketika wilayah itu masih menjadi Provinsi Timor Timur.

Menjelang referendum Timor Timur pada Agustus 1999, situasi di Dili sangat tegang. Di tengah suasana itu, Kornelis menjalankan tugas liputan. Pada 28 Agustus 1999, ia meliput apel milisi prointegrasi di halaman kantor Gubernur Timor Timur. Ratusan anggota milisi datang dengan truk-truk terbuka, membawa berbagai senjata, dan berkeliling kota sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.

Sejumlah wartawan, termasuk Kornelis, kemudian bergerak ke Jembatan Sungai Kuluhun, titik yang dianggap rawan bentrokan antara kelompok prointegrasi dan prokemerdekaan. Sore itu bentrokan benar-benar terjadi. Tembakan senjata api, panah, dan senjata rakitan bersahutan. Para wartawan berlarian menyelamatkan diri.

Saat hendak menjauh, Kornelis yang menuangkan pengalamannya lewat artikel ”Insiden di Dili, Kala Pena Wartawan di Ujung Laras Senjata” (Kompas.id, 24 Mei 2024) teringat sepeda motor yang diparkir di dekat konvoi milisi. Motor itu baru ia beli untuk menunjang pekerjaannya sebagai calon koresponden Kompas. Ketika kembali ke lokasi, ia mendapati motornya sudah terbakar. Ia sempat memotret kejadian itu, tetapi tindakannya menarik perhatian milisi yang kemudian menuduhnya sebagai ”wartawan kemerdekaan”.

Wartawan Kompas Kornelis Kewa Ama duduk di atas sepeda motor Yamaha Kristal di rumahnya di Dili, Januari 1999, sebelum kendaraan itu dibakar kelompok prointegrasi.
DOKUMEN DRG MARIA GORETY SUMIYATI
Wartawan Kompas, Kornelis Kewa Ama, duduk di atas sepeda motor Suzuki Crystal di rumahnya di Dili, Januari 1999, sebelum kendaraan itu dibakar kelompok prointegrasi.

Beberapa milisi langsung menembakinya. Serpihan peluru dari senjata rakitan mengenai wajah dan tangannya, sementara peluru senjata api menghantam rompi antipeluru yang ia kenakan. Dalam kondisi terluka, ia menjatuhkan diri ke Sungai Kuluhun yang berlumpur untuk menghindari tembakan. Para penyerang bahkan mengira ia telah tewas.

Setelah suasana mereda, Kornelis merayap keluar dari sungai dan menuju perkampungan warga prokemerdekaan. Meski awalnya dicurigai, warga akhirnya menolong dan merawat luka-lukanya. Malam itu ia berhasil mencapai Rumah Sakit Dili dan mendapat perawatan.

Keesokan harinya, Kornelis bersama istrinya dievakuasi ke Jawa dengan pesawat Hercules. Tak lama setelah itu, Dili dilanda kekerasan besar pascareferendum. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling berbahaya dalam karier Kornelis. ***(Kompas/WN-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *