Langit Lembata Berduka: Senyum dan Kata Nasabahama Abadi Bersama Kakan Menhaj Lembata
LEMBATA : WARTA-NUSANTARA.COM— Langit malam itu seolah turut mendung dan berduka. Tepat pukul 19.17 WITA, keheningan malam di Kabupaten Lembata tiba-tiba pecah. Bukan oleh suara panggilan kerja atau pengumuman rutin, melainkan oleh dering notifikasi yang bergetar dingin di gawai ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama. Sebuah pesan audio singkat beredar di grup percakapan internal. Suaranya berat, terbata-bata, dan sarat beban yang tak tertahankan.



“Innalillahi wainna ilaihi rajiun…”
Kalimat suci itu menggema, diikuti kabar yang membuat napas semua yang membacanya serentak tercekat, dada terasa sesak, dan mata mulai kabur oleh air mata. Sadikin Arkian, S.Ag., Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kakanmenhaj) Kabupaten Lembata, telah tiada.
Bagi kami, rekan kerja, sahabat, dan keluarga besar Kemenag Lembata, kabar itu terasa seperti mimpi buruk yang nyata. “Benarkah ini terjadi?” batin kami bertanya, berharap ini sekadar kabar bohong atau salah paham. Sosok yang kami kenal sebagai abang, kakak, sekaligus ayah bagi banyak pegawai di kantor; sosok yang paling santun, paling ramah, dan selalu mampu mencairkan suasana tegang dengan humor khasnya yang hangat, tiba-tiba dikabarkan “pergi” untuk selamanya.
Ponsel kami terus bergetar, bukan karena pesan pekerjaan, melainkan karena aliran belasungkawa yang datang dari setiap penjuru. Ada yang masih ragu dan berharap ini hanya berita palsu, namun kenyataan pahit itu akhirnya harus diterima. Air mata pun tumpah, membasahi pipi yang hanya beberapa jam sebelumnya masih sibuk dengan urusan kedinasan, kini berubah basah oleh duka yang mendalam.
Di tengah kepedihan yang menyelimuti hati, ingatan kami terseret mundur, membawa kenangan tepat tiga minggu yang lalu — momen yang kini terasa begitu berharga dan penuh makna.
18 April 2026. Pantai Wisata Hadakewa.
Angin laut berhembus lembut sore itu, menyapa wajah-wajah yang terasa lelah setelah seharian duduk membahas rencana dan sinergi antar-kementerian. Di sana, di bawah langit senja Lembata yang indah, Abang Sadikin berdiri tegak. Ia tersenyum — senyum ramah yang kini telah berubah menjadi kenangan abadi. Ia berbicara dengan semangat tentang pentingnya pertemuan tersebut, tentang bagaimana kedua kementerian harus bergandengan tangan untuk melayani umat dengan lebih baik.
Namun, ada satu kalimat yang ia ucapkan hari itu, yang kini terngiang-ngiang di telinga kami seperti pesan wasiat terakhir yang menusuk hati yang sedang berdarah.
“Penting adanya nasabahama,” ujarnya pelan namun tegas, matanya menatap seluruh hadirin dengan ketulusan yang luar biasa. “Yaitu silaturahmi yang tidak boleh berhenti sampai di sini. Meskipun perpisahan adalah hal yang pasti dalam hidup, ikatan hati kita sebagai saudara harus tetap terjalin, erat dan tak terputus.”
Saat itu kami hanya mengangguk setuju, tanpa ada sedikit pun firasat bahwa kata-kata “perpisahan yang pasti” itu akan datang begitu cepat. Ia pergi tanpa aba-aba, tanpa memberi kesempatan kami untuk berpamitan, dan tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan secara layak.
Kini, kata-katanya tentang nasabahama — silaturahmi yang tak putus — terasa begitu ironis namun sekaligus menjadi penawar hati. Ia telah pergi meninggalkan raganya, namun ia mengajarkan kami satu hal yang abadi: cinta, persaudaraan, dan nilai kebaikan tidak akan mati meski jasad telah tiada.
Dalam keheningan malam yang penuh tangis itu, suara lirih hati kami bergema menggunakan bahasa ibu, bahasa tanah leluhur yang sangat ia cintai:
“Mo maik we, alap teti nabe serah soron tai marin tabe aku… Ama Sadikin pana maan sare sare mai kerung alapen teti, ele aku te pelate kirin aku tegarara pana peken kame di bedela.”
(Mengapa engkau pergi, meninggalkan kami yang masih membutuhkanmu… Bapak Sadikin pergi begitu saja meninggalkan kami, membuat kami terasa hancur dan sepi, seolah tubuh kami terbelah dua karena kehilangan.)
Rasanya sakit sekali, Abang. Mengapa engkau diambil begitu cepat? Engkau meninggalkan luka rindu yang mendalam bagi kami semua.
Berita yang kami terima menyebutkan, Almarhum Sadikin Arkian meninggal dunia di Hotel Swet Bell Surabaya, Jawa Timur, akibat sakit yang dideritanya. Kepergiannya bukan di masa istirahat, melainkan saat sedang menjalankan tugas negara: mendampingi dan mengantar jamaah haji asal Kabupaten Lembata dalam rangka persiapan keberangkatan ke Tanah Suci. Ia berpulang saat masih mengemban amanah melayani umat, sebuah akhir hidup yang memuliakan dedikasinya selama ini.
Berbagai ucapan belasungkawa terus mengalir, datang dari pejabat, rekan kerja, masyarakat luas, hingga keluarga besar jamaah haji Lembata. Semua merasakan kehilangan sosok yang baik, rendah hati, dan berdedikasi tinggi.
Menanggapi banyaknya doa dan dukungan yang masuk, pihak keluarga dan rekan-rekan di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Lembata menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kepada Bapak/Ibu, Saudara sekalian, Ina dan Ama semuanya, kami sampaikan terima kasih yang tulus atas dukungan dan doa yang Bapak/Ibu berikan,” demikian pernyataan dari pihak keluarga.
Dijelaskan pula, jenazah Almarhum Sadikin Arkian Lamau akan diberangkatkan dari Surabaya menuju Kupang dan selanjutnya ke Lembata menggunakan penerbangan Lion Air, hari ini, Selasa, pukul 11.00 Wita. Jenazah akan didampingi oleh rekan dekatnya, Bapak Samiun dari Kantor Kemenhaj Lembata.
Keluarga besar Kemenag Lembata juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Iren Suciadi, Asisten I Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata. Beliau telah mendampingi Almarhum sejak awal keberangkatan, menemani perjalanan jamaah haji, dan dengan tulus membantu mengurus segala keperluan Almarhum hingga di Rumah Sakit Islam Surabaya sampai selesai pada Senin malam kemarin. Saat ini, segala proses administrasi dan persiapan pemulangan jenazah ke kampung halaman sedang berjalan lancar.
Kehadiran Almarhum Sadikin Arkian selama ini sangat dirasakan manfaatnya. Ia bukan hanya seorang pemimpin, tapi sosok yang menyatukan hati. Kepergiannya tidak hanya kehilangan bagi keluarga dekat atau pegawai kantor, tetapi menjadi duka mendalam bagi seluruh masyarakat Lembata, khususnya keluarga besar jamaah haji yang selama ini ia layani dengan sepenuh hati.
Selamat jalan, Orang Baik. Selamat jalan, Pemimpin yang Rendah Hati. Senyum dan candamu mungkin telah redup, namun cahaya nasabahama — ikatan persaudaraan yang kau tanamkan di Pantai Hadakewa tempo hari — akan terus menyala dan menerangi langkah kami yang tertinggal.
Terima kasih atas segala pengabdian, kebaikan, dan kasih sayang yang kau beri. Tenanglah di sana, Abang. Jasamu abadi di hati kami semua. ***(
Laporan Rifai Mukin, dari Kantor Kemeterian Agama Lewoleba , Kabupaten Lembata/RAM)












