HUBUNGAN YANG HUBUNGAN YANG MATI
Ide homili inspiratif Minggu ke-6 Paskah, Yoh 14: 15-21
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM— Tahun 2022, saya menerima sebuah tantangan untuk menulis tentang seorang misionaris asal Indonesia yang bekerja di Argentina. Misionaris itu sebenarnya tidak berbuat hal hebat. Ia hanya menandai kehadirannya untuk memberi makna. Berbagai hal besar dilaksanakan bukan karena dirinya tetapi karena kemampuannya mendekatkan orang-orang hebat di kota itu (Puerto Esperanza) bisa bekerjasama. Dari sana terlahir sekolah pertanian dengan sistem 15 hari di asrama dan 15 hari anak kembali ke rumah untuk praktikkan pola pertanian di rumahnya.



Di level pemerintahan, ia menjadi penghubung antar DPRD dan Walikota sehingga bisa dilaksanakan aneka terobosan. Tak heran masyarakat setempat merasa bahwa kehadiran seperti itu telah memberi hidup. Mereka pun memeteraikan nama imam asal Indonesia itu sebagia nama sebuah jalan raya: Avenida Padre Amans Laka, SVD.
Kisah kecil ini tidak sengaja muncul saat saya menyusun renungan ini. Saat membaca frase berikut, saya merasa begitu nyata: “Aku di dalam Bapa-Ku, kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20). Yesus sedang berbicara tentang hubungan yang hidup—hubungan yang dekat, mendalam, dan saling menghidupi. Ketika hubungan dengan Bapa terawat dengan sungguh maka akan mengalir aneka terobosan, hal mana dilaksanakan oleh misionaris yang dikisahkan di awal.
Namun dalam kenyataannya tidak mudah menghadirkan sebuah relasi yang hidup dan menghidupkan. Kerap kita menyaksikan atau bahkan mengalami hal yang justru sebaliknya. Ada hubungan yang terlihat masih ada, tetapi sebenarnya sudah mati. Seperti tanaman yang masih tegak berdiri tetapi akarnya sudah kering. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi di dalamnya tidak ada kehidupan. Begitu pula banyak relasi manusia hari ini: masih saling menyapa, masih tinggal bersama, tetapi hati sudah jauh. Itulah yang disebut sebagai relasi yang mati. Terlihat ada relasi tetapi sebenarnya tanpa roh di dalamnya yang memberi hidup.
Bahkan dalam hubungan yang paling dekat seperti suami dan istri, kita sering menemukan kenyataan ini. Ada pasangan yang sudah hidup bersama puluhan tahun, merayakan pesta perak bahkan pesta emas perkawinan, tetapi diam-diam merasa hubungan mereka tidak lagi hangat seperti dulu. Ada komunikasi, tetapi tidak ada kedalaman. Ada kebersamaan, tetapi kehilangan jiwa.
Mengapa ini terjadi? Yesus memberikan jawabannya. Relasi menjadi mati karena apa yang diucapkan tidak dibahasakan dalam perbuatan. Sebaliknya sebuah relasi menjadi hidup bukan hanya karena kata-kata, tetapi karena kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Yesus berkata: “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.” Jadi tidak bisa sekadar mengucapkan kasih tetapi membuktikan tindakan penuh kasih. Di sana nyawa kasih itu terasa.
Kasih sejati tidak berhenti pada ucapan. Kasih harus terlihat dalam tindakan nyata: kejujuran, kesetiaan, perhatian, pengorbanan, dan tanggung jawab. Banyak orang merasa sudah percaya kepada Tuhan, tetapi belum sungguh-sungguh menjalankan apa yang dipercayainya. Kita ingin dipercaya, tetapi sering kali hidup kita sendiri membuat orang ragu untuk percaya.Iman yang hidup selalu tampak dalam tindakan. Sebab kasih yang hanya tinggal di bibir perlahan akan menjadi hubungan yang mati.
Tetapi apakah kasih yang berwujud itu hal yang mudah dilakukan? Tidak. Yesus tahu, tidak mudah menyatakan kasih dan menyatukan dengan perwujudan. Tantangan, luka, dan pergumulan sering membuat manusia lelah. Tak heran banyak orang yang telah berjuang tetapi upaya itu tidak cepat memberikan hasil. Mereka merasa sendirian, capeh, dan putus asah. Di sinilah kehadiran penolong menjadi sangat penting dan hal itu diucapkan Yesus: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Yoh 14:16)
Roh Kudus hadir sebagai sahabat, penghibur, dan penuntun. Ketika hidup terasa berat, ketika hati bingung dan kehilangan arah, Tuhan tidak tinggal diam. Ia hadir mendampingi. Mungkin tidak selalu lewat mukjizat besar, tetapi lewat cara-cara sederhana yang sering tidak kita sadari.
Lalu bagaimana kita menyadari kehadiran Penolong dalam hidup kita? Di sini Tuhan mau tekankan bahwa ada peralihan dari pemahaman tentang kehadiran secara fisik Tuhan kepada kehadiran secara rohaniah. Ketika mengalami pergolakan dalam hidup kita seriang berdoa menghadapkan adanya mukjizat seketika itu juga. Ketika mukjizat itu tidak datang secepat yang kita harapkan, kita lalu menjadi putus asah. Justru Tuhan membuka mata kita untuk melihat kehadiran secara rohaniah melalui kehadiran sesamam lewat sapaan kecil yang menguatkan. Lewat tangan yang menolong tanpa diminta. Lewat perhatian sederhana di saat kita merasa sendirian. Tuhan bekerja diam-diam melalui kasih manusia.
Inilah relasi-relasi kecil yang memberi hidup, sebuah relasi yang asli dan tidak dibuat-buat atau sekadar dibesar-besarkan. Karena itu, relasi yang hidup bukan sekadar hubungan formal atau basa-basi sosial. Relasi yang hidup lahir dari hati yang terbuka. Dari kesediaan untuk memahami luka, pergumulan, dan kebutuhan orang lain. Dalam hubungan seperti itu, manusia bukan hanya bertemu sesamanya, tetapi juga mengalami kehadiran Tuhan sendiri.
Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi egoisme, kepura-puraan, kebencian, dan sikap tidak peduli, hidup menjadi dingin. Wajah Tuhan perlahan menjadi kabur dalam kehidupan manusia dan relasi itu menjadi mati.
Hari ini Yesus mengajak kita memeriksa kembali relasi-relasi dalam hidup kita. Apakah hubungan kita masih hidup? Atau kah sebenarnya sudah lama kering tanpa kita sadari? Jangan sampai kita hanya mempertahankan bentuk hubungan, tetapi kehilangan isi dan jiwanya. Sebab Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar hidup berdampingan, melainkan untuk saling menghidupi. Dan ketika kasih sungguh dihidupi, di situlah Tuhan tinggal di dalam kita.
Robert Bala. Penulis buku JALAN SAMBIL BERJALAN, Inspirasi, Hidup, dan Karya P. Amans Laka SVD. Misionaris SVD asal Indonesia di Argentina dan diabadikan menjadi nama jalan raya di Argentina.2, saya menerima sebuah tantangan untuk menulis tentang seorang misionaris asal Indonesia yang bekerja di Argentina. Misionaris itu sebenarnya tidak berbuat hal hebat. Ia hanya menandai kehadirannya untuk memberi makna. Berbagai hal besar dilaksanakan bukan karena dirinya tetapi karena kemampuannya mendekatkan orang-orang hebat di kota itu (Puerto Esperanza) bisa bekerjasama. Dari sana terlahir sekolah pertanian dengan sistem 15 hari di asrama dan 15 hari anak kembali ke rumah untuk praktikkan pola pertanian di rumahnya.
Di level pemerintahan, ia menjadi penghubung antar DPRD dan Walikota sehingga bisa dilaksanakan aneka terobosan. Tak heran masyarakat setempat merasa bahwa kehadiran seperti itu telah memberi hidup. Mereka pun memeteraikan nama imam asal Indonesia itu sebagia nama sebuah jalan raya: Avenida Padre Amans Laka, SVD.
Kisah kecil ini tidak sengaja muncul saat saya menyusun renungan ini. Saat membaca frase berikut, saya merasa begitu nyata: “Aku di dalam Bapa-Ku, kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20). Yesus sedang berbicara tentang hubungan yang hidup—hubungan yang dekat, mendalam, dan saling menghidupi. Ketika hubungan dengan Bapa terawat dengan sungguh maka akan mengalir aneka terobosan, hal mana dilaksanakan oleh misionaris yang dikisahkan di awal.
Namun dalam kenyataannya tidak mudah menghadirkan sebuah relasi yang hidup dan menghidupkan. Kerap kita menyaksikan atau bahkan mengalami hal yang justru sebaliknya. Ada hubungan yang terlihat masih ada, tetapi sebenarnya sudah mati. Seperti tanaman yang masih tegak berdiri tetapi akarnya sudah kering. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi di dalamnya tidak ada kehidupan. Begitu pula banyak relasi manusia hari ini: masih saling menyapa, masih tinggal bersama, tetapi hati sudah jauh. Itulah yang disebut sebagai relasi yang mati. Terlihat ada relasi tetapi sebenarnya tanpa roh di dalamnya yang memberi hidup.
Bahkan dalam hubungan yang paling dekat seperti suami dan istri, kita sering menemukan kenyataan ini. Ada pasangan yang sudah hidup bersama puluhan tahun, merayakan pesta perak bahkan pesta emas perkawinan, tetapi diam-diam merasa hubungan mereka tidak lagi hangat seperti dulu. Ada komunikasi, tetapi tidak ada kedalaman. Ada kebersamaan, tetapi kehilangan jiwa.
Mengapa ini terjadi? Yesus memberikan jawabannya. Relasi menjadi mati karena apa yang diucapkan tidak dibahasakan dalam perbuatan. Sebaliknya sebuah relasi menjadi hidup bukan hanya karena kata-kata, tetapi karena kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Yesus berkata: “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.” Jadi tidak bisa sekadar mengucapkan kasih tetapi membuktikan tindakan penuh kasih. Di sana nyawa kasih itu terasa.
Kasih sejati tidak berhenti pada ucapan. Kasih harus terlihat dalam tindakan nyata: kejujuran, kesetiaan, perhatian, pengorbanan, dan tanggung jawab. Banyak orang merasa sudah percaya kepada Tuhan, tetapi belum sungguh-sungguh menjalankan apa yang dipercayainya. Kita ingin dipercaya, tetapi sering kali hidup kita sendiri membuat orang ragu untuk percaya.Iman yang hidup selalu tampak dalam tindakan. Sebab kasih yang hanya tinggal di bibir perlahan akan menjadi hubungan yang mati.
Tetapi apakah kasih yang berwujud itu hal yang mudah dilakukan? Tidak. Yesus tahu, tidak mudah menyatakan kasih dan menyatukan dengan perwujudan. Tantangan, luka, dan pergumulan sering membuat manusia lelah. Tak heran banyak orang yang telah berjuang tetapi upaya itu tidak cepat memberikan hasil. Mereka merasa sendirian, capeh, dan putus asah. Di sinilah kehadiran penolong menjadi sangat penting dan hal itu diucapkan Yesus: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Yoh 14:16)
Roh Kudus hadir sebagai sahabat, penghibur, dan penuntun. Ketika hidup terasa berat, ketika hati bingung dan kehilangan arah, Tuhan tidak tinggal diam. Ia hadir mendampingi. Mungkin tidak selalu lewat mukjizat besar, tetapi lewat cara-cara sederhana yang sering tidak kita sadari.
Lalu bagaimana kita menyadari kehadiran Penolong dalam hidup kita? Di sini Tuhan mau tekankan bahwa ada peralihan dari pemahaman tentang kehadiran secara fisik Tuhan kepada kehadiran secara rohaniah. Ketika mengalami pergolakan dalam hidup kita seriang berdoa menghadapkan adanya mukjizat seketika itu juga. Ketika mukjizat itu tidak datang secepat yang kita harapkan, kita lalu menjadi putus asah. Justru Tuhan membuka mata kita untuk melihat kehadiran secara rohaniah melalui kehadiran sesamam lewat sapaan kecil yang menguatkan. Lewat tangan yang menolong tanpa diminta. Lewat perhatian sederhana di saat kita merasa sendirian. Tuhan bekerja diam-diam melalui kasih manusia.
Inilah relasi-relasi kecil yang memberi hidup, sebuah relasi yang asli dan tidak dibuat-buat atau sekadar dibesar-besarkan. Karena itu, relasi yang hidup bukan sekadar hubungan formal atau basa-basi sosial. Relasi yang hidup lahir dari hati yang terbuka. Dari kesediaan untuk memahami luka, pergumulan, dan kebutuhan orang lain. Dalam hubungan seperti itu, manusia bukan hanya bertemu sesamanya, tetapi juga mengalami kehadiran Tuhan sendiri.
Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi egoisme, kepura-puraan, kebencian, dan sikap tidak peduli, hidup menjadi dingin. Wajah Tuhan perlahan menjadi kabur dalam kehidupan manusia dan relasi itu menjadi mati.
Hari ini Yesus mengajak kita memeriksa kembali relasi-relasi dalam hidup kita. Apakah hubungan kita masih hidup? Atau kah sebenarnya sudah lama kering tanpa kita sadari? Jangan sampai kita hanya mempertahankan bentuk hubungan, tetapi kehilangan isi dan jiwanya. Sebab Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar hidup berdampingan, melainkan untuk saling menghidupi. Dan ketika kasih sungguh dihidupi, di situlah Tuhan tinggal di dalam kita.
Robert Bala. Penulis buku JALAN SAMBIL BERJALAN, Inspirasi, Hidup, dan Karya P. Amans Laka SVD. Misionaris SVD asal Indonesia di Argentina dan diabadikan menjadi nama jalan raya di Argentina.












