Di Balik “Bahasa Alien”: Analisis Linguistik dalam Idiolek Isyana Sarasvati Oleh : Zefanya Chrisantya Ningrum Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta WARTA-NUSANTARA.COM— Dalam dunia linguistik, bahasa dipandang sebagai fenomena yang bersifat multidimensional, yaitu memiliki banyak dimensi yang memungkinkan pengkajiannya dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman cara pengkajian ini melahirkan berbagai cabang linguistik, mulai dari yang bersifat mikrolinguistik (kajian unsur internal) hingga interdisipliner (kajian unsur eksternal yang melibatkan ilmu lain). Salah satu fenomena kebahasaan yang unik dan menarik untuk dibedah adalah “bahasa alien” atau “Kamus Besar Bahasa Isyana” yang kerap dilontarkan oleh musisi Isyana Sarasvati saat berinteraksi di ruang publik, sebagaimana terekam dalam podcast bersama Raditya Dika. Sekilas, ujaran spontan seperti “Piu” yang berarti “banget” atau istilah “Drigana” mungkin dianggap tidak bermakna karena tidak tercantum dalam kamus bahasa Indonesia baku. Namun, jika dibedah melalui cabang-cabang linguistik, fenomena ini sejatinya merupakan manifestasi kreativitas manusia dalam mengelola bunyi dan makna. Membedah Bunyi sebagai Unsur Internal Dalam ranah mikrolinguistik, fonologi didefinisikan sebagai cabang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. Fonologi memiliki dua ranting ilmu, yakni fonetik yang meneliti bunyi bahasa atau fona dari sisi cara pengucapannya, serta fonemik yang meneliti fonem. Sebagai mikrolinguistik, fonologi mengkaji unsur internal pembentuk bahasa. Dalam kasus Isyana Sarasvati, bunyi-bunyi unik yang ia hasilkan sejatinya adalah fona. Fonetik meneliti perihal cara pengucapan bunyi, serta fungsi dan cara kerja alat bicara. Ketika Isyana memproduksi bunyi-bunyi “alien” tersebut, ia secara sadar menggunakan alat ucapnya untuk memanipulasi intonasi, nada, dan ritme. Isyana memiliki kontrol yang sangat terlatih atas alat bicaranya. Contohnya, ia membedakan “Yamitri” untuk dingin dan “Yamiri” untuk panas. Meskipun bunyi-bunyi tersebut tidak membentuk morfem yang memiliki makna leksikal dalam kamus, mereka tetap dikategorikan sebagai bunyi bahasa karena diproduksi oleh manusia dengan pola-pola artikulasi yang terkontrol. Analisis fonologi ini membantu kita memahami bahwa “bahasa alien” Isyana bukanlah sekadar kebisingan, melainkan sebuah bentuk eksperimentasi fona yang terstruktur secara fonetik. Bahasa sebagai Tindak Tutur Jika fonologi mengkaji bentuk, maka pragmatik mengkaji penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan penutur. Materi linguistik menjelaskan bahwa dalam pragmatik, penggunaan bahasa tidak hanya dipandang sebagai deretan kata, melainkan sebagai tindakan atau perbuatan yang disebut tindak tutur (speech acts). Ketika Isyana melontarkan jargon seperti “Drigandus” atau “Piu,” ia tidak sedang berusaha menyampaikan informasi faktual kepada audiens luas, melainkan sedang melakukan tindak tutur untuk mencapai tujuan tertentu. Isyana menjelaskan bahwa bahasa ciptaannya tersebut diciptakan sebagai alat komunikasi khusus untuk dirinya, suaminya, dan keluarga terdekat. Secara pragmatis, ini berfungsi sebagai sarana untuk menunjukkan keakraban (intimacy) dan membangun kedekatan emosional. Di sini, bahasa bukan lagi soal kebenaran leksikal, melainkan alat untuk merawat hubungan interpersonal. Penggunaan bahasa yang unik ini menjadi “pelumas sosial” yang mempererat ikatan antara penutur dan lawan bicara dalam ruang komunikasi yang sangat privat, sekaligus menunjukkan sopan santun berbahasa yang bersifat eksklusif. Identitas dan Kognisi Selain pragmatik, sosiolinguistik memberikan perspektif tentang bagaimana bahasa membentuk “masyarakat bahasa”. Isyana secara tidak langsung menciptakan batasan in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok luar). Hanya orang-orang tertentu, seperti suaminya, yang memahami kerumitan bahasa tersebut, sementara pihak lain hanya mengetahui istilah-istilah dasar. Dari sisi psikolinguistik, cabang yang mengkaji proses kognitif berbahasa, kemampuan Isyana memproduksi tuturan ini secara on-the-spot merupakan proses kognitif tingkat tinggi, meliputi pemahaman dan pemroduksian tuturan. Setelah menjalin hubungan selama 17 tahun, “rumus” bahasa tersebut telah terinternalisasi dalam kognisi mereka. Ini menunjukkan bahwa pemroduksian tuturan tidak selalu bersifat statis atau mengikuti aturan kamus, tetapi dapat beradaptasi secara dinamis mengikuti kebutuhan kognitif dan sosial penuturnya. Kesimpulan Fenomena “bahasa” Isyana Sarasvati membuktikan bahwa bahasa adalah sistem yang hidup dan multidimensional. Melalui analisis fonologi, kita memahami bahwa bunyibunyi tersebut memiliki dasar fisik sebagai fona. Sementara itu, melalui analisis pragmatik, kita memahami bahwa tuturan tersebut memiliki fungsi ilokusi yang kuat sebagai tindak tutur untuk membangun jembatan sosial yang intim. Dengan menggabungkan pendekatan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa tidak melulu soal kesepakatan makna dalam kamus, tetapi tentang bagaimana manusia—sebagai penutur yang kreatif—mengelola bunyi dan tindakan untuk mengekspresikan diri serta berinteraksi secara autentik dalam konteks sosial yang dinamis. *** Zefanya Chrisantya Ningrum, Penulis adalah Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Post Views: 20 Navigasi pos Pemendekan Kata dalam Komunikasi Digital: Kajian Morfologi pada Bahasa Chat Generasi Z