TAKUT ITU MANUSIAWI “Janganlah kamu takut.” (Mat. 10:26-33). Homili Inspiratif Minggu 14 Junib2026 Oleh : Robert Bala WARTA-NUSANTARA.COM— Ada satu kalimat yang diulang Yesus sampai tiga kali dalam Injil hari ini: “Janganlah kamu takut.” Ketika seseorang mengulangi sebuah pesan berkali-kali, biasanya itu karena pesan tersebut sangat penting. Dan Yesus tahu bahwa salah satu pergumulan terbesar manusia sepanjang zaman adalah rasa takut. Takut itu manusiawi. Bahkan orang yang paling beriman sekalipun pernah mengalaminya. Mungkin saat ini kita pun sedang memikul ketakutan-ketakutan tertentu. Ada yang takut menghadapi masa depan yang belum jelas. Ada yang takut kehilangan pekerjaan. Ada yang takut sakit, gagal, ditolak, atau tidak dihargai. Ada pula yang diam-diam takut menghadapi kesepian dan kematian. Karena itu Yesus tidak pernah menyalahkan para murid karena mereka takut. Ia juga tidak meminta mereka berpura-pura menjadi pemberani. Yesus memahami apa yang mereka rasakan. Para murid yang diutus untuk mewartakan Injil akan menghadapi penolakan, ancaman, bahkan penganiayaan. Mereka memiliki banyak alasan untuk merasa cemas. Namun Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat penting: takut itu wajar, tetapi jangan biarkan ketakutan menguasai hidupmu. Masalahnya bukan pada rasa takut itu sendiri. Masalah muncul ketika ketakutan mengambil alih hati kita, mengendalikan pikiran kita, dan menentukan semua keputusan kita. Ketika seseorang hidup dalam ketakutan terus-menerus, ia kehilangan keberanian untuk mencintai, melayani, bermimpi, dan melangkah maju. Karena itu Yesus tidak hanya berkata, “Jangan takut,” tetapi juga memberikan alasannya. Ia mengingatkan para murid tentang kasih dan pemeliharaan Allah. Bahkan burung pipit yang kecil dan tampaknya tidak berharga pun tidak pernah luput dari perhatian Bapa di surga. Lalu Yesus menambahkan sebuah kalimat yang sangat indah: “Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya.”Apa artinya? Artinya, Allah memperhatikan hidup kita dengan kasih yang sangat teliti. Ia tidak hanya hadir dalam peristiwa-peristiwa besar hidup kita. Ia juga hadir dalam hal-hal kecil yang sering tidak diperhatikan oleh siapa pun. Tidak ada air mata yang tidak dilihat-Nya. Tidak ada pergumulan yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada doa yang hilang tanpa didengar-Nya. Sering kali ketakutan muncul karena kita merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Kita ingin mengendalikan segala sesuatu, padahal banyak hal berada di luar kemampuan kita. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, ketika masa depan terasa kabur, atau ketika masalah datang bertubi-tubi, kita mulai merasa kehilangan pegangan. Di sinilah iman menemukan maknanya. Iman bukanlah keyakinan bahwa hidup akan selalu mudah. Iman adalah kepercayaan bahwa Tuhan hadir bahkan ketika hidup tidak mudah. Orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah takut. Orang beriman adalah orang yang tetap melangkah meskipun ada rasa takut, karena ia percaya bahwa Tuhan berjalan bersamanya. Abraham pernah takut. Musa pernah takut. Nabi Elia pernah takut. Para rasul pun pernah takut. Namun mereka tidak berhenti pada ketakutan itu. Mereka belajar mempercayakan hidup mereka kepada Tuhan dan menemukan keberanian untuk terus melangkah. Maka Injil hari ini mengajak kita menyadari bahwa ketakutan memang nyata, tetapi kasih Allah jauh lebih nyata. Ketakutan memang ada, tetapi ada sesuatu yang lebih besar daripada ketakutan, yaitu kepercayaan kepada Tuhan. Mungkin hari ini kita sedang membawa beban tertentu: masalah keluarga, kesehatan, pekerjaan, ekonomi, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Tuhan tidak meminta kita menyangkal ketakutan itu. Ia hanya mengundang kita untuk tidak menjadikannya sebagai penguasa hidup kita. Marilah kita mengingat kembali kata-kata Yesus: “Janganlah kamu takut.” Bukan karena hidup akan selalu berjalan mulus, melainkan karena kita tidak pernah berjalan sendirian. Ada Bapa yang mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri. Ada kasih Allah yang begitu teliti hingga rambut di kepala kita pun terhitung semuanya. Ada sebuah kisah sederhana. Seorang anak kecil berjalan bersama ayahnya pada malam hari. Jalan yang mereka lalui gelap dan sepi. Anak itu bertanya dengan cemas, “Ayah, apakah kita aman?” Sang ayah tersenyum dan berkata, “Peganglah tanganku.” Kegelapan tidak berubah. Jalan tetap sepi. Namun ketakutan anak itu perlahan menghilang karena ia tahu siapa yang menggenggam tangannya. Begitulah hidup kita. Kadang masalah tidak langsung pergi. Situasi tidak langsung berubah. Namun ketika kita percaya bahwa Tuhan sedang menggenggam tangan kita, ketakutan perlahan berubah menjadi harapan. Dan harapan itulah yang membuat kita terus melangkah. Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP. Pengalaman Kecil, Sarat Makna. Penerbit Kanisius Jogjakarta Post Views: 16 Navigasi pos Kemenag Lembata: Sertifikasi Halal Bukan Beban, Tapi Jaminan Kepastian Hukum dan Akses Pasar Global