Prodi Tekpang UNWIRA Belajar Olah Pangan Secara Arif KUPANG : WARTA-NUSANTARA.COM–– Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Tekpang), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang diajak untuk mempelajari, mengembangkan, dan mengolah pangan lokal secara arif dengan tetap berpegang pada nilai-nilai budaya dan pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur. Ajakan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 yang menghadirkan pegiat pangan lokal, Maria Stephanie, B.Eng. (Hons.), M.Phil., pada Kamis, 11 Juni 2026. Kuliah umum bertema “Eksplorasi Pangan Lokal NTT sebagai Sumber Inovasi dan Ketahanan Pangan” yang berlangsung di Auditorium Santo Paulus UNWIRA dan disiarkan secara daring melalui Zoom tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa pangan lokal bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga berkat Tuhan yang dianugerahkan kepada masyarakat melalui kekayaan alam yang tersedia di setiap daerah. Wakil Dekan FST UNWIRA, Lodowik Landi Pote, S.Si., M.Sc., yang mewakili Dekan FST, Br. Anggelinus Nadut, SVD., M.Si., dalam sambutan pembuka kegiatan, menegaskan bahwa pangan lokal merupakan salah satu anugerah yang harus disyukuri dan dikelola secara bertanggung jawab. Menurutnya, sejak dahulu masyarakat Nusa Tenggara Timur mampu bertahan hidup karena memiliki pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi tentang cara mengenali, memanfaatkan, mengolah, dan menyimpan berbagai bahan pangan yang tersedia di alam sekitar. “Pengetahuan itu lahir dari pengalaman panjang nenek moyang yang beradaptasi dengan kondisi alam NTT yang khas. Karena itu, pangan lokal tidak hanya mengandung nilai gizi dan ekonomi, tetapi juga menyimpan nilai budaya, sejarah, dan kearifan hidup masyarakat,” ungkapnya. Maria Stephanie dalam pemaparannya menjelaskan bahwa inovasi pangan tidak boleh memutus hubungan antara masyarakat dengan akar budayanya. Menurutnya, berbagai bahan pangan lokal yang selama ini dikonsumsi masyarakat NTT merupakan hasil adaptasi panjang manusia terhadap lingkungan tempat mereka hidup. Jagung, sorgum, kacang-kacangan lokal, umbi-umbian, rempah-rempah, hingga berbagai tanaman pangan lainnya telah menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat karena mampu tumbuh dan berproduksi sesuai dengan kondisi iklim dan lingkungan NTT. “Pangan lokal adalah hasil hubungan yang harmonis antara manusia dan alam yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Karena itu, ketika kita berbicara tentang inovasi pangan, yang harus kita lakukan bukan menggantikan warisan tersebut, tetapi mengembangkannya agar tetap relevan bagi generasi masa kini,” jelas Stephanie. Alumni Food Science Centre for Nutrition and Food Sciences – QAAFI, The University of Queensland itu menekankan bahwa berbagai teknologi modern yang berkembang saat ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu, keamanan, dan nilai tambah produk pangan lokal. Namun demikian, penerapan teknologi tersebut perlu tetap menghormati nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur. Menurut Stephanie, masyarakat NTT sesungguhnya telah memiliki banyak contoh kearifan lokal dalam pengolahan pangan. Salah satunya adalah praktik Ume Kbubu yang dikenal masyarakat Mollo di Pulau Timor sebagai metode tradisional untuk menyimpan dan mengawetkan bahan pangan. Praktik seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat terdahulu telah memiliki pengetahuan ilmiah yang lahir dari pengalaman hidup mereka dalam menghadapi tantangan lingkungan. Ia menegaskan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa Teknologi Pangan, memiliki tanggung jawab untuk mempelajari pengetahuan tersebut secara ilmiah, mengembangkannya melalui penelitian, serta mengadaptasinya dengan teknologi modern tanpa menghilangkan identitas budaya yang terkandung di dalamnya. “Mahasiswa hari ini memperoleh banyak ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun mereka juga perlu tetap arif dalam memandang pangan lokal. Modernisasi bukan berarti meninggalkan warisan leluhur, tetapi menjadikan warisan tersebut semakin bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam kuliah umum tersebut Stephanie memperkenalkan berbagai inovasi pangan berbasis bahan lokal NTT, seperti bumbu penyedap dan abon cabai berbahan kacang lokal dan lombok padi, garam berbumbu, minuman kesehatan multigrain berbasis serealia dan kacang-kacangan lokal, serta jagung bose instan yang dikembangkan dengan teknologi pengolahan yang lebih praktis. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk modern tanpa kehilangan karakter dan identitas aslinya. Selain itu, ia juga mengajak peserta untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengolahan pangan. Menurutnya, seluruh proses produksi harus memperhatikan keseimbangan lingkungan karena alam merupakan sumber utama yang menyediakan bahan pangan bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan limbah pengolahan sebagai pupuk organik dan bahan pendukung kesuburan tanah menjadi salah satu contoh bagaimana pengolahan pangan dapat dilakukan secara bijaksana dan ramah lingkungan. Kuliah umum yang dipandu oleh Joanivita P. G. Soru, S.Si., M.FoodScTech. tersebut berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui berbagai pengalaman lapangan yang dibagikan, mahasiswa diajak memahami bahwa masa depan pangan NTT tidak hanya bergantung pada kemampuan menciptakan produk-produk baru, tetapi juga pada kemampuan menjaga dan menghargai warisan pengetahuan yang telah dititipkan oleh para leluhur. Bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan UNWIRA, pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya menjadi generasi yang mampu memadukan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal. Pangan lokal harus dipandang sebagai kekayaan dan berkat Tuhan yang telah teruji oleh waktu, adaptif terhadap kondisi lingkungan NTT, serta menjadi bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga keberlanjutannya. Dengan demikian, eksplorasi dan pengolahan pangan lokal tidak semata-mata bertujuan menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap alam, budaya, dan kebijaksanaan nenek moyang yang telah mewariskan pengetahuan berharga bagi generasi masa kini dan masa depan. Forum kuliah umum tersebut diwarnai pula oleh pemberian hadiah dari Maria Stephanie berupa buku yang ditulisnya terkait pengolahan pangan, kepada peserta yang mengajukan pertanyaan. Dari beberapa penanya, baik luring maupun daring, Stephanie menjatuhkan pilihan memberikan hadiah buku kepada Ignatia Stefania Nino, mahasiswi Program Studi Teknologi Pangan FST UNWIRA, semester 6*** (GDT) Post Views: 23 Navigasi pos Menteri HAM Kuliah Umum di UKAW Kupang, Dorong Penguatan Budaya HAM dan Literasi Digital di Kalangan Mahasiswa