Bersaksi dalam Kelemahan


“Dia hanya tokoh agama yang tidak membuatnya berhak untuk ikut campur dalam kebijakan publik. Dia seharusnya fokus memimpin Gereja. Masalah-masalah serius harus diserahkan kepada para profesional.”
Tapi jawaban Paus Leo XIV membuat semua orang hening dan tercenung. “Saya bukan sekadar tokoh agama. Saya adalah pelayan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Saya adalah saksi atas perjuangan, ketakutan dan harapan mereka.
Iman tidak pernah terpisah dari masyarakat. Iman hidup dalam komunitas kita: dalam cara kita memperlakukan orang miskin, orang yang rentan, dan mereka yang merasa tidak pernah didengarkan suaranya oleh penguasa dunia.



Para pemimpin spiritual tidak berhenti menjadi warga dunia hanya karena mereka mengenakan pakaian keagamaan” (Purwanto, 2026).
Tuhan melalui Injil yang kita dengarkan hari-hari ini menghadirkan orang-orang kecil yang dipandang rendah dan dianggap sampah oleh elite agama Yahudi tapi menjadi teladan dalam iman.
Bacaan Injil sebelumnya menghadirkan orang Farisi yang bukan berdoa tapi melaporkan keberhasilan hidup lahiriahnya kepada Tuhan sambil menghina pemungut cukai yang juga hadir dalam Bait Allah.
Pemungut cukai dianggap najis, pendosa, dan penghianat bangsa karena memeras keringat orang kecil Yahudi untuk menghidupi penjajah Romawi (Luk 18:9-14).



Perlakuan tidak adil terhadap orang miskin, sakit, menderita, rentan terlukis dalam peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Kaum Farisi menghakimi si buta sebagai orang berdoa. “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak menghakimi kami?” (Yoh 9:34).
Kelompok Farisi juga menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Sikap dangkal ini persis seperti Jubir Leavitt yang menyatakan bahwa Paus tidak berhak berbicara tentang politik dan kebijakan publik serta masalah-masalah hak asasi manusia yang rentan.
Padahal iman tidak pernah terpisah dari kehidupan sosial. Ini adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan semua murid Kristus.”
Penyembuhan orang buta justru menumbuhkan iman yang makin mendalam baginya. Orang buta itu mengungkapkan kepercayaannya bahwa Yesus adalah seorang nabi dan Anak Manusia.
Orang kecil, miskin, dan tertindas selalu menghadirkan bahasa iman yang murni dan sahaja. Iman mengajak kita percaya bahwa Tuhan dapat memakai bahkan situasi yang paling sulit sekalipun untuk menyatakan kasih dan kemuliaan-Nya.



Dalam kelemahan manusia, kuasa Tuhan justru dapat menjadi nyata. Kita dengar sabda Tuhan dalam Injil hari ini: “Orang yang buta sejak lahirnya itu bukan karena dosanya dan dosa orang tua tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9:1-3).
Penderitaan tidak selalu berarti hukuman. Kadang justru melalui penderitaan, nama Tuhan dimuliakan. Ketika seseorang mengalami penyakit berat, banyak hal bisa terjadi. Ada orang yang menjadi lebih dekat dengan Tuhan.
Ada keluarga yang lebih saling mengasihi. Ada banyak orang lain yang tersentuh dan belajar bersyukur atas hidup.
Penderitaan yang tampaknya gelap dapat menjadi tempat dimana terang Tuhan bersinar. Perjuangan banyak orang kecil dan sakit sering menjadi kesaksian iman yang kuat.
Ketika orang tidak pernah kehilangan harapan dalam salib deritanya, tetap berdoa dan tetap percaya di tengah rasa sakit, ia sebenarnya sedang memuliakan Tuhan.
Dia sedang menghadirkan cahaya bahwa iman kepada Tuhan tidak hanya hadir saat segalanya baik-baik saja tetapi juga ketika manusia berada pada titik terlemah. Kekuatan di dalam kelemahan itulah sebuah kesaksian bagi semua orang bahwa Kristus tetap setia mengasihi dan berziarah penuh pengharapan bersama kita. ***












