MENGUTUS YANG MASIH RAGU
Ide Inspiratif Homili KENAIKAN TUHAN Kamis 14 Mei 2026 dari Injil Matius 28: 16 – 20
Oleh : Robert Bala

WARTA-NUSANTARA.COM— Sering kali kita berpikir bahwa melayani Tuhan harus menunggu diri menjadi sempurna terlebih dahulu. Kita merasa belum pantas karena doa kita masih naik turun. Kita merasa terlalu lemah karena masih jatuh dalam kesalahan yang sama. Ada juga yang diam-diam merasa kosong: datang ke gereja, tetapi hati terasa jauh dari Tuhan.



Keyakinan akan hal ini sering kita gunakan sebagai ‘senjata’ untuk menghindar. Juga bisa kita gunakan sebagai pembeanaran diri. Ada alasan yang cukup untuk mengatkaan hal berikut:
“Tuhan, saya masih takut.”
“Tuhan, saya belum siap.”
“Tuhan, saya tidak sehebat orang lain.”
“Tuhan, lain kali baru saya ambil tetapi bukan sekarang”.
Tidak hanya yang muda. Bahkan yang sudah tua dan pensiun pun melihat usia sebagai penghambat. Tetapi justru di usia senja itu mestinya ia lebih berbuah.
Namun Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang indah: Yesus tidak menunggu murid yang sempurna. Ia justru berjalan bersama mereka yang sedang berjuang untuk percaya. Hari ini Yesus tidak menyuruh pergi orang (pergilah) untuk membaptis dan mengajarkan orang-orang yang sempurna tetapi justru mereka yang masih ragu.
Mengapa Yesus memberikan tugas ini kepada orang yang masih ragu? Karena bagi Yesus, keraguan ternyata bukan akhir dari iman. Kadang keraguan adalah pintu menuju kedewasaan rohani. Orang yang sungguh beriman bukanlah orang yang tidak pernah goyah, tetapi orang yang tetap datang kepada Tuhan meski hatinya sedang gelisah.
Dalam puluhan kali mengadakan pelatihan prodiakon untuk berkhotbah di berbagai paroki di Jabodetabek dan menanggapi kekuatiran dan keraguan membawakan renungan (homili), saya hanya menjawab dengan meimjam kata-kata dari pembawa acara TV dan Radio yang sangat hebat di AS, Larry King. Menurutnya, kalau kita gugup dan ragu, maka itu tanda bahwa kita peduli. Kita menghargai pendengar dan kita terdorong untuk memberikan yang terbaik.
Hal ini bisa membantu untuk kita memahami situasi para murid. Di sebuah bukit di Galilea, sebelas murid berdiri memandang Yesus yang bangkit. Mereka pernah berjalan bersama-Nya, makan bersama-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, bahkan melihat salib dan kubur yang kosong. Namun Injil Matius menulis sesuatu yang sangat manusiawi: “Beberapa orang ragu-ragu.”
Kalimat itu terasa jujur. Sangat dekat dengan kehidupan kita. Ternyata orang yang pernah hidup dekat dengan Yesus pun masih memiliki keraguan. Mereka bukan malaikat. Mereka manusia biasa. Ada luka, ketakutan, kebimbangan, dan pertanyaan dalam hati mereka.
Mungkin itulah sebabnya Injil ini terasa hidup. Karena Tuhan tidak hanya hadir untuk orang yang imannya sempurna. Tuhan datang juga kepada mereka yang masih tertatih percaya.
Yang menarik, Yesus tidak marah kepada murid-murid yang ragu itu. Ia tidak berkata, “Kalau kalian masih bimbang, kalian tidak layak.” Sebaliknya, justru kepada murid-murid seperti itulah Yesus memberikan perutusan terbesar: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”
Ini sungguh mengejutkan. Yesus mempercayakan misi besar kepada manusia yang belum sempurna. Kepada orang-orang yang masih takut. Kepada hati yang kadang goyah.
Inilah kekuatan Injil. Tuhan tidak bekerja melalui manusia sempurna, tetapi melalui manusia yang bersedia membuka hati. Sejarah Gereja dibangun bukan oleh orang-orang tanpa kelemahan, melainkan oleh mereka yang mau berjalan bersama Tuhan di tengah ketidaksempurnaan mereka.
Karena itu jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai mengasihi, melayani, atau menjadi saksi iman. Jangan menunggu doa selalu khusyuk untuk datang kepada Tuhan. Jangan menunggu hati tanpa keraguan untuk melangkah. Sebab mungkin justru di tengah keraguan itu Tuhan sedang bekerja paling dalam.
Dan hari ini Yesus kembali mengingatkan kita: “Ya, Aku tahu engkau masih takut. Aku tahu imanmu kadang goyah. Tetapi Aku tetap memanggilmu.” Karena sesungguhnya, Yesus tidak mencari murid yang sempurna, tetapi hati yang bersedia.
Karena itu betapa berbeda rasanya bagi kita yang merasa diri masih ragu dan tak pantas tetapi hari ini mendengarkan kata-kata ini:
“Pergilah.”
“Baptislah”
“Ajarkanlah”
Inilah tugas yang diturunkan Yesus saat naik ke Surga. Ia naik membawa keraguan kita tetapi saat yang sama Ia menurunkan tugas mulai. Lebih lagi Ia tidak membiarkan kita berjalan sendirian tetapi menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jadi, marilah kita bersyukur karena Ias menugaskan kita yang masih ragu.
Robert Bala. Penulis buku BERBUAH DI USIA SENJA Penerbit Kanisius Yogyakarta, Cetakan ke-2.












